Jika para pemimpin formal dan pejabat publik melakukan kesalahan tanpa berani dan jujur mengakuinya, maka yang harus bertanggung-jawab atas hal itu adalah orang seorang tanpa menyebutnya sebagai oknum. Penyebutan oknum yang selama ini digunakan untuk menegaskan bahwa kedudukannya sebagai anggota lembaga pemerintah atau publik hanya menumbuhkan sinisme karena perbuatan yang dilakukannya sangat mungkin tidak sendirian. Singkat kata, penyederhanaan dengan mengeliminasi peran atau sebaliknya perumitan masalah dengan membawa serta kambing hitam dan/atau domba adu adalah upaya pengecut yang dari pemimpin yang ingin melarikan diri dari tanggung jawabnya. Banyak sekali contoh ini dalam kasus korupsi dan penyimpangan perilaku seksual yang dilakukan oleh para politisi dan pejabat publik dalam beberapa tahun terakhir.
Jika para pemimpin formal dan pejabat publik yang kebanyakan diisi oleh para politisi berani bertanggung-jawab atas perbuatan bawahan atau anggota organisasinya serta jujur atas kelemahan dirinya, sinisme publik yang berimbas pada menguatnya frustasi sosial akan dapat dieliminasi dan dicegah - tangkal dampak negatifnya secara dini sebelum berubah menjadi bencana. Cara yang biasa dilakukan oleh para pemimpin di negara maju peradaban dan sosialnya nampaknya kurang menarik dibanding membawa domba adu atau kambing hitam. Gambaran puitis keadaan di atas nampak pada lirik lagu di bawah ini.
Menjadi Indonesia
Malu membelenggu
Ada yang mekar serupa benalu
Tak mau temanimu
Bangun dari tidur berkepanjangan
Menyatakan mimpimu
Cuci muka biar terlihat segar
Merapikan wajahmu
Masih ada cara menjadi besar
Menjelma dan menjadi Indonesia
Ada yang runtuh, tamah ramahmu
Beda
Teraniaya
Keadaan negeri Indonesia yang semula kaya ragam budaya dan sumber daya alam kini masih digolongkan miskin ekonomi dan sosialnya. Konflik sosial dan politik seolah jadi pemandangan dan berita harian. Tak ada satupun yang mampu diselesaikan secara tuntas. Bung Karno yang diangkat sebagai Pemimpin Besar Revolusi justru jadi korban utama. Peristiwa pembunuhan massal yang dinilai melebihi kekejaman rezim Pol Pot tak pernah mampu diungkap jelas pelaku dan motifnya. Konflik politik tahun 1965 yang banyak diliputi ketidakjelaskan pihak yang paling bertanggung-jawab atas tragedi kemanusiaan itu tak pernah diselesaikan secara tuntas baik secara politik, hukum maupun sosial selain meninggalkan bekas-bekas luka yang sangat dalam bagi korbannya. Demikian pula dengan kasus 27 Juli 1996 dan kerusuhan Mei 1998. Negara dinilai tak mampu melindungi warganya. Karena pemerintah selaku penyelenggara negara hanya membela diri atas segala kesalahan yang dilakukan tanpa pernah ada permintaan maaf kepada keluarga korban serta masyarakat umum selain terus mencari kesalahan pihak lain dan menebar trauma sosial.
Ada cerita dari almarhumah ibu kandung kami tentang keluarga diaspora yang satu anggota keluarganya kini sering menjadi sorotan publik dunia. Ketika beliau dipanggil menghadap Kepala Sekolah Guru Putri (SGP) Yogyakarta yang ternyata adik kandung dr. Soetomo di awal Juli 1946, Atiatoen tak pernah menyangka akan dipilih sebagai wakil sekolah untuk mendapat latihan dasar kemiliteran di Militaire Academie (MA) Kotabaru bersama dua kakak adik dari Semarang. Namanya Retno Sriningsih dan Retno Triningsih. Hampir setengah abad kemudian, beliau baru mengetahui bahwa kedua saudara itu adalah keluarga orang terkenal. Retno Sriningsih punya anak bernama Sri Mulyani Indrawati yang kemudian dikenal sebagai dosen dan pengamat ekonomi handal dari Universitas Indonesia sebelum diangkat sebagai Menteri Keuangan pada Kabinet Indonesia Bersatu yang pertama yang dan membuat dirinya dipilih media internasioan sebagai Menteri Keuangan Terbaik se Asia serta masuk dalam jajaran 100 wanita paling berpengaruh di dunia mengalahkan popularitas Menlu AS Hillary Clinton. Setelah mundur dari jabatan sebagai Menteri Keuangan karena lebih memilih jadi Managing Director World Bank. Sementara itu, Retno Triningsih tinggal di Australia dan menjadi diaspora.
Banyak kisah lain dari beragam orang Indonesia dan asing yang mengapresiasi Indonesia karena keluhuran sejarah dan budayanya. Mereka, para diaspora Indonesia, adalah orang-orang yang (senantiasa ingin) memahami Indonesia dari sisi positifnya. Membuang jauh sinisme dan trauma sosial. Berbuat yang membawa manfaat bagi tanah leluhur, tanah air atau kampung halamannya. Mengajak orang-orang di dalam negeri agar terus berpikir positif untuk memajukan negeri serta melakukan berbagai upaya bersama untuk menyelesaikan masalah ekonomi, sosial dan budaya yang terjadi di Indonesia.
Para diaspora Indonesia membawa banyak bekal: dana, ilmu pengetahuan, ketrampilan, pengalaman serta mentalitas kelas dunia dan akses ke berbagai sumber potensial dari seluruh dunia ke kampung halaman Indonesia pada berbagai kesempatan yang satu puncaknya akan dibuktikan dalam Kongres Diaspora Indonesia (Congress of Indonesian Diaspora atau CID) ke 2 di Jakarta beberapa hari mendatang. Banyak peluang yang harus dimanfaatkan oleh kita untuk memperbaiki dan memajukan negeri Indonesia di masa-masa mendatang. Mari kita wujudkan mimpi Indonesia.










