RAPOR MERAH DI HARI PENDIDIKAN NASIONAL

Kurikulum 2013 tak mampu dibendung lagi. Protes keras AGTIKKNAS sampai ke DPR dan Gedung Kemendiknas tak menyurutkan niat merevisi keputusan yang menghapus mapel TIK dan KKPI.

KOTA VOKASI : ANUGERAH ATAU BENCANA - BAGIAN II

Kebijakan kota vokasi adalah untuk peningkatan akses dan mutu SMK yang lebih besar, serta memadukan antara pendidikan kejuruan dengan pengembangan tata kota dengan mengutamakan pengembangan sektor ekonomi wilayah kabupaten/kota (Economic Development).

KOTA VOKASI: ANUGERAH ATAU BENCANA - BAGIAN I

Kebijakan Kota Vokasi yang satu dampaknya adalah penurunan animo peserta didik (siswa/i) di sekolah menengah umum (SMA/MA) karena kecenderungan warga masyarakat umum khususnya di pedesaan lebih menginginkan putra/i-nya ikut proses belajar mengajar di SMK meningkat pesat. Juga oleh gencarnya promosi yang dilakukan para pejabat...

KARYA BAKTI UNTUK NEGERI 2014 DI KABUPATEN KEBUMEN

Komunitas SukaRelawan Palang Merah Indonesia (PMI)di media sosial ini menyelenggarakan kegiatan KARYA BAKTI untuk NEGERI (KBN) 2014 di Kabupaten Kebumen dalam rangka mewujudkan satu misi Kewirausahaan Sosial dan tujuan menguatkan upaya untuk kebaikan dan perbaikan organisasi PMI.

CELOTEH SOPIR MINIBUS GOMBONG - KEBUMEN

Perkataan sopir angkutan umum acapkali hanya dipandang sebelah mata. Kali ini sungguh luar biasa. Pengetahuan luas dan gaya bahasanya lugas. Contoh yang dikemukakan sangat masuk akal dan mengejutkan. Tiga pejabat Bupati Kebumen tak mampu selesaikan RSUD secara maksimal.

Tampilkan postingan dengan label Diaspora. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Diaspora. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Agustus 2013

Diaspora Indonesia - Sukses di Negeri Seberang

Mendagri Suriname-Soewarto Mustadja asal Kebumen

Dalam bagian sambutan pembukaan Kongres Diaspora Indonesia (CID) II di Jakarta Convention Center, Presiden RI, Susilo Bambang Yudoyono menyebut satu nama yang menginspirasi dirinya yaitu Sri Mulyani Indrawati. Sosok yang mengorbit namanya sebagai pengamat ekonomi dan Menteri Keuangan RI pada Kabinet Indonesia Bersatu jilid 1, kini merupakan orang nomor dua di Bank Dunia yang berkantor pusat di Amerika Serikat. Beliau adalah satu-satunya Indonesia yang popularitasnya pernah masuk dalam jajaran 100 perempuan paling berpengaruh di dunia.

Sosok Sri Mulyani yang begitu kokoh dapat dimaklumi karena memiliki garis keturunan dengan pelajar pejuang kemerdekaan bangsa Indonesia pasca Prokalamsi 17 Agustus 1945, yaitu Retno Sriningsih. Secara kebetulan, ibu kandung Sri Mulyani itu adalah pelajar Sekolah Guru Putri Yogyakarta yang bersama almarhum ibu kami mendapat kepercayaan dari sekolah tersebut untuk menjalani pelatihan dasar kemiliteran dan kepalangmerahan diMilitaire Academie (MA) Kotabaru Yogyakarta sekitar Juli 1946 selama dua minggu. Selain itu, ternyata saudara sekandung Retno Sriningsih yakani Retno Triningsih adalah juga peserta pelatihan yang dikhususkan bagi para pelajar setingkat SMP dan SMA yang kemudian dikenal dengan namaTentara Pelajar Brigade 17 TNI tinggal di Australia sebagai diaspora Indonesia.



Cerita sukses Diaspora Indonesia terjadi di berbagai bidang kehidupan dan penjuru dunia internasional. Dalam pelajaran sejarah dunia dijelaskan tentang pengiriman sejumlah besar warga masyarakat etnik Jawa, khususnya dari wilayah yang kita kenal sebagai Provinsi Jawa tengah saat ini ke Suriname. Sebuah daerah atau wilayah yang ketika itu, sekitar tahun 1860 - 1880 belum banyak dikenal dalam pentas dunia. Letaknya ada di Amerika Selatan. Mereka dibawa oleh pemerintah penjajahan Hindia Belanda sebagai budak atau koeli. Siapa sangka bila lebih dari dua abad setelah itu, anak keturunan para budak itu telah menjadi orang yang berkedudukan sangat penting di sana. Yang perlu kita apresiasi adalah semangat hidup dan upaya atau perjuangan mereka sampai mendapat tempat terhormat itu.

