RAPOR MERAH DI HARI PENDIDIKAN NASIONAL

Kurikulum 2013 tak mampu dibendung lagi. Protes keras AGTIKKNAS sampai ke DPR dan Gedung Kemendiknas tak menyurutkan niat merevisi keputusan yang menghapus mapel TIK dan KKPI.

KOTA VOKASI : ANUGERAH ATAU BENCANA - BAGIAN II

Kebijakan kota vokasi adalah untuk peningkatan akses dan mutu SMK yang lebih besar, serta memadukan antara pendidikan kejuruan dengan pengembangan tata kota dengan mengutamakan pengembangan sektor ekonomi wilayah kabupaten/kota (Economic Development).

KOTA VOKASI: ANUGERAH ATAU BENCANA - BAGIAN I

Kebijakan Kota Vokasi yang satu dampaknya adalah penurunan animo peserta didik (siswa/i) di sekolah menengah umum (SMA/MA) karena kecenderungan warga masyarakat umum khususnya di pedesaan lebih menginginkan putra/i-nya ikut proses belajar mengajar di SMK meningkat pesat. Juga oleh gencarnya promosi yang dilakukan para pejabat...

KARYA BAKTI UNTUK NEGERI 2014 DI KABUPATEN KEBUMEN

Komunitas SukaRelawan Palang Merah Indonesia (PMI)di media sosial ini menyelenggarakan kegiatan KARYA BAKTI untuk NEGERI (KBN) 2014 di Kabupaten Kebumen dalam rangka mewujudkan satu misi Kewirausahaan Sosial dan tujuan menguatkan upaya untuk kebaikan dan perbaikan organisasi PMI.

CELOTEH SOPIR MINIBUS GOMBONG - KEBUMEN

Perkataan sopir angkutan umum acapkali hanya dipandang sebelah mata. Kali ini sungguh luar biasa. Pengetahuan luas dan gaya bahasanya lugas. Contoh yang dikemukakan sangat masuk akal dan mengejutkan. Tiga pejabat Bupati Kebumen tak mampu selesaikan RSUD secara maksimal.

Tampilkan postingan dengan label guru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label guru. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Maret 2014

Guru Mogok, Siapa Yang Salah ? - Bagian Doea


Ada yang menarik dari upaya para guru mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) untuk jalur pendidikan umum serta Ketrampilan Komputer dan Pengolahan Informasi (KKPI) bagi sekolah kejuruan/SMK yang mempertanyakan alasan hilangnya mata pelajaran itu dalam Kurikulum 2013 yang kini tengah diujicobakan di berbagai wilayah di tanah air. Penelusuran pertama tentu dari sumber informasi sekunder. Jika kita pernah menanda-tangani satu petisi di www.change.org/, setiap ada petisi baru akan muncul dalam kotak masuk e mail berupa pemberitahuan. Ada dua petisi serupa. Pertama, diajukan oleh Sekretaris jenderal Asosiasi Guru TIK dan KKPI Nasional atas nama Wijaya Kusumah. Yang kedua berasal dari Musyawarah Guru Mata Pelajaran atau MGMP TIK Kalimantan Timur

Bila kita cermati posting dan komentar para anggota Asosiasi Guru TIK dan KKPI Nasional di jejaring sosial facebook , banyak sisi yang selama ini sering hanya muncul sebagai bahan perbincangan di bawah permukaan alias bisik-bisik, menjadi begitu terang dan gamblang. Bahwa, banyak guru dan kepala sekolah yang berijasah Strata 2 (S2) dan tengah menempuh Strata (3) diragukan kemampuan pribadinya dalam menguasai Teknologi Informasi dan Komunikasi. Jangankan internet yang sekarang tengah mengalami fase perkembangan luar biasa karena kehadiran telepon selular canggih (android dan sejenisnya) sehingga informasi mengalir seolah tanpa batas waktu dan ruang dengan beragam isi dan aplikasinya. Untuk menghidupkan komputer saja banyak yang mengalami kesulitan. Apalagi menggunakan aplikasi yang ada di dalamnya.

Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), nampaknya telah berbulat hati untuk melanjutkan keinginan menerapkan Kurikulum 2013 tanpa kehadiran mata pelajaran TIK dan KKPI. Dari acara perbincangan langsung (talkshow)  antara Direktur SMA Kemendikbud, Harris Iskandar dan Wijaya Kusumah yang mewakili AGTIKKNAS di Berita Satu TV jelas terlihat kekukuhan sikapnya meski tekah diingatkan bahwa dampak pemberlakuan Kurikulum 2013 tanpa TIK akan bukan mengantar generasi muda Indonesia menjadi generasi emas di tahun 2045 atau seabad usia Proklamasi Kemerdekaan RI. Justru sebaliknya, membuatnya menjadi generasi yang cemas dan lemas.

