RAPOR MERAH DI HARI PENDIDIKAN NASIONAL

Kurikulum 2013 tak mampu dibendung lagi. Protes keras AGTIKKNAS sampai ke DPR dan Gedung Kemendiknas tak menyurutkan niat merevisi keputusan yang menghapus mapel TIK dan KKPI.

KOTA VOKASI : ANUGERAH ATAU BENCANA - BAGIAN II

Kebijakan kota vokasi adalah untuk peningkatan akses dan mutu SMK yang lebih besar, serta memadukan antara pendidikan kejuruan dengan pengembangan tata kota dengan mengutamakan pengembangan sektor ekonomi wilayah kabupaten/kota (Economic Development).

KOTA VOKASI: ANUGERAH ATAU BENCANA - BAGIAN I

Kebijakan Kota Vokasi yang satu dampaknya adalah penurunan animo peserta didik (siswa/i) di sekolah menengah umum (SMA/MA) karena kecenderungan warga masyarakat umum khususnya di pedesaan lebih menginginkan putra/i-nya ikut proses belajar mengajar di SMK meningkat pesat. Juga oleh gencarnya promosi yang dilakukan para pejabat...

KARYA BAKTI UNTUK NEGERI 2014 DI KABUPATEN KEBUMEN

Komunitas SukaRelawan Palang Merah Indonesia (PMI)di media sosial ini menyelenggarakan kegiatan KARYA BAKTI untuk NEGERI (KBN) 2014 di Kabupaten Kebumen dalam rangka mewujudkan satu misi Kewirausahaan Sosial dan tujuan menguatkan upaya untuk kebaikan dan perbaikan organisasi PMI.

CELOTEH SOPIR MINIBUS GOMBONG - KEBUMEN

Perkataan sopir angkutan umum acapkali hanya dipandang sebelah mata. Kali ini sungguh luar biasa. Pengetahuan luas dan gaya bahasanya lugas. Contoh yang dikemukakan sangat masuk akal dan mengejutkan. Tiga pejabat Bupati Kebumen tak mampu selesaikan RSUD secara maksimal.

Tampilkan postingan dengan label reformasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label reformasi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 Maret 2014

Memelihara Kebodohan


Di lingkungan pergaulan kita, sering muncul ungkapan: bodoh, goblok, totol, bego, dongok, otak udang, IQ jongkok dan sebagainya. Ungkapan yang cenderung menghakimi dan menyakitkan bagi yang ditunjuk dengan kata itu meski dalam nada berseloroh.  Jika yang dituju adalah orang dekat, sahabat kental atau orang yang suka bercanda, ungkapan itu mungkin akan ditanggapi sebagai hal biasa. Bukan sesuatu yang menyakitkan perasaan. Sebaliknya bagi orang-orang yang tidak biasa menerima ungkapan seperti itu dan perasa, tanggapan bisa beragam. Jika berani membalas, ia atau mereka akan bereaksi keras. Mulai dari ungkapan dampai tindakan yang tentunya membahayakan kedua pihak. Kalau tak berani membalas seketika ini akan menjadi dendam yang mungkin saja tak ada batas akhirnya. Saling berbalas dendam. 

Pertama jadi guru, di depan para siswa yang kebanyakan perempuan, saya berucap bahwa tidak ada siswa bodoh. Yang ada itu rajin atau malas belajar. Dan belajar itu sepanjang hayat dikandung badan alias tak ada batasan umur. Semakin banyak hal yang dapat kita pelajari, semakin dalam juga kemampuan kita mengenal diri dan kehidupan di alam fana ini. 

Manusia pada dasarnya adalah pembelajar dalam arti menyukai hal-hal baru untuk diketahui dan dipahami. Dalam proses belajar, ada yang mendapat bimbingan dari orang lain baik orang tua, guru atau siapapun. Tetapi ada juga yang mencoba belajar sendiri (otodidak). Biasanya, yang mendapat bimbingan akan lebih mampu menyesuaikan diri karena berlangsung dalam suatu proses interaktif. Selain sisi kognitif, banyak sisi kemanusiaan lainnya yang akan dapat dieksplorasi sampai maksimal. Dengan kata lain, selain cerdas secara intelektual, orang-orang yang belajar dengan bimbingan orang lain (khususnya dari ahli) cenderung lebih berkemampuan memaksimalkan kecerdasan emosional dan sosialnya. 