Pelajaran besar yang dapat kita petik dari dua tokoh besar dunia itu adalah kegigihan atau semangat juang, kerja keras dan tentu berbekal pendidikan memadai. Mereka berdua telah membuktikan dirinya sebagai pejuang tangguh. Meski didera kasus Century yang selain mengandung aspek hukum yakni tindak pidana korupsi, tapi nuansa politiknya juga sangat kentara. Bank Dunia selaku institusi keuangan internasional tentu saja tidak akan gegagah menarik Sri Mulyani Indrawati ke dalam jajaran pimpinan. Terlalu riskan dan bodoh jika para anggota Dewan Direktur Bank Duni yang sangat mengandalkan kepercayaan masyarakat dunia internasional memaksakan diri merekrut mantan Menteri Keuangan RI itu jika tidak sangat yakin jika seorang Sri Mulyani Indrawati yang negeri asalnya tengah dilanda masalah akut KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme).
Salah satu pendapatnya tentang ketertinggalan pembangunan di Indonesia yang menyebabkan urbanisasi ke pusat (Jakarta) sulit diurai sampai sekarang adalah beban berat gaji PNS (Pegawai Negeri Sipil) di daerah yang porsinya mendominasi sektor pengeluaran dalam APBD. Pernyataan ini tentu bukan tanpa alasan yang sangat kuat. Selama ini, kita tahu bahwa banyak Kabupaten/ Kota yang seolah berjalan di tempat proses pembangunan wilayahnya karena porsi pengeluaran untuk membayar gaji PNS lebih dari 70% seperti di Kabupaten Kebumen dan Klaten Jawa tengah. Kedua daerah itu punya tipe yang relatif sama yaitu tradisional - feodalistik.


Kabupaten Kebumen yang pernah dipimpin Rustriningsih yang disebut-sebut sebagai Srikandi dalam periode kepemimpinannya tak banyak berkembang maju selain para pejabat dan keluarganya. Satu bukti nyata adalah proyek pemindahan RSUD yang terbengkelai sampai sekarang. Sementara itu, untuk membuat satu keputusan yang boleh jadi akan menjadi kebanggaan rakyat Kebumen semisal mengangkat potensi kerajinan anyaman pandan di tiga wilayah kecamatan: Karanganyar, Karanggayam dan Sruweng menjadi produk unggulan daerah sesuai konsep OVOP tak pernah tersentuh. Dan dua pimpinan puncak di Provinsi Jawa Tengah yaitu Gubernur Bibit Waluyo berasal dari Klaten, sementara itu Rustriningsih dari Kebumen. Jargon bali ndeso, mbangun deso (pulang kampung, membangun tanah kelahiran) hanya slogan kosong.
Tulisan ini juga ada di: pakitong.blogdetik.com 

Rabu, 14 Agustus 2013

[TETAP] Menjadi Indonesia


Ada sebagian orang Indonesia tak lagi percaya pada kekuatan nasionalisme. Banyak kemungkinan yang melatar-belakangi pandangan atau sikap ini. Pertama, jika nasionalisme adalah atributif. Hanya diukur dari atribut seperti pemasangan pin atau bendera merah putih mini di baju seragam. Juga yel-yel para suporter sepakbola atau cabang olahraga lain yang tengah bertanding di satu arena internasional. Memang tidak salah menyatakan kecintaan pada bangsanya dengan cara-cara semacam itu jika diiringi sikap sportif dan bertanggung-jawab. Apapun hasilnya, kalah atau menang di arena pertandingan, harus diterima dengan lapang dada. Tak ada caci maki buat siapapun. Apalagi merendahkan martabat manusia. Harus ada pemahaman yang benar tentang isi nasionalisme, bukan bentuk yang ditonjolkan.

Jika para pemimpin formal dan pejabat publik melakukan kesalahan tanpa berani dan jujur mengakuinya, maka yang harus bertanggung-jawab atas hal itu adalah orang seorang tanpa menyebutnya sebagai oknum. Penyebutan oknum yang selama ini digunakan untuk menegaskan bahwa kedudukannya sebagai anggota lembaga pemerintah atau publik hanya menumbuhkan sinisme karena perbuatan yang dilakukannya sangat mungkin tidak sendirian. Singkat kata, penyederhanaan dengan mengeliminasi peran atau sebaliknya perumitan masalah dengan membawa serta kambing hitam dan/atau domba adu adalah upaya pengecut yang dari pemimpin yang ingin melarikan diri dari tanggung jawabnya. Banyak sekali contoh ini dalam kasus korupsi dan penyimpangan perilaku seksual yang dilakukan oleh para politisi dan pejabat publik dalam beberapa tahun terakhir. 

Jika para pemimpin formal dan pejabat publik yang kebanyakan diisi oleh para politisi berani bertanggung-jawab atas perbuatan bawahan atau anggota organisasinya serta jujur atas kelemahan dirinya, sinisme publik yang berimbas pada menguatnya frustasi sosial akan dapat dieliminasi dan dicegah - tangkal dampak negatifnya secara dini sebelum berubah menjadi bencana. Cara yang biasa dilakukan oleh para pemimpin di negara maju peradaban dan sosialnya nampaknya kurang menarik dibanding membawa domba adu atau kambing hitam. Gambaran puitis keadaan di atas nampak pada lirik lagu di bawah ini.       