Dalam satu tulisan yang dimuat di situs resmi Kemendikbud, Harris Iskandar menjelaskan dengan begitu menyakinkan. Bekal mencari kerja di abad 21 bukan lagi kemampuan baca, tulis dan hitung yang disingkatnya dengan istilah calistung. Tapi harus berbekal pula dengan kemampuan TIK. Pada selang waktu tak begitu jauh (06 Januari 2014) dan 17 Maret 2014, jutaan orang menjadi saksi betapa pongahnya pejabat setingkat Direktur di Kemendikbud itu. Banyak pertanyaan mendasar yang tak mampu dijawabnya, selain selalu berkelit bahwa guru TIK tak dirugikan dengan kehadiran Kurikulum 2013 dan anak saya (sambil menujuk Wijaya Kusumah sebagai gurunya di Lab School Jakarta) tanpa dibimbing sudah bisa mengunduh dari internet. Arahnya menjadi sangat jelas, bahwa Kurikulum 2013 adalah sebuah proyek di akhir masa jabatan Kemendikbud pada Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II. Bukan merupakan program seperti yang didengungkan dengan memberi sebutan generasi emas.

Seorang anggota grup Fb Agttiknas, Lucky Mamusung, membuat sebuah status yang sangat menyentuh (jika para pembacanya masih punya nurani). Penggalan dalam beberapa alinea terakhir adalah sebagai berikut:

  • Anak saya sudah bisa mendownload di komputer saya, tapi yang didownload itu tanpa disadarinya adalah malware dan trojan. Sehingga merusak browser, bahkan mengambil alih desktop saya. Saya harus install ulang sistem saya, kehilangan banyak data-data penting di pekerjaan dan waktu untuk memperbaikinya.
  • Anak saya meringkuk merasa sangat bersalah atas ketidaktahuan yang dilakukannya. Membuat saya mengeluh dalam hati, mengapa sekolah tidak mengajarkan tentang etika browsing dan keamanan data pada anak saya? Andai sekolah mengajarkan TIK padanya, tentu kerugian materil seperti ini bisa dihindari...
  • Menarik napas yang menyesakan dada... bertanya-tanya...
  • Mengapa pendidikan negara ini berjalan mundur?

Satu pertanyaan wajar dan sangat mendasar. Pada tulisan berjudul Mengembalikan Citra Pendidikan Indonesia , Ari Saputra menyebut 3 penyakit utama dalam manajemen pendidikan nasional :
  1. Tidak percaya diri. Bukti : kebiasaan menyontek dan copas (copy paste).
  2. Mengagungkan ijasah. Memberi harga lebih pada nilai formal ijasah ketimbang isinya. Hal ini menyebabkan orang cenderung pragmatis dan kapitalis. 
  3. Ketidak-merataan sebaran informasi, sarana dan prasarana pendidikan.
Masalah pendidikan di Indonesia sudah seperti benang kusut yang sangat sulit diurai. Sementara itu, di belahan dunia lain justru berani melakukan perubahan mendasar dan karenanya terus berjalan maju. Kurikulum hanya sebuah alat, bukan roh yang menandai hidup matinya manusia. Bersikukuh dengan membiarkan kekeliruan terus berlangsung bukan hanya menghilangkan kesempatan bangkit dari tidur panjang alam feodalisme yang berlaku selama ini. Ini sama artinya dengan penjajahan berselubung formalitas karena membunuh karakter manusia Indonesia yang merdeka dan bermartabat. 

Sabtu, 22 Maret 2014

Guru Mogok, Siapa Yang Salah ? - Bagian Satoe

Guru Oemar Bakri (ilustrasi).

Di tengah hura-hura politik di masa kampanye pemilu legislatif, ada berita yang sangat menarik perhatian saya ketimbang sejumlah janji gombal para politisi di berbagai panggung kampanye. Berita itu menyiratkan bahwa Dinas Pendidikan di tiap kabupaten/kota lalai melakukan kewajiban mengurus inpassing (penyetaraan gaji) para guru non PNS (Pegawai Negeri Sipil) alias kesejahteraan guru swasta diabaikan karena tidak mendapat "imbalan jasa" atas pengurusan itu. Menurut Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Retno Listyarti, Dinas Pendidikan merasa bahwa pekerjaan mengurus hal itu akan berakhir sia-sia karena semua keputusan dan penyaluran dana bagi inpassing dilakukan langsung oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Akibatnya, orang-orang di Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota tak mendapat "cepretan" atau upeti.

