RAPOR MERAH DI HARI PENDIDIKAN NASIONAL

Kurikulum 2013 tak mampu dibendung lagi. Protes keras AGTIKKNAS sampai ke DPR dan Gedung Kemendiknas tak menyurutkan niat merevisi keputusan yang menghapus mapel TIK dan KKPI.

KOTA VOKASI : ANUGERAH ATAU BENCANA - BAGIAN II

Kebijakan kota vokasi adalah untuk peningkatan akses dan mutu SMK yang lebih besar, serta memadukan antara pendidikan kejuruan dengan pengembangan tata kota dengan mengutamakan pengembangan sektor ekonomi wilayah kabupaten/kota (Economic Development).

KOTA VOKASI: ANUGERAH ATAU BENCANA - BAGIAN I

Kebijakan Kota Vokasi yang satu dampaknya adalah penurunan animo peserta didik (siswa/i) di sekolah menengah umum (SMA/MA) karena kecenderungan warga masyarakat umum khususnya di pedesaan lebih menginginkan putra/i-nya ikut proses belajar mengajar di SMK meningkat pesat. Juga oleh gencarnya promosi yang dilakukan para pejabat...

KARYA BAKTI UNTUK NEGERI 2014 DI KABUPATEN KEBUMEN

Komunitas SukaRelawan Palang Merah Indonesia (PMI)di media sosial ini menyelenggarakan kegiatan KARYA BAKTI untuk NEGERI (KBN) 2014 di Kabupaten Kebumen dalam rangka mewujudkan satu misi Kewirausahaan Sosial dan tujuan menguatkan upaya untuk kebaikan dan perbaikan organisasi PMI.

CELOTEH SOPIR MINIBUS GOMBONG - KEBUMEN

Perkataan sopir angkutan umum acapkali hanya dipandang sebelah mata. Kali ini sungguh luar biasa. Pengetahuan luas dan gaya bahasanya lugas. Contoh yang dikemukakan sangat masuk akal dan mengejutkan. Tiga pejabat Bupati Kebumen tak mampu selesaikan RSUD secara maksimal.

Tampilkan postingan dengan label almamater. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label almamater. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Agustus 2013

Kecil Itu Indah – Pengalaman Pertama Menjadi Guru

Penjual layang2 di atas sungai Krasak Kebumen

Dalam perbincangan dengan istri yang pernah menjadi guru formal di Jawa Timur sebelum menikah, saya menanyakan kemungkinan menerima permintaan Ibu Yosephine FW selaku kepala sekolah di SMA tempat saya belajar saat remaja menjelang dewasa. Dengan gaya khas, memancing reaksi pribadi, ia mengatakan bahwa untuk menjadi pengajar atau pendidik tidak tertutup kemungkinan itu. Belajar dan menguasai materi cukuplah sebagai bahan dasar untuk hal itu. Pengalaman selama ini menjadi pelatih dan motivator bagi teman-teman relawan PMI, perajin maupun yang lain bisa menguatkan. Tapi untuk menjadi guru yang memahami dunianya, saya perlu banyak berinteraksi dan menemukan gagasan-gagasan baru untuk mendekatkan diri pada dunia keguruan. Apalagi mendekati kemampuan almarhumah ibu yang tak pernah lepas dari dunia keguruan meski telah pensiun lebih dari seperempat abad.

Ada satu hal yang menggelitik pikiran ketika saya tengah bersiap melakukan tugas keilmuan, mengamalkannya kepada para peserta didik yang kebanyakan berasal dari keluarga kurang mampu secara ekonomi dan sosial. Pada kesempatan awal, kebetulan ada teman guru yang sudah cukup lama berada di lingkungan ini. Dengan nada bergurau, sang teman mengatakan bahwa kita seperti guru privat atau guru les khusus. Dengan jumlah peserta didik yang kecil, perhatian kita memang dapat lebih besar dalam memahami masing-masing pribadi siswa atau siswi. Proses interaktif dapat dilakukan lebih fleksibel dan mengena pada titik sasaran.