Menjadi Indonesia

Ada yang memar, kagum banggaku
Malu membelenggu
Ada yang mekar serupa benalu
Tak mau temanimu
Lekas,
Bangun dari tidur berkepanjangan
Menyatakan mimpimu
Cuci muka biar terlihat segar
Merapikan wajahmu
Masih ada cara menjadi besar
Memudakan tuamu
Menjelma dan menjadi Indonesia
Ada yang runtuh, tamah ramahmu
Beda
Teraniaya


Ada yang tumbuh, iri dengkimu
Cinta pergi kemana?

Memudakan tuamu
Menjelma dan Menjadi Indonesia      

Lirik lagu yang dibawakan oleh kelompok Efek Rumah Kaca ini sarat pesan filosofis. Memar adalah luka akibat benturan ringan, mengapa harus dikagumi atau malah dibanggakan?  Seringan apapun luka itu, rasa sakit tak terhindarkan. Orang yang merasa bangga dan kagum akan rasa sakit tentu memiliki kekhususan. Entah berupa tebal kulit atau mengidap kelainan biologis dan psikologis. Jika di tangan, kaki atau anggota tubuh selain muka, boleh jadi akan menumbuhkan kekaguman dan patut dibanggakan. Tapi tidak untuk muka yang tebal itu tak lagi punya rasa malu. Apalagi kasih sayang dan ramah tamah. Sisi yang membedakan manusia dan binatang. Atau memang begitu keadaan yang dialami orang kebanyakan ? 

Banyak yang menyerupai benalu, hidup di atas penderitaan orang lain yang perlahan tapi pasti ajal akan menjemput setelah isi kehidupannya diambil paksa. Setangkali benalu kecil saja cukup untuk mematikan sebuah pohon besar. Jika pohon itu adalah Indonesia, siapa benalunya? Fakir miskin atau orang-orang terlantar kah? Atau sebaliknya, orang-orang kaya yang berperilaku miskin. Juga yang berkuasa terhadap kaum lemah? Mungkin, bahkan amat sangat mungkin sekali gambaran itu buat kaum yang bertebal muka. Bagi mereka, malu bukanlah tabu. Mengumbar nafsu binatang tak perlu ragu. Menghisap kehidupan orang lain untuk menghidupi diri dengan cara mematikan yang lain adalah cara yang sah-sah saja. Dan kini benalu itu tengah mekar, tumbuh berkembang di segala sisi kehidupan.

Pohon besar Indonesia akhir-kahir ini memang tampak semakin layu, tak bertenaga mumpuni akibat banyaknya sari kehidupan disantap benalu yang tumbuh subur ke berbagai penjuru. Siapakah para benalu itu ? Para koruptorkah yang diuntungkan oleh para penegak hukum yang  tak lagi mengindahkan keadilan. Bukankah sejatinya keadilan itu sebagai wujud peradaban manusia modern dalam memaksimalkan upaya untuk menggapai kesejahteraan sosial ?   

Dalam perjalanan kebangsaan Indonesia sejak jaman patih Gadjahmada berupaya menyatukan nusantara sampai kini di jaman serba instan, masalah integrasi nasional masih terganjal oleh perilaku egosentris "raja-raja kecil", para pemimpin suku, sekte-sekte politik, dan berbagai pembawa potensi konflik lainnya. Mereka, ibarat benalu bagi keutuhan dan kewibawaan negeri yang menumpang hidup dan mematikannya secara perlahan. Mereka ada di mana-mana, khususnya di pusat-pusat kekuasaan politik, ekonomi, sosial, budaya atau agama. Jika kedok mereka diketahui, serta merta muncul beragam alasan yang menampik temuan itu. Entah dengan menghadirkan kambing hitam atau domba aduan.  

Keadaan negeri Indonesia yang semula kaya ragam budaya dan sumber daya alam kini masih digolongkan miskin ekonomi dan sosialnya. Konflik sosial dan politik seolah jadi pemandangan dan berita harian. Tak ada satupun yang mampu diselesaikan secara tuntas. Bung Karno yang diangkat sebagai Pemimpin Besar Revolusi justru jadi korban utama. Peristiwa pembunuhan massal yang dinilai melebihi kekejaman rezim Pol Pot tak pernah mampu diungkap jelas pelaku dan motifnya. Konflik politik tahun 1965 yang banyak diliputi ketidakjelaskan pihak yang paling bertanggung-jawab atas tragedi kemanusiaan itu tak pernah diselesaikan secara tuntas baik secara politik, hukum maupun sosial selain meninggalkan bekas-bekas luka yang sangat dalam bagi korbannya. Demikian pula dengan kasus 27 Juli 1996 dan kerusuhan Mei 1998. Negara dinilai tak mampu melindungi warganya. Karena pemerintah selaku penyelenggara negara hanya membela diri atas segala kesalahan yang dilakukan tanpa pernah ada permintaan maaf kepada keluarga korban serta masyarakat umum selain terus mencari kesalahan pihak lain dan menebar trauma sosial.