Soal buruknya kualitas kelembagaan, evaluasi UNDP ayas Indeks Pembangunan Manusia Indonesia hanya memberi nilai 4 (empat) dalam skala 7 (tujuh) dan mengalami stagnasi selama 4 (empat) tahun berturut-turut sejak 2009 sampai 2012. Yang mencengangkan adalah terjadinya kenaikan dalam Indeks Ginie dari 0,37 menjadi 0,41 dalam kurun waktu yang sama. Artinya, kesenjangan pendapatan antara kaya - miskin kian melebar. Yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Pada tataran nasional, kondisi ini cukup membahayakan. 

Sementara itu, kondisi di lapangan tentu jauh lebih rumit dari paparan angka tadi. Sejak adanya keputusan pemerintah mengalokasikan anggaran bidang pendidikan menjadi 20%, pihak yang diuntungkan adalah para guru PNS. Ada sebuah ilustrasi menarik dari seorang kompasianer yang mantan wartawan majalah remaja tentang kesenjangan tadi. Di Jakarta, seorang guru PNS dapat menerima hampir Rp 9 juta sebulan untuk golongan IV. Sebaliknya, banyak guru swasta hanya memperoleh gaji di bawah UMP/ UMR yang jumlahnya berkisar Rp 600 - Rp 800 ribu. Bahkan masih ada yang menerima gaji dibawah Rp 250 ribu. Terutama "sekolah gurem" di daerah (kabupaten/kota). Ini gambaran di tahun 2010.

Gambaran kesenjangan pendapatan antara guru PNS dan non PNS dijelaskan lebih gamblang oleh Walikota Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah. Dengan naiknya derajat kesejahteraan (ekonomi),  kinerja guru PNS mestinya meningkat. Ditegaskan oleh pimpinan daerah itu, meski pemerintah seolah memanjakan mereka, namun tidak ada perubahan yang signifikan dalam dunia pendidikan kita. Paling tidak, pernyataan itu selaras dengan paparan UNDP. Angka Partisipasi Murni (APM) meski naik, tapi baru mencapai tingkat SMP. Untuk tingkat SMA dan perguruan tinggi masih perlu kerja keras.

Ironi negeri yang pernah dijuluki jamrud katulistiwa ini kian menjadi karena kuatnya praktik KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme) di segala segi dan lini. Sejak pertengahan 1970-an, kerusakan dunia pendidikan nasional sebenarnya telah mengemuka. Di jaman rejim militeristik Orde Baru itu pernah ada program KPG (Kursus Pendidikan Guru) bagi guru-guru SD (Sekolah Dasar) yang belum berbekal ijasan setara SPG/ SMA. Kursus yang diampu oleh para guru SPG (Sekolah Pendidikan Guru) ini juga menjadi "ajang bisnis" bagi Kepala Dinas Pendidikan baik secara langsung maupun melalui orang-orang kepercayaannya. 

Almarhumah ibu kandung kami (Atiatoen) dinyatakan tidak lulus bukan karena tak mampu memenuhi kewajiban peserta didik (kursus). Hanya karena tak bersedia menyerahkan "upeti" kepada istri Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten saat itu, mantan anggota Staf Putri Tentara Pelajar ini pernah tidak diberi kesempatan melakukan inpassing selama lebih dari 15 tahun. Terakhir, karena alasan capek dan sumpeg, beliau mengajukan pensiun dini pada usia 56 tahun setelah mengabdi sekitar 36 tahun di kantong-kantong gerilya, merintis sekolah di Rembang dan terakhir di kota tempat beliau dibesarkan dengan pangkat/holongan IIIC. Beliau memilih jadi orang biasa, bukan veteran pejuang kemerdekaan meski memiliki bukti otentik dan sejumlah saksi yang menguatkan.  Satu hal yang senantiasa saya ingat, beliau menegaskan bahwa ”guru bukan buruh”. Buruh berunjuk rasa itu jamak. Tapi jika guru melakukannya juga berarti merupakan ”berita duka”. Masih banyak cara beradab menunjukkan ketidaksetujuan terhadap perilaku pemimpin yang menyimpang.
Tulisan ini dapat juga dibaca di : kompasiana.com.

Sabtu, 08 Maret 2014

Mengapa Mendikbud Dipetisi Om Jay ?

Ilustrasi: googling.

Wijaya Kusumah yang akrab di panggil Om Jay adalah seorang guru TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) SMP Labschool Jakarta (UNJ). Bagi Kompasianer, sebutan penulis di media warga kompasiana.com , dan blogger namanya cukup dikenal.  Bahkan kompasianer ini mendapat  penghargaan khusus sebagai Guru Paling Ngeblog 2012. Beliau memang pantas menerimanya karena sangat produktif dalam hal tulis menulis di blog baik di Kompasiana maupun di blog pribadinya. Isi tulisan beragam, sebagian besar berkait dengan profesinya selaku guru TIK. Gaya bahasa dalam setiap tulisannya mencerminkan kematangan pribadi yang lugas, santun dan rendah hati.