Orang yang suka memelihara kebodohan mungkin saja cerdas secara kognitif. Tapi bernyali kecil dalam mempertahankan kebenaran dan keyakinan. Selalu mencari tempat berlindung aman dan menganggap segala urusan dan hubungan antara manusia dengan cara transaksional. Kalau perlu dengan cara mengasihani diri. Menganggap dirinya sebagai orang yang paling patut dikasihani. Dalam bahasa lugas adalah selalu minta dibelas-kasihani ketika terdesak. Dan tak pernah segan untuk berhianat (istilah lain dari membiarkan amanat berlalu tanpa makna).

Karena itu, orang yang suka memelihara kebodohan adalah orang yang enggan atau sengaja menolak fakta dan makna pengalaman hidup. Menganggap diri paling pintar atau minimal serba tahu. Sehingga menyepelekan kemampuan orang lain. Dalam keseharian kita, orang seperti ini mudah ditemui di kala keadaan normal dan formal. Ketika tiba waktu abnormal dan cenderung darurat yang memerlukan ketajaman visi serta bergerak cepat, mereka akan menghilang atau bersembunyi di balik formalitasnya. Apalagi kalau ditambah dengan keharusan mengambil risiko kehilangan sedikit dari hal yang dibanggakan/ disukai.

Di akhir catatan ini, saya ingin mengingatkan diri agar terhindar dari hal tsb di atas. Bagaimanapun juga, kita adalah anggota komunitas apapun namanya: masyarakat, bangsa, suku atau kelompok. Memelihara kebodohan hanya akan merugikan diri dalam jangka panjang. Kalau kita tidak merasakan langsung dampaknya, orang-orang terdekat (biasanya anak keturunan/ anggota keluarga) yang akan merasakan akibatnya kelak. Naudzubillahi min dzalik.

Catatan : tulisan serupa ada di sini.      

Senin, 20 Januari 2014

Antara Kucing dan Rayap - Bagian I



Tulisan ini terinspirasi oleh tulisan serupa dari blog Bumen Priben. Sang Penulis bukan orang sembarangan. Ia pernah jadi wartawan Wawasan, koran sore yang sepertinya ikut tergerus waktu dengan semakin banyaknya pilihan media online. Pernah jadi Ketua KPU Kabupaten Kebumen di masa Rustriningsih jadi bupatinya. Dan sekarang sebagai petinggi di stasiun televisi lokal, Ratih TV yang kian merana dan merintih karena Pemerintah dan DPRD Kab. Kebumen enggan memelihara kehidupan media pandang dengar ini yang begitu menggelegar di awal operasional. Dia, Kholid Anwar, sosok unik di kancah permedia-massaan yang rambutnya kian memerak entah karena banyak berpikir atau memang sudah jatahnya begitu.

Dari banyak tulisan yang sebagian besar bernada sarkastik, satu judul yang menarik adalah: Antara Wakil Rakyat dan Rayap-Mana Lebih Jahat? intinya bercerita pesimisme dirinya tentang proses politik dalam pemilu 9 April 2014 mendatang. Menurut pandangannya,  mengharap wakil rakyat yang terpilih di pemilu nanti sebagai representasi suara rakyat suara Tuhan, sama saja dengan orang berdoa sambil menenggak miras. Ya..memang ada sebagian orang memercayai teori Weber yang sangat terkenal ini. Vox populi vox dei. Bila seorang mantan Ketua KPU kabupaten saja menyimpulkan demikian, bagaimana dengan masyarakat awam ?

Dalam dunia politik, konon berlaku hukum rimba. Siapa kuat dia pemenangnya. Tak ada kawan sejati, yang ada kepentingan bersama. Meminjam istilah ekonomi, selalu ada transaksi, dari yang sederhana dan kolot semacam barter sampai yang sangat modern secara on line tanpa harus bertatap muka. 