Menjadi diaspora mungkin bukan pilihan utama, apalagi bagi orang-orang Indonesia yang cenderung mengedepankan faktor kekerabatan dan kedekatan kultural. Hal ini bisa ditelusur dari pepatah "lebih baik hujan batu di negeri sendiri, dari pada hujan emas di negeri lain". Tapi tak mudah diwujudkan ketika harus dihadapkan pada situasi dilematis yang muncul dari konflik sosial maupun politik tak berujung jelas.

Ada cerita dari almarhumah ibu kandung kami tentang keluarga diaspora yang satu anggota keluarganya kini sering menjadi sorotan publik dunia.  Ketika beliau dipanggil menghadap Kepala Sekolah Guru Putri (SGP) Yogyakarta yang ternyata adik kandung dr. Soetomo di awal Juli 1946, Atiatoen tak pernah menyangka akan dipilih sebagai wakil sekolah untuk mendapat latihan dasar kemiliteran di Militaire Academie (MA) Kotabaru bersama dua kakak adik dari Semarang. Namanya Retno Sriningsih dan Retno Triningsih. Hampir setengah abad kemudian, beliau baru mengetahui bahwa kedua saudara itu adalah keluarga orang terkenal. Retno Sriningsih punya anak bernama Sri Mulyani Indrawati yang kemudian dikenal sebagai dosen dan pengamat ekonomi handal dari Universitas Indonesia sebelum diangkat sebagai Menteri Keuangan pada Kabinet Indonesia Bersatu yang pertama yang dan membuat dirinya dipilih media internasioan sebagai Menteri Keuangan Terbaik se Asia serta masuk dalam jajaran 100 wanita paling berpengaruh di dunia mengalahkan popularitas Menlu AS Hillary Clinton. Setelah mundur dari jabatan sebagai Menteri Keuangan karena lebih memilih jadi Managing Director World Bank. Sementara itu, Retno Triningsih tinggal di Australia dan menjadi diaspora.

Banyak kisah lain dari beragam orang Indonesia dan asing yang mengapresiasi Indonesia karena keluhuran sejarah dan budayanya. Mereka, para diaspora Indonesia, adalah orang-orang yang (senantiasa ingin) memahami Indonesia dari sisi positifnya. Membuang jauh sinisme dan trauma sosial. Berbuat yang membawa manfaat bagi tanah leluhur, tanah air atau kampung halamannya. Mengajak orang-orang di dalam negeri agar terus berpikir positif untuk memajukan negeri serta melakukan berbagai upaya bersama untuk menyelesaikan masalah ekonomi, sosial dan budaya yang terjadi di Indonesia.

Para diaspora Indonesia membawa banyak bekal: dana, ilmu pengetahuan, ketrampilan, pengalaman serta mentalitas kelas dunia dan akses ke berbagai sumber potensial dari seluruh dunia ke kampung halaman Indonesia pada berbagai kesempatan yang satu puncaknya akan dibuktikan dalam Kongres Diaspora Indonesia (Congress of Indonesian Diaspora atau CID) ke 2 di Jakarta beberapa hari mendatang. Banyak peluang yang harus dimanfaatkan oleh kita untuk memperbaiki dan memajukan negeri Indonesia di masa-masa mendatang. Mari kita wujudkan mimpi Indonesia.     

Minggu, 11 Agustus 2013

Perjalanan Kebangsaan Indonesia Merdeka (1)


Beberapa hari lagi Bangsa Indonesia akan memperingati satu peristiwa monumental yang selalu diselenggarakan dengan upacara di berbagai tempat. Mulai Istana Negara, alun-alun dan berbagai lapangan besar atau kecil, halaman-halaman sekolah dan lain-lain lingkungan masyarakat. Bahkan para pecinta alam memanfaatkan momentum ini untuk menunjukkan betapa pentingnya membentangkan sang saka Merah Putih di puncak-puncak gunung, menyelam di laut dalam dan banyak pilihan tempat atau suasana lainnya.

Meski dengan cara, maksud, tujuan serta alasan  yang boleh jadi sangat beragam, tapi ada satu kesamaan yakni ingin memberi warna tertentu bagi hari pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Warna Kebangsaan Indonesia yang saat ini masih banyak berhias suasana kelam, abu-abu atau lainnya. Suasana yang sangat bertolak belakang dengan masa-masa perjuangan merebut dan mempertahankannya dari genggaman tangan penjajah asing. Suasana yang sangat kental dengan heroisme dan nasionalisme. Apakah ini pertanda terjadinya degradasi nilai atas kedua hal tadi ?

Pergeseran nilai kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sebenarnya merupakan suatu keniscayaan bagi Indonesia yang terdiri dari beragam suku bangsa dan budaya. Hal yang diharapkan tentu saja munculnya kesadaran untuk menguatkan peradaban dan keadaban. Karena bangsa yang memiliki peradaban kuat akan mampu menghadapi perubahan yang pasti terjadi ke arah yang lebih positif. Demikian juga sebaliknya. Satu bangsa akan terjerumus dalam kehinaan ketika perubahan keadaan yang terjadi lebih banyak menonjolkan hal-hal yang negatif.