Meski secara pribadi hanya mengenal lewat dunia virtual, dalam beberapa tulisan terakhir, Om Jay banyak menyorot tentang Kurikulum 2013 yang konon sangat dibanggakan oleh Kemendikbud sebagai upaya membangun generasi emas Indonesia. Sejak awal bergulirnya isu tentang rencana pemberlakuan Kurikulum 2013, saya tidak tertarik untuk mendalami. Dalam hati, kurikulum yang diluncurkan di akhir masa jabatan Presiden yang mengangkat para menterinya berkesan tak lebih dari sekadar proyek. Pengalaman di masa lalu memang menunjukkan bahwa setiap ganti menteri tentu akan diikuti dengan ganti kebijakan. Dan kurikulum adalah wewenang kementerian pendidikan dan kebudayaan.

Sesuai judul tulisan, Om Jay Mempetisi Mendikbud, dalam kegerahan yang teramat sangat, Om Jay masih berusaha menutup segala gelisah dengan penjelasan cukup rinci. Meski memakai istilah yang tak lazim dalam dunia pendidikan yakni "dibunuh" dan "membunuh", tapi nada sangat tinggi nampak pada perumpamaan atau pembandingnya. Kutipan perbandingan itu sangat panjang :

... ketika guru bahasa Indonesia memberi tugas kepada siswa untuk membuat laporan deskriptif, disamping mengajarkan teori/materinya tentang bentuk – bentuk laporan deskriptif, guru juga harus mengajarkan bagaimana cara mengetik dan membuat laporan tersebut di komputer. Inilah yang disebut integratif. Sekarang bagaimana kalau logikanya dibalik, Guru TIK mengajarkan anak-anak cara mengetik di Pengolah Kata (Word misalnya) dan sebagai bahannya bisa berupa laporan deskriptif yang dicari siswa di internet. Singkat kata pelajaran bahasa Indonesia secara keilmuan juga tidak diperlukan lagi.

Perbandingan yang masuk akal dan sangat tepat untuk melemahkan argumentasi yang dipakai untuk meniadakan mata pelajaran TIK/KKPI pada Kurikulum 2013 yang berkesan mengada-ada atau sangat mengambang. Coba dibandingkan lagi dengan tulisan Harris Iskandar selaku Direktur Pembinaan SMA Kemendikbud dan ekonom Faisal Basri. Apalagi jika ditambah dengan hasil kajian UNDP menurut Indeks Pembangunan Manusia di Indonesia. Maka, TIK berperan penting dalam hal mengisi kemampuan manusia Indonesia dalam memecahkan masalah. 

Banyak bukti yang ada di lapangan menunjukkan dengan gamblang bahwa kemampuan TIK manusia dewasa di Indonesia relatif rendah. Komputer dengan segala fasilitasnya acapkali tak lebih sebagai alat ca-lis-tung (baca, tulis dan hitung). Bahkan tak terlalu sulit untuk menemukan fakta bahwa komputer sama dengan gudang lagu, permainan dan film/ video. Dan internet adalah wahana pemuas kebutuhan bersosialisasi melalui beragam media sosial. Jarang sekali yang memanfaatkan komputer sebagai alat analisis untuk menguatkan kemampuan diri dalam mengambil keputusan (problem solving skill). 

Dari tulisan Harris Iskandar saja kita dapat menangkap sinyal yang sangat kuat tentang lemahnya faktor institusional di  Kemendikbud. Apalagi di dinas dan Unit Pelaksana Teknis (UPT). Selain itu, berbekal pengalaman mengelola warung internet (warnet) dan sebagai operator data di sebuah SMA swasta, saya sering menemukan fakta sebagaimana dipaparkan dalam berbagai tulisan Om Jay tentang pentingnya mata pelajaran TIK. Karena itu, sangat wajar seorang Wijaya Kusumah dengan pengalaman dan kemampuan yang mumpuni di bidang TIK mengajukan petisi kepada Mendikbud selaku penanggung jawab utama pengorganisasian Kurikulum 2013. Soal efektif atau tidak itu urusan belakang. 

Rabu, 05 Maret 2014

Memperbaiki Citra Pendidikan di Indonesia - Bagian 4


Ada kesamaan pandangan antara pengamat ekonomi Faisal Basri dan Direktur Pembinaan SMA, Harris Iskandar tentang pentingnya mengubah paradigma pendidikan di Indonesia ke depan. Yakni pendekatan input yang bertumpu pada faktor sekolah yang berlaku selama ini menjadi pendekatan output yang mengembangkan kadar (tingkat) kemampuan baca, tulis, hitung dan pemecahan masalah. Hal yang sama juga dipaparkan oleh Harris dengan dukungan data yang cukup rinci di sini.  Dengan gaya khas pejabat yang gemar membuat singkatan, Direktur Pembinaan SMA ini mengungkapkan keadaan yang perlu dipakai sebagai bekal mencari kerja yaitu calistungtik (baca - tulis - hitung dan TIK). 

