RAPOR MERAH DI HARI PENDIDIKAN NASIONAL

Kurikulum 2013 tak mampu dibendung lagi. Protes keras AGTIKKNAS sampai ke DPR dan Gedung Kemendiknas tak menyurutkan niat merevisi keputusan yang menghapus mapel TIK dan KKPI.

KOTA VOKASI : ANUGERAH ATAU BENCANA - BAGIAN II

Kebijakan kota vokasi adalah untuk peningkatan akses dan mutu SMK yang lebih besar, serta memadukan antara pendidikan kejuruan dengan pengembangan tata kota dengan mengutamakan pengembangan sektor ekonomi wilayah kabupaten/kota (Economic Development).

KOTA VOKASI: ANUGERAH ATAU BENCANA - BAGIAN I

Kebijakan Kota Vokasi yang satu dampaknya adalah penurunan animo peserta didik (siswa/i) di sekolah menengah umum (SMA/MA) karena kecenderungan warga masyarakat umum khususnya di pedesaan lebih menginginkan putra/i-nya ikut proses belajar mengajar di SMK meningkat pesat. Juga oleh gencarnya promosi yang dilakukan para pejabat...

KARYA BAKTI UNTUK NEGERI 2014 DI KABUPATEN KEBUMEN

Komunitas SukaRelawan Palang Merah Indonesia (PMI)di media sosial ini menyelenggarakan kegiatan KARYA BAKTI untuk NEGERI (KBN) 2014 di Kabupaten Kebumen dalam rangka mewujudkan satu misi Kewirausahaan Sosial dan tujuan menguatkan upaya untuk kebaikan dan perbaikan organisasi PMI.

CELOTEH SOPIR MINIBUS GOMBONG - KEBUMEN

Perkataan sopir angkutan umum acapkali hanya dipandang sebelah mata. Kali ini sungguh luar biasa. Pengetahuan luas dan gaya bahasanya lugas. Contoh yang dikemukakan sangat masuk akal dan mengejutkan. Tiga pejabat Bupati Kebumen tak mampu selesaikan RSUD secara maksimal.

Tampilkan postingan dengan label kontradiktif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kontradiktif. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Mei 2014

Kota Vokasi: Anugerah atau Bencana - Bagian Dua

Foto: Rasimun

Ditinjau dari tujuan utama, kebijakan kota vokasi adalah untuk  peningkatan akses dan mutu SMK yang lebih besar, serta memadukan antara pendidikan kejuruan dengan pengembangan tata kota dengan mengutamakan pengembangan sektor ekonomi wilayah kabupaten/kota (Economic Development). Mengangkat faktor unik (benchmark) wilayah dan menumbuh-kembangkan wirausaha serta mengundang investor. Dari sini kita akan menarik satu garis besar dan tebal yang berujung pada peningkatan kapabilitas lokal dalam keragka peningkatan kapasitas perkenomian nasional yang disebut Gross Domestic Product (GDP).

GDP atau Produk Domestik Bruto (PBD) adalah satu pendekatan ekonomi yang dipakai untuk mengukur volume produksi barang dan jasa secara total dalam rentang waktu tertentu di sebuah negara. Di dalamnya ada unsur asing dan lokal. Jika unsur asing disisihkan akan diketahui nilai total kapasitas ekonomi yang dihasilkan oleh warga negara tersebut. Singkat kata, GDP adalah satu dari banyak indikator ekonomi umum.

Satu tujuan utama kebijakan kota vokasi adalah mengangkat sisi unik wilayah (kabupaten/ kota) tsb sebagai pemicu (trigger) dalam kerangka pembangunan ekonomi wilayah yang memfasilitasi tumbuh dan berkembangnya wirausaha serta iklim investasi daerah. Dalam beberapa tulisan di situs yang lain, saya menuliskan pentingnya kebijakan pembangunan ekonomi daerah ditopang oleh kegiatan ekonomi berbasis masyarakat dan potensi kreatif warganya. Artinya, pendekatan OVOP dan Ekonomi


Tabel 1. Kinerja Inovasi Indonesia

Copas:faisalbasri01.wordpress.com

Kreatif dapat dipilih satu diantara atau keduanya sekaligus dengan memperhatikan syarat dan ketentuan baku.

Mengangkat sisi unik sebuah daerah dapat dilakukan dengan kajian khusus semacam lomba Riset Unggulan Daerah untuk OVOP kerajinan pandan yang telah dilakukan dan tengah disusun program aksinya di Kabupaten Kebumen sejak tengah tahun 2013. Dapat juga dengan memanfaatkan potensi lain semisal keberadaan LIPI dan Laboratorium Geologi Lapangan ITB di Karangsambung yang tengah menguji secara ilmiah keterkaitan situs geologi terlengkap di dunia itu sebagai gerbang menuju Kota Atlantis yang legendaris.