Sepanjang waktu pasca Bangsa Indonesia berjuang meraih dan menegakkan kemerdekaan, semakin banyak peristiwa yang menunjukkan bahwa pergeseran nilai kemanusiaan yang adil dan beradab cenderung mengarah pada sisi negatif. Konflik sosial dan politik seolah tanpa ada penyelesaian memadai baik secara substantif maupun parsial. Dalam panggung politik khususnya, kebanyakan pemimpin tak pernah memberi contoh yang menunjukkan bahwa sikap kenegarawanan adalah cara paling beradab dan modern dalam menyelesaikan konflik itu. Bahkan sebaliknya, terlalu menonjolkan sektarianisme yang berbungkus aneka rupa perilaku narsistis. Akibatnya, setiap terjadi konflik sosial maupun politik secara nasional, dapat dipastikan berdampak dendam kesumat dari pihak yang menjadi korbannya.

Perilaku kenegarawanan justru muncul dari kalangan pemimpin informal dan perguruan tinggi tententu.  Selain Bung Hatta yang bertahan dengan idealisme politik non partisan, sangat sulit menemukan sosok yang sebanding dengan Proklamator dan penggagas Siasat Ekonomi ini. Apalagi di atasnya. Para pemimpin politik dari perguruan tinggi dan organisasi-organisasi sosial yang semula menampakkan perilaku positif, ketika masuk dalam lingkaran kekuasaan formal tak mampu lagi mempertahankannya sebagai upaya melakukan perubahan internal. Entah karena gamang, tak lagi punya nyali atau kuatnya faktor kontaminatif di dalam lingkungan baru, mereka seperti kehilangan daya. Akhirnya, masyarakat awam kembali harus menelan kekecewaan dan begitu seterusnya dalam setiap pergantian kepemimpinan nasional.

Partai politik yang seharusnya berperan utama sebagai pusat pendidikan politik masyarakat dalam hal perilaku kenegarawanan dan wawasan kebangsaan tak pernah beranjak dari posisinya sebagai alat kekuasaan kelompok orang tertentu saja. Kelompok itu lebih sering  menampakkan perilaku feodalistik ketimbang demokratik sebagaimana diamanatkan oleh isi Mukadimah UUD 1945. Kesetiaan buta terhadap sekte-sekte politik yang dianut para elit pemimpinnya. Bukan kesetiaan pada tujuan perjuangan bangsa Indonesia yang berujung pada keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

*****

Dalam beberapa catatan sebelumnya, saya menyoroti dua hal tema besar yakni diaspora Indonesia dan relawan kemanusiaan. Pada tema diaspora Indonesia, banyak hal menarik yang patut diangkat menjadi bahan pembelajaran bersama selaku bangsa beradab. Mereka yang merasa punya keterikatan dengan sejarah dan budaya Indonesia dan berkehidupan di berbagai belahan dunia dan beragam profesi, ingin menunjukkan diri kepada orang-orang, lembaga dan sejumlah pihak di tanah lahir, tanah air atau kampung halaman Indonesia bahwa keberadaannya selayaknya tetap diakui sebagai bagian dari Indonesia. Indonesia yang bisa berarti wilayah kekuasaan suatu negara, satu suku bangsa atau sisi unik yang hanya bisa dijelaskan dengan rasa. Cinta tanah air dan ragam budaya yang tak hanya indah dipandang, tapi juga nyaman disandang. Kenyamanan yang hanya dapat dirasakan oleh orang-orang mapan secara ekonomi dan sosial yang diperoleh dari proses pencapaian pribadi berkarakter. Memenangi pertarungan pribadi di bawah bayang-bayang muram inferioritas masyarakat umum di tanah lahir atau kampung halaman Indonesia.


Menyandang atribut keindonesiaan yang sering dilanda konflik sosial dan politik bukan hal mudah dalam berperikehidupan di manca negara. Hal itu tercermin dalam perlakuan pemerintah dan mungkin juga masyarakat setempat kepada para TKI di Malaysia misalnya. Sementara itu, nasib yang lebih baik dialami oleh orang-orang yang memiliki kemampuan profesional yang memadai seperti para ahli, teknisi, dosen dan sebagainya. Contohnya, Hadi Nur, seorang profesor kimia muda usia  (44 tahun) dari Ranah Minang yang jadi staf pengajar di Universiti Teknologi Malaysia. Sebelum itu, Dr. Sadono Sukirno dari Universiti Kebangsaan Malaysia menyusun buku diktat utama Ekonomi Pembangunan bagi para mahasiswa ilmu ekonomi di berbagai perguruan tinggi di Indonesia tahun 1980-an.

Prof. Hadi Nur dan Mayor Edward Moehito Redjopawiro (Suriname)

Dua orang diaspora Indonesia di atas adalah satu contoh kecil betapa berharganya para intelektual Indonesia di manca negara. Sebagaimana dipaparkan dalam tulisan Prof. Hadi Nur itu, banyak yang bertalian dengan sejarah dan budaya Indonesia telah menjadi orang sukses secara sosial, ekonomi maupun politik di Malaysia tetap mempertahankan budaya asalnya. Bahkan seorang Dato' Sri Haji Mohammad Najib bin Tun Haji Abdul Rajak yang saat ini menjabat sebagai Perdana Menteri Malaysia adalah keturunan Sultan Gowa. Satu kerajaan besar di bumi Sulawesi dan tersohor pada masanya. Jadi, mengapa kita meradang ketika batik dan beberapa jenis artefak budaya Indonesia diklaim oleh warga Malaysia yang mungkin saja ia adalah diaspora Indonesia ? Nasionalisme sempit-kah yang menjadi penyebab utama seperti dikatakan Indah Morgan yang kini menjadi Ketua Satuan Tugas Imigrasi dan Kewargaan negara pada Kongres Diaspora Indonesia II ketika diwawancarai oleh Radio Australia beberapa waktu lalu ?