Banyak pihak telah mengingatkan kita semua bahwa satu peristiwa besar yang sudah di ambang pintu adalah pemberlakuan tatanan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015. Dari semua indikator yang dipaparkan sebagai faktor berpengaruh (impact factors), kita kalah jauh dibanding dua negeri jiran yang banyak dihuni oleh para diaspora Indonesia yakni Singapura dan Malaysia. Dari data yang dipaparkan BPS di sini , evaluasi UNDP tentang Indeks Pembangunan Manusia di Indonesia dan  hasil survey ketenaga-kerjaan OECD  mengisyaratkan bahwa  kondisi dunia pendidikan di Indonesia secara umum memerlukan perhatian khusus. Rekomendasi Harris Iskandar  di sumber sama dengan yang ada di atas, bahwa " kunci sukses untuk mempersiapkan warga negara di abad 21 ini adalah dengan memperbaiki mutu pendidikan menengah " (The Economist, 2013) bukan dengan model by pass .                                                   

AFTA dan MEA sudah di depan mata, bahkan sangat mungkin telah memasuki kehidupan nyata masyarakat Indonesia. Semestinya tak perlu lagi ada keributan semacam ini. Kurikulum 2013 hampir mustahil dihapuskan, tetapi masih ada sedikit waktu untuk memperbaiki banyak kekurangan yang ada di dalamnya. Jangan hanya karena ingin mengejar obsesi Generasi Emas yang menjadi dasar pemikiran munculnya kurikulum ini. Kelemehanan institusional di lingkungan internal kementerian pendidikan (Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota) yang tidak memberi ruang bagi improvisasi dan pengembangan kapasitas non administratif para guru juga harus dijalankan secara simultan.

Memperbaiki citra pendidikan tak cukup dengan penyesuaian atau penggantian kurikulum dan "mendewakan sistem penilaian berbasis TIK". Karena subyek dan obyek pendidikan adalah manusia masa depan. Bukan manusia sekarang yang sarat dengan muatan kepentingan sektarian. Berdasarkan data statistik maupun kenyataan yang terjadi di lapangan, dunia pendidikan di Indonesia tertinggal di hampir semua aspek. Untuk mengantisipasi MEA yang akan berlaku mulai tahun depan saja kita akan mengalami banyak kesulitan teknis, khususnya strategis.

Dari semua hal yang terpetakan, kunci utama adalah pada pemimpin nasional maupun lokal. Pemilu legislatif 9 April 2014 mendatang diprediksi tak akan mengubah secara mendasar peta politik nasional yang masih sarat dengan praktik politik sektarian  karena sekitar 90% calon adalah anggota DPR periode 2009 - 2014. Kondisi yang tak lebih baik juga akan terjadi di pilpres 2014. 

Meski gambaran umum masih sangat buram, ada satu hal kadang kala dilupakan dan tak masuk akal. Ketika situasi terjepit dan sangat dilematis, sepanjang sejarah kebangsaan Indonesia, selalu muncul orang atau sekelompok orang yang mampu menyelamatkan bangsa dari kehancuran peradaban. Dan itu diharapkan dari kalangan pendidikan. Semoga.        
  

Kamis, 22 Agustus 2013

Kecil itu Indah - Menebar Benih di Lahan Kering

Alm. Ibu Atiatoen saat peresmian monumen
dan jalan Tentara Pelajar Kebumen Nov. 2000

Kita seringkali dihadapkan pada pilihan-pilihan yang nampak sulit ketika tengah mengalami masalah. Terutama yang menyangkut kemaslahatan, tentang banyak orang dengan beragam karakter. Pilihan antara menjadi pemimpin dan orang tua bagi sejumlah relawan PMI yang tengah bergairah memperbaiki keadaan organisasi agar sesuai dengan maqom-nya adalah satu diantaranya. Memelihara satu komitmen yang disepakati dalam satu permusyawaratan kecil dan terbatas adalah satu tanggung-jawab yang lebih besar dari pada sebuah hak yang acapkali dimaknai secara fisikal. Bentuk luar suatu gelombang pemikiran dan perasaan yang mungkin saja bersifat sepihak. 