Meskipun hanya sebuah gurauan, perkataan teman itu saya jadikan satu dari berbagai masukan penting. Selain itu, ketika dikenalkan kepada para siswa, kepala sekolah senantiasa memberi kesan bahwa saya memiliki kelebihan yang dapat menarik dan meningkatkan semangat belajar. Kesan yang saya tangkap sebagai harapan yang lebih dari sekadar penyampai materi pelajaran atau guru kurikulum menurut kriteria saudara Ngainun Naim pada tulisan awal. Artinya, dengan bekal pendidikan formal, pengalaman kemasyarakatan, bakat pribadi serta kemampuan lain yang pernah dirasakan saat saya mengorganisasi Reuni Akbar tahun 2009 dan dinilai sukses,  diharapkan ada nilai lebih yang bisa diberikan kepada siswa maupun sekolah pada umumnya. Senantiasa menumbuhkan harapan, itu kata kuncinya.

Pengalaman selama ini, terutama di dalam situasi kebencanaan, harapan untuk menggugah dan menguatkan semangat hidup memang merupakan hal pertama dan utama setelah tindakan pertolongan. Dari teman-teman yang bergiat di PSP PMI (Psychological Support Program) saya banyak belajar mengenai dua hal yang menumbuhkan harapan.  Materi lain yang saya dapatkan dari aktivitas menjadi relawan PMI adalah pengetahuan dan pengalaman tentang peer education atau pendidikan rekan sebaya. Demikian pula ketika berperan sebagai fasilitator materi Hukum Humaniter Internasional yang saat ini banyak dibicarakan karena adanya kasus penembakan oleh orang tak dikenal dan menawaskan relawan PMI yang tengah bertugas menolong korban pertikaian bersenjata di Kabupaten Puncak Jaya, Papua, akhir Juli lalu.

Bekal dari berbagai kegiatan di lingkungan PMI, komunitas pegiat budaya dan pelaku kerajinan yang acapkali menimbulkan sebutan kegiatan sok sial sangat bermanfaat dalam proses adaptasi dengan lingkungan baru. Tetapi untuk menggapai derajat guru yang sejatinya sebagaimana dicontohkan oleh almarhumah ibu kandung perlu usaha keras, tekad kuat dan komitmen pribadi yang sangat tinggi. Kesadaran ini mendorong semangat belajar dan terus belajar dari kehidupan tak pernah surut. Seperti dalam puisi Rendra. “ kesaksian harus ditegakkan agar kehidupan terus berjalan”.  

Tidak akan pernah ada yang mudah dalam kehidupan ini jika senantiasa dibuat sulit dan tidak ada sesuatu yang sulit jika dilakukan dengan penuh kesederhanaan. Mengabdi pada kehidupan sebenarnya adalah kewajiban semua manusia beradab. Sebaliknya, berburu bagi kematian adalah tindakan biadab. Pendidikan adalah bagian utama pengabdian pada kehidupan manusia beradab. Pengertian inilah yang saya pahami dari pergulatan hidup sepanjang usia dewasa.

Pendidikan bukan saja memindahkan pengetahuan atau sering disebut dengan istilah transfer ilmu dari pendidik kepada pesertanya. Lebih dari itu, pendidikan adalah suatu proses memaknai nilai-nilai kehidupan manusia beradab. Melalui pendidikan, manusia saling berinteraksi dalam kesetaraan derajat. Dengan bekal pengalaman, pendidik menyampaikan pengetahuan yang pernah ia dapatkan di lingkungan formal maupun dalam pergaulan hidupnya. Boleh jadi, pemahaman ini yang dimaksudkan dalam pengertian pendidikan dengan sentuhan hati atau pendidikan yang menyertakan budi pekerti.

Pendidikan berbasis kesetaraan (peer education) jika dimaknai secara luas dan dalam, akan mendorong peserta didik memahami diri dan lingkungannya. Untuk memahami dirinya, sesorang tak harus belajar secara khusus di sekolah kepribadian. Dan agar mengetahui dengan jelas keadaan lingkungan, pelibatan sosial adalah cara terbaik memasukkan nilai-nilai keadaban atau budi pekerti. Pendidik, peserta didik dan masyarakat saling berinteraksi dalam satu kegiatan yang suasananya dapat disiapkan (by design). Jika diperluan penilaian, pendidik dapat menyediakan suatu daftar yang berisi beragam unsur terurai seperti halnya sebuah urutan perguliran acara (run down). Dalam hal ini, pendidik akan bertindak selaku sutradara, penulis skenario dan pemegang peran tertentu. Tidak sulit, cukup dengan belajar dan terus berlatih.