Boleh jadi memang demikian faktanya di Indonesia. Masyarakat Indonesia di dalam negeri akhir-akhir ini sangat mudah diprovokasi dengan jargon dan yel-yel nasionalisme terutama di bidang olahraga, khususnya sepakbola. Kita tahu bahwa sejak dua dasawarsa terakhir, prestasi olahraga yang diklaim sebagai yang terbesar penggemarnya sangat labil dan cenderung menurun. Melalui promosi dan pendekatan bisnis yang tentunya bertiras ratusan milyar, penonton televisi dari berbagai golongan usia begitu fanatik dengan olahraga ini. Yang hebat, meski organisasi (induk) cabang ini terus dilanda konflik sektarian dan mengorbankan banyak potensi nasional, dengan mengusung jargon dan yel-yel nasionalisme tadi stadion Gelora Bung Karno tak pernah kekurangan penonton saat tim nasional bertanding untuk event resmi maupun persahabatan.  

Di jaman Bung Karno berkuasa pernah muncul jargon Ganyang Malaysia karena disinyalir sebagai agen imperialisme Barat, terutama Inggris yang pernah menjajahnya. Kala itu belum ada saluran televisi internasional dan internet yang dapat dengan mudah memberi warta aktual kejadian sesuangguhnya pada saat itu juga (real time news). Hanya ada siaran radio yang tingkat penyebarannya juga sangat sempit. Di sisi lain, selaku orator ulung, Bung Karno sangat piawai mengemas suasana kejiwaan masyarakat Indonesia yang tengah menguatkan jati diri sebagai bangsa merdeka dengan jargon -jargon revolusioner. Tapi ada hal yang nampaknya kurang diperhitungkan dengan cermat oleh beliau bahwa ada sebagian orang tengah mengincar peluang mendapatkan keuntungan pribadi maupun kelompok dari suasana itu. Mereka justru ada di sekitar lingkungan kekuasaan Pemimpin Besar Revolusi tersebut.   

Selasa, 06 Agustus 2013

Gambaran Besar Sejarah Indonesia (IAF2013 teaser)


Sebuah upaya yang sangat layak diapresiasi. Banyak yang telah melupakan karena inferioritas di dalam negeri. Sementara itu, karya ini justru muncul dari suatu eksplorasi jiwa kebangsaan orang-orang Indonesia yang ada di manca negara untuk memberi gambaran kepada seluruh masyarakat dunia tentang Indonesia dan keindonesiaannya. Meski ada kekurangan, karya edukatif ini sangat layak disebarluaskan untuk generasi masa depan Indonesia yang tengah gamang dengan diri dan tanah airnya. Salut.


Beberapa hal penting lainnya bisa disimak di sini. 

Kamis, 01 Agustus 2013

CID II: Peristiwa Akbar Yang Minim Publikasi (II)


Apakah sepinya publikasi tentang Kongres II Diaspora Indonesia (CID II) di Kampung Halaman adalah ekspresi sinisme publik seperti yang ditengara oleh penggagas, Dr. Dino Pati Jalal? Tidak mudah untuk mendapat jawaban pasti. Hal yang sama juga berlaku untuk menelusur ke sumber di lingkungan IDN (Jejaring Diaspora Indonesia). Dari sejumlah berita yang dapat dikumpulkan dari internet,  di saat banyak orang menyatakan ketidakyakinan diri (pesimis) dan masa bodoh atas kenyataan hidup yang tengah berjalan di dalam negeri, Diaspora Indonesia justru menggagas dan menyusun rencana aksi untuk berbuat terbaik bagi negeri leluhur, kampung halaman dan tanah airnya, Indonesia.

Munculnya sinisme publik atas beragam faktor aktual di dalam negeri boleh jadi merupakan satu dari sekian banyak alasan para diaspora Indonesia menyelenggarakan Kongres I di Los Angeles, Amerika Serikat. Dari video yang ditayangkan di Youtube, CID I dibuka dengan lagu Bagimu Negeri oleh anak perempuan Broery Pesolima. Kesan yang dapat ditangkap dari peristiwa ini adalah adanya kerinduan mendalam dari para diaspora Indonesia kepada tanah air, tanah leluhur, tanah tumpah darah dan bumi pertiwi, Indonesia Raya. Beberapa peserta nampak tak mampu menahan rasa dan meneteskan air mata haru.

