RAPOR MERAH DI HARI PENDIDIKAN NASIONAL

Kurikulum 2013 tak mampu dibendung lagi. Protes keras AGTIKKNAS sampai ke DPR dan Gedung Kemendiknas tak menyurutkan niat merevisi keputusan yang menghapus mapel TIK dan KKPI.

KOTA VOKASI : ANUGERAH ATAU BENCANA - BAGIAN II

Kebijakan kota vokasi adalah untuk peningkatan akses dan mutu SMK yang lebih besar, serta memadukan antara pendidikan kejuruan dengan pengembangan tata kota dengan mengutamakan pengembangan sektor ekonomi wilayah kabupaten/kota (Economic Development).

KOTA VOKASI: ANUGERAH ATAU BENCANA - BAGIAN I

Kebijakan Kota Vokasi yang satu dampaknya adalah penurunan animo peserta didik (siswa/i) di sekolah menengah umum (SMA/MA) karena kecenderungan warga masyarakat umum khususnya di pedesaan lebih menginginkan putra/i-nya ikut proses belajar mengajar di SMK meningkat pesat. Juga oleh gencarnya promosi yang dilakukan para pejabat...

KARYA BAKTI UNTUK NEGERI 2014 DI KABUPATEN KEBUMEN

Komunitas SukaRelawan Palang Merah Indonesia (PMI)di media sosial ini menyelenggarakan kegiatan KARYA BAKTI untuk NEGERI (KBN) 2014 di Kabupaten Kebumen dalam rangka mewujudkan satu misi Kewirausahaan Sosial dan tujuan menguatkan upaya untuk kebaikan dan perbaikan organisasi PMI.

CELOTEH SOPIR MINIBUS GOMBONG - KEBUMEN

Perkataan sopir angkutan umum acapkali hanya dipandang sebelah mata. Kali ini sungguh luar biasa. Pengetahuan luas dan gaya bahasanya lugas. Contoh yang dikemukakan sangat masuk akal dan mengejutkan. Tiga pejabat Bupati Kebumen tak mampu selesaikan RSUD secara maksimal.

Tampilkan postingan dengan label nurani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nurani. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 Februari 2014

Bencana dan Bancinya Para Pemimpin


Bencana memang bukan kuasa manusia untuk mengaturnya. Sebagai mahluk yang diberi anugerah lebih dibanding mahluk lain, manusia dilengkapi dengan akal dan hati nurani. Jika akal tak mampu lagi menjangkau rahasiaNya dibalik segala peristiwa di jagad raya ini, hati nurani mestinya yang mengemuka. Itulah sejatinya kehidupan. 

Indonesia sudah lama sekali dikenal sebagai wilayah rawan bencana. Alam yang beraneka rupa di satu sisi mengundang pesona, dan sebaliknya menyimpan potensi kerusakan yang sulit diatasi jika terjadi. Selain dilintasi jalur gunung berapi yang membujur di sepanjang kepulauan besar dan kecil, di atas atau dibawah permukaan tanah, tiba-tiba aktif tanpa tanda awal dan sebagainya. Faktor alam ini jelas merupakan potensi bencana. Ditambah dengan perilaku manusia yang kian hari semakin tak bersahabat dengan alam dan lingkungan potensi itu menjadi semakin besar dan terbuka.

Selain faktor alam yang senantiasa memberi tahu adanya peringatan akan kewajiban untuk menjaga keseimbangan lingkungan, faktor manusia adalah kunci bagi upaya mengurangi tingkat risiko bencana alam. Sejauh ini, tingkat kerusakan alam karena faktor intrinsiknya sudah cukup besar. Tetapi, tingkat kerusakan alam yang disebabkan ulah manusia justru lebih besar dan berdimensi luas. Terutama dalam dasawarsa terakhir, banyak sekali perilaku pemimpin di semua lini, baik pusat maupun daerah yang tak lagi mempertimbangkan dengan saksama semua potensi kerusakan akibat bencana. Mereka terlalu asyik dengan diri sendiri dan kelompok-kelompok kecilnya. Sehingga mengabaikan kepentingan yang lebih luas dan strategis.

Satu bukti kuat hilangnya nurani kemanusiaan para pemimpin yang berada di jajaran pemerintah dan DPR khususnya adalah pengabaian atas kewajiban bagi negara yang telah meratifikasi Konvensi Jenewa 1949 untuk segera mengundangkannya sebagai bagian utama dalam konstruksi hukum nasional. Sudah cukup banyak tulisan saya tentang hal ini. Terakhir mengangkat kejengkelan relawan PMI kepada pengurus organisasi PMI dan parpol karena tak ada kemajuan berarti dalam menyelesaikan hal-hal yang tidak prinisip dalam peroses pengundangan #RUUKepalangmerahan. 