Ada satu fenomena yang cukup menarik tengah terjadi di dalam dunia pendidikan Indonesia saat ini setelah ditutupkan sekolah atau perguruan tinggi dengan kekhususan pendidikan. Setelah penutupan SPG (Sekolah Pendidikan Guru) pada dasawarsa 1980 – 1990, menyusul IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan) pada dasawarsa berikutnya. Konon, banyak orang yang berprofesi guru atau dosen adalah jalur pelarian yang menampung sisa-sisa siswa atau mahasiswa yang tak laku di jurusan atau profesi lain. Barangkali, hal ini akan menjadi bahan perbincangan menarik.


Yang jelas, untuk menjadi guru yang dimaknai sebagai manusia yang terpercaya (digugu) dan teladan (ditiru)  bukan hal mudah untuk diwujudkan dalam kehidupan sekarang yang banyak diwarnai perilaku instan dan  hedonistik. Apapun yang instan senantiasa membawa serta sifat ketergesaan dan berpeluang sangat besar melukai atau merusak diri sendiri. Demikian juga dengan perilaku hedonistik (aji mumpung). Dalam konteks yang positif, kedua perilaku itu bermanfaat. Khususnya dalam suasana kebencanaan. 

Tulisan ini dimuat juga di sini 

Rabu, 21 Agustus 2013

Kecil Itu Indah - (Coba) Memahami Realita

Suasana proses belajar mengajar di kelas XII 

Judul tulisan ini semula adalah "Menebar Benih di Lahan Kering". Tetapi saya ubah karena ada situasi lain yang berpengaruh.

Kehidupan ini dapat diibaratkan sebuah ladang yang harus digarap dengan segenap daya dan kesungguhan hati. Ada yang subur, kering, liat dan gersang. Lahan subur menjadi dambaan banyak orang karena dianggap penggarapannya relatif mudah dan hasilnya dapat segera dinikmati. Berbeda dari lahan keringyang memerlukan penanganan awal sampai akhir dengan beragam tantangan dan kendala. Dan akan lebih sulit ketika hak itu dilakukan di lahan yang liat. Catatan ini terinspirasi dari tulisan saudara Ngainun Main, dosen STAIN Tulungagung yang telah menerbitkan buku berjudul “Menjadi Guru Inspiratif”. 

Yang menarik perhatian saya adalah kalimat: “guru inspiratif adalah guru yang tidak hanya mengajar saja, tetapi juga mampu memberikan pengaruh ke dalam jiwa siswanya, dan lebih jauh, mampu merubah kehidupan para siswanya”. Dalam pemahaman yang saya ketahui selama ini, mengajar itu melakukan proses belajar dan mengajar sebagaimana biasa dilakukan oleh semua guru. Menyiapkan materi dan memberikannya di depan kelas. Mungkin ada bagian administratif yang terdapat pada proses itu, terutama untuk memenuhi kewajiban formal yang telah digariskan oleh lembaga penyelenggara pendidikan. Meminjam istilah dosen tadi, pemahaman ini adalah untuk kategori guru kurikulum yang merupakan bagian terbesar dari kelompok manusia Indonesia yang acapkali dinyatakan berlebih dengan sebutan “pahlawan tanpa tanda jasa” ini.
***

Saat menerima pemberitahuan lewat telepon istri, saya sempat bertanya. Mengapa...? Ada situasi apakah yang mendorong gagasan atau upaya memanggil kembali  saya untuk mengabdi kepada almamater setelah tertunda lebih dari tiga tahun sebagai guru? Sementara itu, mereka : kepala sekolah, para guru, pelaksana administrasi dan teman-teman alumni cukup memahami karakter dan situasi saya. Di tengah suasana yang menggelantung bimbang, saya berniat dan mewujudkannya dalam perbuatan untuk memohon tambahan kekuatan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa lewat shalat istikharah. Diantara banyak doa, suara hati berkata lirih “... ambil kesempatan itu dan gunakan segenap daya agar jelas arah...”