Peristiwa yang nampak sekilas tadi jelas bukan satu kebetulan atau kepura-puraan yang sering kali kita lihat di berbagai arena formal, terutama yang diselenggarakan oleh lembaga-lembaga pemerintahan di dalam negeri. Jika di sini nasionalisme nyaris kehilangan roh-nya, di belahan dunia lain justru sebaliknya. Hal ini sangat jelas dari pernyataan Duta Besar Afrika Selatan di Amerika Serikat yang tanpa ragu menyebut dirinya anak keturunan Bugis, Ebrahim Rasool. Dengan gaya khas elegan, dengan sangat lancar, beliau bercerita penuh rasa bangga sebagai orang yang punya kaitan batin dengan Indonesia. “We are diaspora...but Indonesia !!!”. Satu hal yang acapkali tak bermakna ketika diucapkan oleh orang-orang yang punya jabatan setara atau lebih rendah dengan beliau di dalam negeri.

Keunggulan para diaspora Indonesia bukan hanya karena potensi kepemilikan aset yang sangat luar biasa. Mereka, terutama yang masih berkewarga-negaraan Indonesia maupun yang telah menjadi WNA karena faktor perkawinan atau jadi korban politik sektarian dalam negeri, menyatakan diri ingin pulang kampung. Dari penggunaan istilah saja kita tahu betapa keterikatan emosional yang mereka pendam lama seolah ingin ditumpahkan ketika tiba di kampung halaman, tanah leluhur, tanah air dan tanah tumpah darahnya, Indonesia. Melepas rindu pasti, tapi menyambung tali silaturahmi  adalah alasan dasar kemanusiaan yang lazim terhadi dan dialami kebanyakan orang yang telah lama terpisah.

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa kepemilikan aset meraka yang luar biasa itu bersumber dari kekuatan otak (brain power) yang dimiliki. Boleh jadi, di balik kapasitas intelektual dan profesional mereka yang luar biasa dan mampu mengungguli prestasi banyak orang yang dipuja puji di dalam negeri, khususnya orang Amerika Serikat yang banyak didaulat sebagai idola atau pahlawan, dengan cara dan keunggulan pribadi masing-masing, mereka masih memiliki perhatian dan kepedulian besar pada tanah leluhur, tanah air dan kampung halamannya yang kini tengah dilanda banyak masalah besar yang membelit. Para diaspora Indonesia yang secara mental telah lolos uji mampu berkompetisi di tingkat global itu sangat perlu kita serap ilmu dan pengalamannya untuk memperbaiki mentalitas Bangsa Indonesia saat ini yang tengah berada di simpang jalan menuju keterpurukan.

Kembali ke masalah sinisme publik yang menggejala adalah buah praktik politik yang tak berkeadabaan. Saling mengejek tanpa rasa malu dan ragu di depan publik. Seolah tiada lagi orang memperhatikan tabiat buruk itu muncul di panggung yang semestinya mencerminkan sikap negarawan atau negarawati yang senantiasa memberi teladan kebaikan dan kebajikan. Ketika mereka terjerat kasus hukum, yang mengemuka adalah tindak antara korupsi dan asusila. Dua di antara banyak kasus yang berkait erat dengan lemahnya mentalitas. Seperti kata pepatah “ buruk muka, cermin si belah” atau “lempar batu, sembunyi tangan”. Pengecut, sebutan yang paling pas untuk itu.

Sebagai perantau, mental diaspora akan diuji tidak hanya sebagai pribadi. Mereka juga membawa suasana sosial dan budaya yang mengemuka. Jika di negeri asalnya tengah dilanda kemerosotan mental, mereka harus memiliki kemampuan yang jauh lebih besar untuk memberi keyakinan kepada orang-orang di sekitarnya bahwa ia tak terpengaruh oleh suasana itu. Ketika lolos uji artinya ia membawa beban yang sama berat dan mampu diatasi. Kejadian semacam ini bisa terjadi di manapun dan kapanpun.

Keunggulan para diaspora di sisi kualitas sumber daya manusia adalah perpaduan mantap antara kemampuan otak dan mental juara. Seorang juara sejati akan selalu memelihara kapasitas pribadinya di segala arena. Dan kemampuan itu dibuktikan di luar kandang dengan hasil gemilang. Karena itu, ketika mereka ingin membuktikannya di kampung halaman, selayak-nya diapresiasi secara obyektif. Tidak selalu jadi idola atau pahlawan, tapi bukan pengecut atau pecundang yang selalu berkelit dari tanggung jawab pribadi.

Dengan banyaknya keunggulan yang telah mereka buktikan di luar kampung, tidak sepantasnya kita tidak memberi aprasiasi tinggi dan menyambut kedatangan mereka dengan suka cita. Apapun yang akan mereka lakukan pada Kongres Diaspora Indonesia II di kampung halaman Indonesia, telah banyak karya nyata yang telah mereka sumbangkan kepada bangsa, negara dan tanah air Indonesia. Meski tanpa publikasi yang memadai, potensi besar mereka jauh lebih berharga dari pada iklan para politisi yang menghabiskan banyak dana dan kurang bermanfaat di saat banyak warga bangsa ini terbelit kesulitan hidup layak bagi kemanusiaannya.