Begitu juga dalam menentukan sikap selaku pemimpin yang digambarkan sebagai sosok tegas dan lain-lain persepsi. Tidak salah tapi mungkin saja keliru. Karena menjadi orang tua dari banyak anak yang berbeda karakter, orientasi sosial dan kapasitas individualnya bukan hal yang mudah. Apalagi dengan rentang pengetahuan dan pengalaman yang cukup jauh. Gambaran itulah yang saya alami ketika harus menentukan pilihan di atas.
***

Pada tulisan sebelumnya, Kecil itu Indah – (Coba) Memahami Realita, telah dijelaskan secara ringkas tentang posisi menjadi guru di sekolah yang pernah mewarnai kehidupan pribadi saya semasa remaja yang secara aktual tengah mengalami masa-masa sulit. Sepanjang hidup, saya tak pernah punya gambaran akan menjadi guru formal. Berdiri di depan kelas, menyampaikan materi, berinteraksi dengan peserta didik (siswa) dan guru lain serta semua orang maupun beragam aspek yang ada dalam proses belajar mengajar di sekolah tersebut. Tidak pernah tahu perbedaan antara guru kurikulum dan inspiratif. Yang saya tahu, guru adalah manusia yang dimuliakan kedudukannya di atas manusia lain di hadapan Tuhan Yang Maha Pencipta karena kemampuannya menyebarkan pengetahuan (ilmu).

Pemahaman di atas tak terlepas dari pengalaman hidup sebagai anak seorang guru SD yang pernah ikut serta dalam perjuangan menegakkan kemerdekaan bangsa Indonesia lewat Tentara Pelajar. Melihat, merasakan dan bersikap dalam keseharian bersama almarhumah ibu kandung yang senantiasa mengedepankan sikap merdeka (mandiri), jujur, berani dan tegas.  Sifat dan sikap yang tak disukai banyak orang di lingkungan formalnya. Karena sikap ini pula beliau sering mengalami diskriminasi : ditunda kenaikan pangkat, dinyatakan tidak lulus uji dan lain-lain perlakuan yang sekarang popular dengan sebutan KKN ( korupsi, kolusi dan nepotisme). Sampai  akhir hayat beliau (2010), sikap itu tetap dipelihara dengan segenap daya. Di antara banyak murid beliau yang menjadi guru di berbagai tingkatan pendidikan, sering muncul sebutan mahaguru  atau bethara guru buat almarhumah. Sebutan yang mungkin merupakan penghargaan atau sejenisnya, tapi tetap tak mengubah sikap saya yang mendampingi beliau di hampir sepanjang usia.

Pemimpin, orang tua dan guru adalah tiga komponen penting dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pemimpin pada dasarnya melekat pada setiap manusia sebagai mahluk yang dimuliakan oleh Sang Khalik. Dalam praktik, di kehidupan nyata, tidak semua manusia mampu memelihara kemuliaan itu. Satu faktor utama yang banyak mempengaruhi adalah kehilangan daya dalam memelihara sikap merdeka dan jujur. Mengapa begitu?

Manusia yang kehilangan daya mempertahankan kemerdekaannya tidak berbeda kedudukan dirinya sebagai budak. Budak nafsu misalnya, adalah orang yang dikuasi oleh nafsunya sehingga kehilangan sikap-sikap positif manusia yang membedakannya dari binatang atau mahluk lain ciptaanNya. Terutama nurani yang menjadi ciri khas manusia. Budak adalah manusia terjajah. Dengan kata lain, manusia yang menjadikan atau menyediakan dirinya sebagai budak adalah  manusia yang tidak mandiri. Menyerupai benalu yang hidupnya bergantung pohon induk.

Saat ini, ketika banyak muncul kecenderungan mengagungkan diri atau kelompoknya, tidak sedikit warga masyarakat Indonesia merasa kehilangan daya untuk menghadirkan pemimpin yang mampu mengarahkan jalan untuk menggapai cita-cita kemerdekaan bangsa. Yakni suatu tata kehidupan yang mampu menyelenggarakan keadilan sosial. Karena sosok yang muncul adalah para penguasa. Bukan pemimpin yang melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia. Baik dalam skala kecil semacam desa, kampung atau sejenisnya, maupun seluruh ruang lingkup wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pendidikan adalah faktor utama dalam memelihara daya merdeka, mencerdaskan kehidupan bangsa. Proses penyelenggaraan pendidikan tetap merupakan porsi terbesar pemerintah selaku penyelenggara negara sesuai amanat Undang Undang Dasar 1945. Kegagalan dalam proses ini akan berdampak sangat besar dalam upaya menggapai cita-cita kemerdekaan sebagai negara yang berkeadilan sosial. Dan manajemen (penyelenggaraan) pendidikan tidak sebatas penyediaan kurikulum. Karena di dalamnya terdapat aspek pelaksanaan dan pengendalian yang berujung pada output atau hasil yang tetap berpijak pada pemaknaan atas kemerdekaan bangsa Indonesia.