Berdoa dan berusaha adalah upaya maksimal manusiawi. Berdoa kepada Sang Maha Pencipta, Allah SWT adalah sebuah refleksi ketidakberdayaan manusia di hadapan Khalik. Dengan berdoa, manusia berharap mendapat kemudahan jalan dalam usaha yang sedang atau akan dijalaninya. Ada adab, sopan santun atau tata cara berdoa. Yang terbaik adalah dilakukan dengan tulus ihlas, dari hati terdalam dan di segenap suasana sadar dan kepasrahan. Jika dalam berdoa sambil menenggak miras , minuman keras yang mengurangi atau bahkan menghilangkan kesadaran, bukan hanya menghalangi terkabulnya doa itu. Tapi juga mengisyaratkan ketidak-mampuan dirinya mengendalikan hawa nafsu, emosi, menunjukkan kepicikan dan seterusnya.

Foto: googling.


Menyerahkan urusan orang banyak (maslahat) kepada orang-orang seperti itu tidak hanya konyol. Juga membiarkan kerusakan berlangsung tanpa kendali atau sanksi apapun. Tidak keliru perumpaan yang dipakai adalah rayap. Binatang pengerat ini sangat dikenal memiliki kemampuan yang sulit dicegah jika telah masuk dan memakan batang kayu sekuat jati sekalipun. Pelan tapi pasti kehancuran terjadi, cepat atau lambat. Dan perilaku politisi yang menghuni lembaga-lembaga publik telah banyak membuktikannya. Tak kurang di lembaga ”super” Mahkamah Konstitusi yang menyeret Penangkapan Akil Mochtar- KPK - Cegah Ratu Atut masuk bui Komisi Pemberantasan Korupsi beberapa waktu lalu.

Akil Muhtar di KPK-foto: viva.co.id

Kasus Akil Muhtar hanya sebuah puncak kecil fenomena gunung es korupsi di lembaga-lembaga formal kenegaraan. Dengan posisinya sebagai orang pertama di sebuah superbody yang dapat membuat sebuah produk Undang-Undang tak laku atau dikoreksi pada bagian khusus, tentunya menguatkan gambaran awam bahwa tak ada lagi lembaga negara baik eksekutif, yudikatif dan khususnya legislatif yang tak ada ”rayapnya”.

Selain rayap yang banyak berkeliaran di dalam tubuh lembaga-lembaga kenegaraan itu, pemilu legislatif kali ini nampaknya juga akan banyak dihuni oleh ”kucing garong” yang tak segan melukai tuan atau orang di sekitarnya. Pepatah seperti beli kucing dalam karung adalah munculnya wajah-wajah asing lingkungan yang menyalonkan dirinya sebagai balon pileg, bakal calon pemilihan umum anggota badan legislatif. Seseorang yang tak pernah menyapa tetangga dekatnya, entah karena faktor apa atau bagaimana, tiba-tiba memajang diri dengan senyum manis berbalut baju parpol pengusungnya. Gambaran seperti ini masih lebih baik ketimbang balon pileg yang sama sekali asing alias tidak pernah dikenal lingkungan sekitar, apalagi publik.


Fenomena kucing dan rayap dalam pileg sebenarnya telah terjadi sejak dasawarsa terakhir. Munculnya artis dan public figur dari dunia hiburan maupun olahraga sebenarnya bukan hal luar biasa jika mereka telah menyiapkan diri di ”dunia keras” yang penuh intrik dan benturan kepentingan ini. Uang dan popularitas seolah menjadi alasan utama mereka terjun ke dunia politik praktis. Jadi, soal kapasitas pribadi sebagai pembawa aspirasi warga masyarakat sangat perlu dipertanyakan. Angelina Sondakh adalah satu contoh kecil ketidakberdayaan mantan Putri Indonesia yang pernah menjadi duta budaya dan pariwisata bangsa di kancah pergaulan internasional akhirnya kandas dalam kasus Hambalang. Jika seorang Angelina saja dapat terjerumus atau menjerumuskan diri dalam kubangan lumpur korupsi, kolusi dan nepotisme yang menjadi jargon Gerakan Reformasi  dengan sejumlah kasus tragis dan tak tertangani (X Files), bagaimana tidak dengan orang-orang yang latar belakangnya diragukan ? Itulah sebagian sisi carut marut negeri ini yang digerogoti ”para rayap”.