Dua kata kunci itu: ambil kesempatan dan  jelas arah. Kesempatan yang saya dapatkan saat ini adalah merasakan langsung suasana yang ada di dalam lingkungan almamater, SMA Masehi Kebumen yang kondisinya dari luar nampak kusam dan memprihatinkan. Sehingga dalam beberapa tahun terakhir sebagian fasilitasnya disewakan kepada pihak penyelenggara pendidikan lain. Yaitu Fakultas Hukum Universitas Tujuh Belas Agustus (Untag) Semarang dan dua atau tiga tahun terakhir disewakan kepada Politeknik Dharma Patria yang punya afiliasi dengan satu penerbit buku di Bandung sampai akhir April 2014. Kesempatan yang mungkin saja tak akan ada lagi jika sekolah ini ditutup dengan berbagai alasan. 

Kata kunci ke dua adalah jelas arah. Dalam pemahaman saya yang mungkin saja sangat dangkal, kehidupan ini dapat diibaratkan sebagai suatu proses perjalanan yang di dalamnya terdapat banyak jalan (pilihan), moda (alat), rambu-rambu (aturan) dan beragama jenis serta latar belakang kehidupan manusia yang melakukan perjalanan itu. Dengan arah yang jelas, proses perjalanan itu akan menjadi semakin mudah untuk dilakukan dan risiko yang mungkin dihadapi juga akan cukup terukur. Tidak ada pertaruhan atau pengorbanan yang sia-sia.

Sekadar illustrasi, di masa saya menempuh pendidikan menengah di sekolah itu, suasananya sangat jauh berbeda dari saat ini. Jumlah muridnya sangat banyak karena rata-rata setiap kelas diisi oleh 50 siswa. Dan setiap jenjang maupun jurusan sedikitnya ada 2 kelas. Dengan perkiraan kasar tersebut, sekolah yang letaknya di tengah kota dan di depan icon Kebumen, Tugu Lawet, SMA Masehi Kebumen di tahun-tahun 1980-an menyelenggarakan proses belajar mengajar bagi sedikitnya 600 siswa { 3 jenjang ( kelas 1 - 3) x 2 jurusan ( IPA dan IPS) x 2 (kelas dalam setiap jurusan) x 50 (jumlah rata-rata siswa setiap kelas)}. Asal siswa juga beragam, datang dari hampir seluruh wilayah kecamatan dan desa di Kabupaten Kebumen. Bahkan tidak sedikit yang berasal dari kabupaten lain terutama Purworejo, Banyumas dan Cilacap.

Situasi diskusi kelompok di kelas XI

Situasi yang ada saat ini sangat berbeda, bahkan bisa disebut bertolak belakang. Jumlah siswa yang mengikuti proses belajar mengajar sama untuk dua kelas (XI dan XII) yang diselenggarakan yakni 5. Hanya ada satu jurusan, Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Tidak ada kelas awal (X) dan diampu oleh 11 orang guru, seorang penyelenggara administrasi (Tata Usaha/TU) dan seorang tukang kebun atau penjaga sekolah. Artinya, secara kuantitatif terjadi kemunduran yang sangat drastis dibanding tahun 1980-an. Hal serupa juga terjadi dalam sisi kualitatif. Keadaan ini juga dirasakan oleh para siswa kelas XII yang saya minta pendapatnya melalui tulisan di bawah ini.

Ungkap rasa siswa kelas XII
Ungkap rasa siswi kelas XII

Secara garis besar, para siswa menggambarkan suasana yang mereka alami sepanjang mengikuti proses belajar mengajar sejak awal hingga kini dengan ungkapan keprihatinan. Ada yang menyebut kata kaget dan sedih ketika tahu jumlah teman satu kelas sangat sedikit dan dari keluarga yang secara sosial-ekonomi relatif biasa atau kekurangan. Demikian juga atas fasilitas sekolah yang sangat minimal. Meski begitu, semua menyatakan harapan dengan optimisme (semangat). Apakah ini merupakan ekspresi sesaat atau pemahaman yang lugas dari remaja menjelang dewasa sebagai akibat proses interaktif dengan saya. Atau ada alasan lain yang mendorong munculnya ungkap rasa seperti itu, yang jelas saya meminta mereka menulis dengan jujur dan tidak boleh saling mempengaruhi. (bersambung)
Tulisan ini juga ada di sini.