Dari pemahaman di atas, saya merasa menemukan lahan pengabdian yang sesuai dengan amanat almarhumah ibu dan cita-cita kemerdekaan bangsa Indonesia di almamater saat ini.  Amanat itu ada di catatan harian beliau semasa akan mengabdi di lahan kering, dunia pendidikan yang berkarakter keindonesiaan.  Isinya “ pelan tapi pasti, bukan yang banyak itu baik, tapi yang baik pastilah yang banyak. Berbekal niat mengamalkan ilmu, benih-benih keindonesiaan akan terus saya coba tebarkan di setiap langkah kehidupan. Di dalam keluarga, sekolah, Kampoeng Relawan dan masyarakat umum. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa menguatkan langkah ini. Amien. 
Tulisan ini dimuat juga di sini.

Rabu, 21 Agustus 2013

Kecil Itu Indah - (Coba) Memahami Realita

Suasana proses belajar mengajar di kelas XII 

Judul tulisan ini semula adalah "Menebar Benih di Lahan Kering". Tetapi saya ubah karena ada situasi lain yang berpengaruh.

Kehidupan ini dapat diibaratkan sebuah ladang yang harus digarap dengan segenap daya dan kesungguhan hati. Ada yang subur, kering, liat dan gersang. Lahan subur menjadi dambaan banyak orang karena dianggap penggarapannya relatif mudah dan hasilnya dapat segera dinikmati. Berbeda dari lahan keringyang memerlukan penanganan awal sampai akhir dengan beragam tantangan dan kendala. Dan akan lebih sulit ketika hak itu dilakukan di lahan yang liat. Catatan ini terinspirasi dari tulisan saudara Ngainun Main, dosen STAIN Tulungagung yang telah menerbitkan buku berjudul “Menjadi Guru Inspiratif”. 

Yang menarik perhatian saya adalah kalimat: “guru inspiratif adalah guru yang tidak hanya mengajar saja, tetapi juga mampu memberikan pengaruh ke dalam jiwa siswanya, dan lebih jauh, mampu merubah kehidupan para siswanya”. Dalam pemahaman yang saya ketahui selama ini, mengajar itu melakukan proses belajar dan mengajar sebagaimana biasa dilakukan oleh semua guru. Menyiapkan materi dan memberikannya di depan kelas. Mungkin ada bagian administratif yang terdapat pada proses itu, terutama untuk memenuhi kewajiban formal yang telah digariskan oleh lembaga penyelenggara pendidikan. Meminjam istilah dosen tadi, pemahaman ini adalah untuk kategori guru kurikulum yang merupakan bagian terbesar dari kelompok manusia Indonesia yang acapkali dinyatakan berlebih dengan sebutan “pahlawan tanpa tanda jasa” ini.
***

Saat menerima pemberitahuan lewat telepon istri, saya sempat bertanya. Mengapa...? Ada situasi apakah yang mendorong gagasan atau upaya memanggil kembali  saya untuk mengabdi kepada almamater setelah tertunda lebih dari tiga tahun sebagai guru? Sementara itu, mereka : kepala sekolah, para guru, pelaksana administrasi dan teman-teman alumni cukup memahami karakter dan situasi saya. Di tengah suasana yang menggelantung bimbang, saya berniat dan mewujudkannya dalam perbuatan untuk memohon tambahan kekuatan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa lewat shalat istikharah. Diantara banyak doa, suara hati berkata lirih “... ambil kesempatan itu dan gunakan segenap daya agar jelas arah...”

Dua kata kunci itu: ambil kesempatan dan  jelas arah. Kesempatan yang saya dapatkan saat ini adalah merasakan langsung suasana yang ada di dalam lingkungan almamater, SMA Masehi Kebumen yang kondisinya dari luar nampak kusam dan memprihatinkan. Sehingga dalam beberapa tahun terakhir sebagian fasilitasnya disewakan kepada pihak penyelenggara pendidikan lain. Yaitu Fakultas Hukum Universitas Tujuh Belas Agustus (Untag) Semarang dan dua atau tiga tahun terakhir disewakan kepada Politeknik Dharma Patria yang punya afiliasi dengan satu penerbit buku di Bandung sampai akhir April 2014. Kesempatan yang mungkin saja tak akan ada lagi jika sekolah ini ditutup dengan berbagai alasan. 

Kata kunci ke dua adalah jelas arah. Dalam pemahaman saya yang mungkin saja sangat dangkal, kehidupan ini dapat diibaratkan sebagai suatu proses perjalanan yang di dalamnya terdapat banyak jalan (pilihan), moda (alat), rambu-rambu (aturan) dan beragama jenis serta latar belakang kehidupan manusia yang melakukan perjalanan itu. Dengan arah yang jelas, proses perjalanan itu akan menjadi semakin mudah untuk dilakukan dan risiko yang mungkin dihadapi juga akan cukup terukur. Tidak ada pertaruhan atau pengorbanan yang sia-sia.