Ketidak-jelasan sikap para pemimpin menumbuhkan sikap militansi para relawan PMI sulit dibendung. Pada kadar tertentu, hal ini mungkin tidak membahayakan keselamatan orang banyak mengingat bahwa, bagaimanapun wujud kejengkelan itu,  nurani mereka telah terbentuk dengan sentuhan-sentuhan kemanusiaan yang begitu dalam. Meski begitu, mereka tetap manusia biasa yang setiap saat dapat berubah sikap menjadi tak terkendali. Karena banyak diantaranya yang telah diperlakukan diskriminatif oleh pengurus PMI di berbagai tingkat organisasi. Tidak hanya di daerah, tapi juga sampai di pusat.

Dengan meningkatnya derajat tekanan akibat ketidak-jelasan sikap para pemimpin itu, militansi yang semula dapat diarahkan pada sikap-sikap positif sangat mungkin menjadi tindakan destruktif. Inilah yang sangat berbahaya.  Dan tanda-tanda yang sudah sangat jelas ini masih belum mampu dibaca dengan cermat oleh para pemimpin baik di lingkungan organisasi PMI pada umumnya dan khususnya oleh para politisi yang saat ini tengah mengacak-acak negeri ini dengan kepongahannya.

Kamis, 07 November 2013

Memaknai Kepahlawanan (I)

Repro: TPSolo

Prolog

Dua hari lagi, tepatnya Minggu 10 November 2013, kita akan memperingati satu peristiwa besar bersejarah yang menandai tekad dan upaya Bangsa Indonesia mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Suatu peristiwa yang menjadi tonggak bagi warga bangsa lainnya untuk melakukan hal sama atau serupa. Arek-arek Soerobojo (baca Surabaya) berbekal semangat dan tekad terus merdeka menghadang gerak maju pasukan pendudukan Belanda yang membonceng sekutu ingin kembali berkuasa atas tanah air dan tumpah darah Indonesia. Bersenjatakan bambu runcing dan berbagai senjata tradisional serta sebagian kecil senjata api sitaan dari pasukan Jepang, mereka bahu membahu, saling mendukung kekuatan. Meski harus berakhir dengan banyak korban meninggal, luka berat atau ringan dan kehilangan banyak harta benda, sanak saudara maupun teman-teman seperjuangan. Tetapi tak ingin kehilangan harga diri, martabat kemanusiaannya sebagai bangsa yang merdeka.

Kepahlawanan

Dalam KBBI daring (Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam jaringan) dijelaskan bahwa kepahlawanan adalah perihal sifat pahlawan yang menonjol karena keberanian (diri) menegakkan kebenaran dengan cara suka rela. Serupa dengan pengertian relawan, kepahlawanan lebih luas dan menekankan karakter atau kepribadian sekelompok orang atas nilai kebenaran tertentu. Kelompok itu biasanya merupakan masyarakat, bangsa dan/atau negara. Dengan kata lain, kepahlawanan bisa muncul dari sekelompok kecil orang yang acapkali disebut sebagai komunitas atau mungkin juga untuk skala yang sangat luas seukuran dunia. Karena menyangkut karakter atau kepribadian, maka kepahlawanan cenderung subyektif. Tidak ada kekhususan bidang seperti halnya relawan kemanusiaan misalnya.

Seorang pahlawan dalam suatu komunitas sangat mungkin dinilai sebagai pecundang bagi yang lain karena faktor subyektivitas tadi. Misalnya, Robinhood adalah pahlawan bagi orang-orang yang menghuni hutan di Nottingham, Inggris tetapi musuh besar bagi Prince John yang berkuasa dan koruptif di sana. Begitu juga dengan Kusni Kasdut bagi sebagian orang miskin di Jawa Timur, tetapi ia jadi pecundang dan penjahat besar di mata Pemerintah RI karena merampok emas di Museum Nasional. Tak jauh beda dengan peran Che Guevara bagi sebagian masyarakat Amerika Latin. 

Banyak contoh kontroversial semacam tokoh-tokoh yang diceritakan di atas. Nuansa subyektivitas memang sangat kental mewarnai makna kepahlawanan. Meski begitu, kepahlawanan adalah sebuah kebutuhan jiwa manusia akan arti dan makna kebenaran. Pertanyaannya, apakah kemerdekaan Bangsa Indonesia memang harus dimaknai mengingat konteks waktu dan ruang dipertahankan apa adanya ? Ataukah, kita selaku warga bangsa perlu secara terus menerus memperbarui sikap dan wawasan kebangsaan Indonesia agar senantiasa mampu mengapresiasi nilai-nilai kepahlawanan yakni keberanian menegakkan kebenaran ?


Pada dasarnya, mengikuti naluri kemanusiaannya, setiap orang menginginkan hadirnya pahlawan dalam hidup dan kehidupannya. Cara menghadirkan dapat berbeda antara satu dan lain orang. Ada yang harus bersusah payah, tapi ada juga yang sangat mudah. Jika kepahlawanan dinilai sebagai roh atau jiwa, mungkin saja tak banyak orang mampu menghadirkan dengan mudah. Pemahaman yang baik tentang kebenaran hakiki adalah satu kendala besar bagi orang-orang yang terbiasa bersikap hedonistik dalam menghadirkan kepahlawanan secara utuh. Karena mereka hanya tahu sisi artifisial atau permukaan/ kulit saja. (bersambung)