Dalam konteks penerapan kebijakan kota vokasi di Kabupaten Kebumen misalnya, semestinya ada sinkronisasi langkah dengan hasil kajian OVOP di atas. Sayangnya, masyarakat umum mengalami kesulitan besar untuk mengakses hasil kaji ilmiah ini baik di situs pemerintah kabupaten maupun Bapeda. Hal serupa juga terjadi di tingkat pusat. Untuk memperoleh data primer, kita harus melakukan konfirmasi ke Sekretariat OVOP yang tidak punya situs khusus. Data yang dapat diakses hanya bersifat departemental di beberapa kementerian. Yang sangat ironis adalah data nasional program yang banyak dikelola oleh Kementerian Koperasi dan UMKM justru tidak tersedia secara layak.

AFTA akan masuk dalam kehidupan masyarakat Indonesia dalam hitungan hari, tapi tanda-tanda yang mengarah pada upaya nyata mitigasi (pencegahan atas kemungkinan menjadi bencana) di Kabupaten Kebumen khususnya belum nampak sama sekali. Pelaksanaan kebijakan kota vokasi yang telah dideklarasikan sejak 2012 masih terfokus menambang pekerja kontrak (outsourcing) yang dalam jangka tiga sampai 12 bulan berpotensi menjadi faktor pemacu bertambahnya jumlah pengangguran terbuka di daerah asal. Dalam perkembangannya, kondisi ini akan menjadi bom waktu yang dampaknya sangat luas. 

Di arena AFTA, daya saing Indonesia dilihat dari sisi kinerja inovasi (tabel 1) menunjuk posisi di bawah negara pesaing utama yakni Malaysia (34); Thailand (57); Vietnam (76) dan Philipine (95). Dibanding Singapore (3) kita kalah jauh. Realita ini jika disikapi dengan cara biasa (business is usual) jelas akan menjadi bencana kemanusiaan. Apalagi merujuk pada besaran koefisien Gini (disparitas pendapatan atau jurang kaya - miskin) yang cenderung membesar 0.37 di tahun 2009 menjadi 0,42  pada 2012. 

Jumat, 18 April 2014

Kebijakan Kota Vokasi: Anugerah atau Bencana - Bagian Satu

Foto: goog


Pada tulisan berjudul Memperbaiki Citra Pendidikan di Indonesia, saya telah menyinggung tentang penerapan Kebijakan Kota Vokasi yang satu dampaknya adalah penurunan animo peserta didik (siswa/i) di sekolah menengah umum (SMA/MA) karena kecenderungan warga masyarakat umum khususnya di pedesaan lebih menginginkan putra/i-nya ikut proses belajar mengajar di SMK meningkat pesat. Juga oleh gencarnya promosi yang dilakukan para pejabat teras di jajaran Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) beberapa waktu lalu. Provinsi Jawa Tengah yang menyatakan diri sebagai pionir pelaksanaan Rencana Strategis 2020 tentu memperkuat hasrat dan upaya mendorong 35 Kabupaten/Kota seakan berlomba mewujudkannya. Tulisan berseri ini ingin mengangkat hal yang membuat para pengelola SMU berfikir ekstra keras dalam menyiapkan diri  menyambut datangnya masa Penerimaan Siswa Baru tahun pelajaran 2014/2014 yang tinggal 2 bulan lagi.

Rektor Universitas Paramadina dan inisiator Gerakan Indonesia Mengajar, Anies Basewdan, menegaskan bahwa masalah utama di dunia pendidikan adalah lebih tertuju pada upaya meng-update guru merupakan faktor kunci ketimbang kurikulum dan tencana strategis yang dituangkan dalam kebijakan kota vokasi. Ibarat menembak, ketika kita sering meleset dalam membidik sasaran, langkah utama dan mendasar adalah memperbaiki ketrampilan penembaknya. Buka mengganti pistol atau pelurunya. Sebuah analogi yang sangat tepat. 

Lalu, mengapa kebijakan kota vokasi ini diluncurkan dan apa tujuannya. Ternyata ada dasar kuat yang mendorong banyak sekali kabupaten/kota terutama yang masih berada dalam kategori miskin ngotot menerapkan Kebijakan Kota Vokasi. Inilah dasarnya yang bisa ditemukan dengan mudah di internet.

