Kamis, 07 November 2013

Memaknai Kepahlawanan (I)

Repro: TPSolo

Prolog

Dua hari lagi, tepatnya Minggu 10 November 2013, kita akan memperingati satu peristiwa besar bersejarah yang menandai tekad dan upaya Bangsa Indonesia mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Suatu peristiwa yang menjadi tonggak bagi warga bangsa lainnya untuk melakukan hal sama atau serupa. Arek-arek Soerobojo (baca Surabaya) berbekal semangat dan tekad terus merdeka menghadang gerak maju pasukan pendudukan Belanda yang membonceng sekutu ingin kembali berkuasa atas tanah air dan tumpah darah Indonesia. Bersenjatakan bambu runcing dan berbagai senjata tradisional serta sebagian kecil senjata api sitaan dari pasukan Jepang, mereka bahu membahu, saling mendukung kekuatan. Meski harus berakhir dengan banyak korban meninggal, luka berat atau ringan dan kehilangan banyak harta benda, sanak saudara maupun teman-teman seperjuangan. Tetapi tak ingin kehilangan harga diri, martabat kemanusiaannya sebagai bangsa yang merdeka.

Kepahlawanan

Dalam KBBI daring (Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam jaringan) dijelaskan bahwa kepahlawanan adalah perihal sifat pahlawan yang menonjol karena keberanian (diri) menegakkan kebenaran dengan cara suka rela. Serupa dengan pengertian relawan, kepahlawanan lebih luas dan menekankan karakter atau kepribadian sekelompok orang atas nilai kebenaran tertentu. Kelompok itu biasanya merupakan masyarakat, bangsa dan/atau negara. Dengan kata lain, kepahlawanan bisa muncul dari sekelompok kecil orang yang acapkali disebut sebagai komunitas atau mungkin juga untuk skala yang sangat luas seukuran dunia. Karena menyangkut karakter atau kepribadian, maka kepahlawanan cenderung subyektif. Tidak ada kekhususan bidang seperti halnya relawan kemanusiaan misalnya.

Seorang pahlawan dalam suatu komunitas sangat mungkin dinilai sebagai pecundang bagi yang lain karena faktor subyektivitas tadi. Misalnya, Robinhood adalah pahlawan bagi orang-orang yang menghuni hutan di Nottingham, Inggris tetapi musuh besar bagi Prince John yang berkuasa dan koruptif di sana. Begitu juga dengan Kusni Kasdut bagi sebagian orang miskin di Jawa Timur, tetapi ia jadi pecundang dan penjahat besar di mata Pemerintah RI karena merampok emas di Museum Nasional. Tak jauh beda dengan peran Che Guevara bagi sebagian masyarakat Amerika Latin. 

Banyak contoh kontroversial semacam tokoh-tokoh yang diceritakan di atas. Nuansa subyektivitas memang sangat kental mewarnai makna kepahlawanan. Meski begitu, kepahlawanan adalah sebuah kebutuhan jiwa manusia akan arti dan makna kebenaran. Pertanyaannya, apakah kemerdekaan Bangsa Indonesia memang harus dimaknai mengingat konteks waktu dan ruang dipertahankan apa adanya ? Ataukah, kita selaku warga bangsa perlu secara terus menerus memperbarui sikap dan wawasan kebangsaan Indonesia agar senantiasa mampu mengapresiasi nilai-nilai kepahlawanan yakni keberanian menegakkan kebenaran ?


Pada dasarnya, mengikuti naluri kemanusiaannya, setiap orang menginginkan hadirnya pahlawan dalam hidup dan kehidupannya. Cara menghadirkan dapat berbeda antara satu dan lain orang. Ada yang harus bersusah payah, tapi ada juga yang sangat mudah. Jika kepahlawanan dinilai sebagai roh atau jiwa, mungkin saja tak banyak orang mampu menghadirkan dengan mudah. Pemahaman yang baik tentang kebenaran hakiki adalah satu kendala besar bagi orang-orang yang terbiasa bersikap hedonistik dalam menghadirkan kepahlawanan secara utuh. Karena mereka hanya tahu sisi artifisial atau permukaan/ kulit saja. (bersambung)

0 komentar:

Posting Komentar