Sekadar illustrasi, di masa saya menempuh pendidikan menengah di sekolah itu, suasananya sangat jauh berbeda dari saat ini. Jumlah muridnya sangat banyak karena rata-rata setiap kelas diisi oleh 50 siswa. Dan setiap jenjang maupun jurusan sedikitnya ada 2 kelas. Dengan perkiraan kasar tersebut, sekolah yang letaknya di tengah kota dan di depan icon Kebumen, Tugu Lawet, SMA Masehi Kebumen di tahun-tahun 1980-an menyelenggarakan proses belajar mengajar bagi sedikitnya 600 siswa { 3 jenjang ( kelas 1 - 3) x 2 jurusan ( IPA dan IPS) x 2 (kelas dalam setiap jurusan) x 50 (jumlah rata-rata siswa setiap kelas)}. Asal siswa juga beragam, datang dari hampir seluruh wilayah kecamatan dan desa di Kabupaten Kebumen. Bahkan tidak sedikit yang berasal dari kabupaten lain terutama Purworejo, Banyumas dan Cilacap.

Situasi diskusi kelompok di kelas XI

Situasi yang ada saat ini sangat berbeda, bahkan bisa disebut bertolak belakang. Jumlah siswa yang mengikuti proses belajar mengajar sama untuk dua kelas (XI dan XII) yang diselenggarakan yakni 5. Hanya ada satu jurusan, Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Tidak ada kelas awal (X) dan diampu oleh 11 orang guru, seorang penyelenggara administrasi (Tata Usaha/TU) dan seorang tukang kebun atau penjaga sekolah. Artinya, secara kuantitatif terjadi kemunduran yang sangat drastis dibanding tahun 1980-an. Hal serupa juga terjadi dalam sisi kualitatif. Keadaan ini juga dirasakan oleh para siswa kelas XII yang saya minta pendapatnya melalui tulisan di bawah ini.

Ungkap rasa siswa kelas XII
Ungkap rasa siswi kelas XII

Secara garis besar, para siswa menggambarkan suasana yang mereka alami sepanjang mengikuti proses belajar mengajar sejak awal hingga kini dengan ungkapan keprihatinan. Ada yang menyebut kata kaget dan sedih ketika tahu jumlah teman satu kelas sangat sedikit dan dari keluarga yang secara sosial-ekonomi relatif biasa atau kekurangan. Demikian juga atas fasilitas sekolah yang sangat minimal. Meski begitu, semua menyatakan harapan dengan optimisme (semangat). Apakah ini merupakan ekspresi sesaat atau pemahaman yang lugas dari remaja menjelang dewasa sebagai akibat proses interaktif dengan saya. Atau ada alasan lain yang mendorong munculnya ungkap rasa seperti itu, yang jelas saya meminta mereka menulis dengan jujur dan tidak boleh saling mempengaruhi. (bersambung)
Tulisan ini juga ada di sini. 

Minggu, 18 Agustus 2013

Ibuku : Pejuang dan Guru Sepanjang Usia

Tanda penghargaan TP untuk Ibu

Hari ini 
kerinduanku begitu dalam
tlah tiga tahun berlalu
tanpamu..
Engkau bukanlah satu
ibu buat semua
suami anak dan saudara
juga masyarakat di sekeliling
Engkau terlalu kuat 
sikap bak karang 
di samudera luas dan penuh gelombang
Tapi terlalu lemah
tuk kasihani diri
tak kan pernah kuasa
juga tak lagi bisa
meminta

Matahari kehidupan buat semua
menghidupi jiwa-jiwa resah
karena tak pernah keluh kesah
Senyum dan kasih sayang
dan itu bukan tuk hiasan
agar nampak indah
Cantikmu bukan di di sana
di dalam setiap langkah
pada mata hati
Karena engkau memang pasti
lindungi sesama dalam nuansa
Guru bagi semua
Ibu untuk semua
dan pejuang dari segala dusta

Hanya satu 
yang kubisa lakukan
jaga amanah apapun daya
Cara manusia berperi
pada adab memuka
dalam asa tiada rasa

Kupersembahkan satu
langkah kecil 
tak berharga
Mata pena mata hati
semoga kini jadi berarti

Aku tak kan menangis
meski perih masih mengiris
langkah-langkah yang tertatih

Kebumen, 19 Agustus 2013

Bersama teman2 dan ibu kost
Baca koran tanpa kacamata
Membimbing Pak Sudjarwo di PWRI Ranting 1
Saat mendampingi nikah
Saat-saat terakhir