Rencana Strategis Depdiknas, peningkatan Akses pendidikan di tingkat sekolah menengah akan lebih ditekankan pada Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dimana pada tahun 2020 perbandingan SMK-SMA adalah 60:40. Berangkat dari kebijakan tersebut, pada tahun 2007 Direktorat Pembinaan SMK mengulirkan kebijakan-kebijakan yang berorientasi pada peningkatan akses dan mutu SMK yang lebih besar, serta memadukan antara pendidikan kejuruan dengan pengembangan tata kota dengan mengutamakan :
  1. Pengembangan sektor ekonomi wilayah kabupaten/kota (Economic Development).
  2. Peningkatan kebutuhan kualitas dan standarisasi tenaga Kerja (Workforce Development).
  3. Kerja sama pengembangan karier (Career Development Partnerships).
  4. Sumberdaya yang tersedia online (Online resources)
Program ini bernama Imbal Swadaya Pengembangan Kota Vokasi.

Program rintisan pengembangan kota vokasi ini menekankan pada unsur pendekatan partisipasi Pemerintah, Pemerintah Kabupaten/kota serta masyarakat dengan memberdayakan komunitas-komunitas usaha kecil dan industri, mengembangkan kejuruan berbasis sektoral perekonomian wilayah kabupaten/kota, seperti teknologi, pertanian, pariwisata, dll. Sehingga terwujudnya suatu kota yang memiliki multifungsi yaitu sebagai pusat pembelajaran Kejuruan, pasar tenaga kerja,  serta pusat produksi guna meningkatkan Gross Domestic Product Indonesia.

     Program rintisan kota vokasi diharapkan mampu mensinergikan seluruh sumberdaya masyarakat terutama komunitas-komunitas usaha kecil dan industri, menarik investor asing, sehingga tercipta pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan dan mengurangi pengangguran.
Dengan terwujudnya dukungan, perhatian dan kerjasama yang baik dari Pemerintah, Pemerintah Daerah Kabupaten/kota serta DU/DI sesuai dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing pihak, diharapkan Program rintisan kota vokasi akan dapat direalisasikan dan masyarakat mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya.
1.    Meningkatkan Akses dan Mutu secara agregat pada seluruh SMK di Kota Vokasi.
2.    Kota Vokasi sebagai model pencitraan peningkatan mutu SMK yang dilakukan secara bersama-sama terukur dan terkoordinir.
3.    Kota Vokasi mampu memberikan pelayanan pelatihan bagi siswa SMK di kabupaten/kota sekitarnya.
4.    Kota Vokasi menjadi Benchmarking bagi daerah kabupaten/kota lainnya dalam aspek dukungan pemda bagi pengembangan mutu dan akses SMK.
5.    SMK di kota vokasi menjadi pendukung utama peningkatan kualitas tenaga kerja, tumbuhnya perekonomian, mendorong munculnya entrepreneur baru dan mengundang investor di kota vokasi.
(bersambung)

Rabu, 21 Agustus 2013

Kecil Itu Indah - (Coba) Memahami Realita

Suasana proses belajar mengajar di kelas XII 

Judul tulisan ini semula adalah "Menebar Benih di Lahan Kering". Tetapi saya ubah karena ada situasi lain yang berpengaruh.

Kehidupan ini dapat diibaratkan sebuah ladang yang harus digarap dengan segenap daya dan kesungguhan hati. Ada yang subur, kering, liat dan gersang. Lahan subur menjadi dambaan banyak orang karena dianggap penggarapannya relatif mudah dan hasilnya dapat segera dinikmati. Berbeda dari lahan keringyang memerlukan penanganan awal sampai akhir dengan beragam tantangan dan kendala. Dan akan lebih sulit ketika hak itu dilakukan di lahan yang liat. Catatan ini terinspirasi dari tulisan saudara Ngainun Main, dosen STAIN Tulungagung yang telah menerbitkan buku berjudul “Menjadi Guru Inspiratif”. 

Yang menarik perhatian saya adalah kalimat: “guru inspiratif adalah guru yang tidak hanya mengajar saja, tetapi juga mampu memberikan pengaruh ke dalam jiwa siswanya, dan lebih jauh, mampu merubah kehidupan para siswanya”. Dalam pemahaman yang saya ketahui selama ini, mengajar itu melakukan proses belajar dan mengajar sebagaimana biasa dilakukan oleh semua guru. Menyiapkan materi dan memberikannya di depan kelas. Mungkin ada bagian administratif yang terdapat pada proses itu, terutama untuk memenuhi kewajiban formal yang telah digariskan oleh lembaga penyelenggara pendidikan. Meminjam istilah dosen tadi, pemahaman ini adalah untuk kategori guru kurikulum yang merupakan bagian terbesar dari kelompok manusia Indonesia yang acapkali dinyatakan berlebih dengan sebutan “pahlawan tanpa tanda jasa” ini.
***

Saat menerima pemberitahuan lewat telepon istri, saya sempat bertanya. Mengapa...? Ada situasi apakah yang mendorong gagasan atau upaya memanggil kembali  saya untuk mengabdi kepada almamater setelah tertunda lebih dari tiga tahun sebagai guru? Sementara itu, mereka : kepala sekolah, para guru, pelaksana administrasi dan teman-teman alumni cukup memahami karakter dan situasi saya. Di tengah suasana yang menggelantung bimbang, saya berniat dan mewujudkannya dalam perbuatan untuk memohon tambahan kekuatan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa lewat shalat istikharah. Diantara banyak doa, suara hati berkata lirih “... ambil kesempatan itu dan gunakan segenap daya agar jelas arah...”