Selamat Datang di Kampung Halaman Indonesia. Semoga niat baik anda tak berkurang karena sedikitnya penghargaan di sini, di saat banyak orang tak lagi peduli kepada orang lain. Ketika banyak orang terlalu asyik dengan diri dan kepentingan sendiri. Autisme sosial yang menggejala dan menutup ruang-ruang kegotong-royongan yang telah membuat negeri Indonesia merdeka dari penjajahan asing. Selamat ber-kongres, kami menantikan karya terbaik anda semua untuk Indonesia Raya. Selamat dan sukses, amien.    

Senin, 29 Juli 2013

CID II: Peristiwa Akbar Yang Minim Publikasi (I)


Pulang kampung atau mudik adalah satu dari beragam tradisi orang Indonesia di saat merayakan hari raya, terutama hari-hari besar keagamaan. Karena secara statistik kebanyakan orang Indonesia adalah muslim, ada dua hari raya yang biasa menjadi agenda penting masyarakat yaitu Idul Fitri atau Lebaran dan Idul Adha yang popular disebut Besar atau hari raya qurban. Dari keduanya, kecenderungan umum melakukan perjalanan pulang kampung adalah di kala Idul Fitri.

Tradisi Lebaran selalu menarik perhatian karena melibatkan banyak sekali pihak dan perputaran uang yang dapat mencapai nilai triliunan rupiah. Dari soal sarana dan prasarana transportasi, keamanan lingkungan, para pengusaha yang menyiapkan Tunjangan Hari Raya, pedagang asongan, keluarga di kampung sampai pemerintah daerah yang menjadi tujuan para pemudik dan banyak pihak lainnya punya peran masing-masing. Pada umumnya, semua pihak tersebut menyambut peristiwa ini dengan suka cita.

Tahun 2013 ini, peristiwa mudik nasional ada yang cukup istimewa. Yakni kedatangan atau mungkin juga kepulangan sejumlah orang perantau Indonesia dari berbagai negara di seluruh penjuru dunia ke kampung halaman, Indonesia Raya. Mereka adalah para diaspora. Orang-orang yang memiliki keterikatan batin dengan budaya dan kehidupan di kampung halaman. Sekitar 2.000 orang dari 8 – 10 juta orang diaspora Indonesia akan mengikuti satu acara yang diberi nama “Pulang Kampung” untuk menamai Kongres II Diaspora Indonesia (2nd  Congress of Indonesia Diaspora atau CID) di Jakarta Convention Center, 18 – 20 Agustus 2013.  Penamaan yang sangat tepat dengan suasana keindonesiaan saat itu. Yakni musim mudik massal Idul Fitri 1434H dan di tengah perayaan umum Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ke 68.

Menurut penuturan President of Diaspora Indonesia, Mohammad Al-Arif, Diaspora Indonesia memiliki tiga kategori. Mereka adalah Warga Negara Indonesia (WNI) yang bertempat tinggal di negara lain, WNI yang telah menjadi Warga Negara Asing (WNA), dan warga negara asing tetapi memiliki afinitas untuk Indonesia. Selanjutnya ditambahkan pula bahwa ada lima pilar dalam organisasi yang dipimpinnya, Indonesia Diaspora Network (Jejaring Diaspora Indonesia) atau IDN yang disepakati peserta CID I di Los Angeles, Amerika Serikat Juli 2012. Yaitu sektor bisnis dan investasi, kegiatan sosial, pertukaran pelajar, advokasi kebijakan dan  jejaring profesi (profesional networking). Entah sebagai satu kesadaran atau suatu kebetulan, lima pilar tersebut menyerupai dasar negara Republik Indonesia, Pancasila.

Besarnya potensi, perhatian dan kesadaran yang dimiliki para diaspora Indonesia itu tidak serta merta mendapat sambutan positif di tanah air. Hal ini dapat dicermati dari sedikitnya publikasi acara yang seolah tertelan kemeriahan tradisi mudik lokal yang setiap tahun selalu dilirik dan menjadi perhatian penting media massa. Sampai saat tulisan ini dibuat, belum nampak adanya iklan dan bentuk-bentuk publikasi akbar yang menunjukkan betapa besar dan pentingnya CID II itu. Hanya publikasi internal di situs :  diaspora indonesia dan Kementrian Luar Negeri RI di sini yang telah memasangnya. Jika ada media massa nasional yang mengangkat berita seputar acara Pulang Kampung ini, sifatnya publikasi biasa dan berkesan dikemas seadanya.


Minimnya sambutan publik atas peristiwa yang sangat bersejarah di tengah kemerosotan derajat kepercayaan masyarakat terhadap organisasi-organisasi formal, IDN dengan CID II-nya adalah satu peluang besar, kalau tidak dapat disebut raksasa di awal abad 21. Sebagai gambaran kecil, ketika sebagian besar diaspora Indonesia di Amerika Serikat (AS) rata-rata memiliki pendapatan/kapita/tahun sebesar US$ 59,000 ; Income/Capita penduduk AS tercatat pada tingkat US$ 45,000. Sementara itu, Menko Ekuin, Hatta Radjasa menyebut angka US$ 4,000 untuk pendapatan per kapita Indonesia di tahun 2013.