Dua kata kunci itu: ambil kesempatan dan  jelas arah. Kesempatan yang saya dapatkan saat ini adalah merasakan langsung suasana yang ada di dalam lingkungan almamater, SMA Masehi Kebumen yang kondisinya dari luar nampak kusam dan memprihatinkan. Sehingga dalam beberapa tahun terakhir sebagian fasilitasnya disewakan kepada pihak penyelenggara pendidikan lain. Yaitu Fakultas Hukum Universitas Tujuh Belas Agustus (Untag) Semarang dan dua atau tiga tahun terakhir disewakan kepada Politeknik Dharma Patria yang punya afiliasi dengan satu penerbit buku di Bandung sampai akhir April 2014. Kesempatan yang mungkin saja tak akan ada lagi jika sekolah ini ditutup dengan berbagai alasan. 

Kata kunci ke dua adalah jelas arah. Dalam pemahaman saya yang mungkin saja sangat dangkal, kehidupan ini dapat diibaratkan sebagai suatu proses perjalanan yang di dalamnya terdapat banyak jalan (pilihan), moda (alat), rambu-rambu (aturan) dan beragama jenis serta latar belakang kehidupan manusia yang melakukan perjalanan itu. Dengan arah yang jelas, proses perjalanan itu akan menjadi semakin mudah untuk dilakukan dan risiko yang mungkin dihadapi juga akan cukup terukur. Tidak ada pertaruhan atau pengorbanan yang sia-sia.

Sekadar illustrasi, di masa saya menempuh pendidikan menengah di sekolah itu, suasananya sangat jauh berbeda dari saat ini. Jumlah muridnya sangat banyak karena rata-rata setiap kelas diisi oleh 50 siswa. Dan setiap jenjang maupun jurusan sedikitnya ada 2 kelas. Dengan perkiraan kasar tersebut, sekolah yang letaknya di tengah kota dan di depan icon Kebumen, Tugu Lawet, SMA Masehi Kebumen di tahun-tahun 1980-an menyelenggarakan proses belajar mengajar bagi sedikitnya 600 siswa { 3 jenjang ( kelas 1 - 3) x 2 jurusan ( IPA dan IPS) x 2 (kelas dalam setiap jurusan) x 50 (jumlah rata-rata siswa setiap kelas)}. Asal siswa juga beragam, datang dari hampir seluruh wilayah kecamatan dan desa di Kabupaten Kebumen. Bahkan tidak sedikit yang berasal dari kabupaten lain terutama Purworejo, Banyumas dan Cilacap.

Situasi diskusi kelompok di kelas XI

Situasi yang ada saat ini sangat berbeda, bahkan bisa disebut bertolak belakang. Jumlah siswa yang mengikuti proses belajar mengajar sama untuk dua kelas (XI dan XII) yang diselenggarakan yakni 5. Hanya ada satu jurusan, Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Tidak ada kelas awal (X) dan diampu oleh 11 orang guru, seorang penyelenggara administrasi (Tata Usaha/TU) dan seorang tukang kebun atau penjaga sekolah. Artinya, secara kuantitatif terjadi kemunduran yang sangat drastis dibanding tahun 1980-an. Hal serupa juga terjadi dalam sisi kualitatif. Keadaan ini juga dirasakan oleh para siswa kelas XII yang saya minta pendapatnya melalui tulisan di bawah ini.

Ungkap rasa siswa kelas XII
Ungkap rasa siswi kelas XII

Secara garis besar, para siswa menggambarkan suasana yang mereka alami sepanjang mengikuti proses belajar mengajar sejak awal hingga kini dengan ungkapan keprihatinan. Ada yang menyebut kata kaget dan sedih ketika tahu jumlah teman satu kelas sangat sedikit dan dari keluarga yang secara sosial-ekonomi relatif biasa atau kekurangan. Demikian juga atas fasilitas sekolah yang sangat minimal. Meski begitu, semua menyatakan harapan dengan optimisme (semangat). Apakah ini merupakan ekspresi sesaat atau pemahaman yang lugas dari remaja menjelang dewasa sebagai akibat proses interaktif dengan saya. Atau ada alasan lain yang mendorong munculnya ungkap rasa seperti itu, yang jelas saya meminta mereka menulis dengan jujur dan tidak boleh saling mempengaruhi. (bersambung)
Tulisan ini juga ada di sini.