RAPOR MERAH DI HARI PENDIDIKAN NASIONAL

Kurikulum 2013 tak mampu dibendung lagi. Protes keras AGTIKKNAS sampai ke DPR dan Gedung Kemendiknas tak menyurutkan niat merevisi keputusan yang menghapus mapel TIK dan KKPI.

KOTA VOKASI : ANUGERAH ATAU BENCANA - BAGIAN II

Kebijakan kota vokasi adalah untuk peningkatan akses dan mutu SMK yang lebih besar, serta memadukan antara pendidikan kejuruan dengan pengembangan tata kota dengan mengutamakan pengembangan sektor ekonomi wilayah kabupaten/kota (Economic Development).

KOTA VOKASI: ANUGERAH ATAU BENCANA - BAGIAN I

Kebijakan Kota Vokasi yang satu dampaknya adalah penurunan animo peserta didik (siswa/i) di sekolah menengah umum (SMA/MA) karena kecenderungan warga masyarakat umum khususnya di pedesaan lebih menginginkan putra/i-nya ikut proses belajar mengajar di SMK meningkat pesat. Juga oleh gencarnya promosi yang dilakukan para pejabat...

KARYA BAKTI UNTUK NEGERI 2014 DI KABUPATEN KEBUMEN

Komunitas SukaRelawan Palang Merah Indonesia (PMI)di media sosial ini menyelenggarakan kegiatan KARYA BAKTI untuk NEGERI (KBN) 2014 di Kabupaten Kebumen dalam rangka mewujudkan satu misi Kewirausahaan Sosial dan tujuan menguatkan upaya untuk kebaikan dan perbaikan organisasi PMI.

CELOTEH SOPIR MINIBUS GOMBONG - KEBUMEN

Perkataan sopir angkutan umum acapkali hanya dipandang sebelah mata. Kali ini sungguh luar biasa. Pengetahuan luas dan gaya bahasanya lugas. Contoh yang dikemukakan sangat masuk akal dan mengejutkan. Tiga pejabat Bupati Kebumen tak mampu selesaikan RSUD secara maksimal.

Tampilkan postingan dengan label keadilah sosial. Tentara Pelajar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keadilah sosial. Tentara Pelajar. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Agustus 2013

Kecil itu Indah - Menebar Benih di Lahan Kering

Alm. Ibu Atiatoen saat peresmian monumen
dan jalan Tentara Pelajar Kebumen Nov. 2000

Kita seringkali dihadapkan pada pilihan-pilihan yang nampak sulit ketika tengah mengalami masalah. Terutama yang menyangkut kemaslahatan, tentang banyak orang dengan beragam karakter. Pilihan antara menjadi pemimpin dan orang tua bagi sejumlah relawan PMI yang tengah bergairah memperbaiki keadaan organisasi agar sesuai dengan maqom-nya adalah satu diantaranya. Memelihara satu komitmen yang disepakati dalam satu permusyawaratan kecil dan terbatas adalah satu tanggung-jawab yang lebih besar dari pada sebuah hak yang acapkali dimaknai secara fisikal. Bentuk luar suatu gelombang pemikiran dan perasaan yang mungkin saja bersifat sepihak. 

Begitu juga dalam menentukan sikap selaku pemimpin yang digambarkan sebagai sosok tegas dan lain-lain persepsi. Tidak salah tapi mungkin saja keliru. Karena menjadi orang tua dari banyak anak yang berbeda karakter, orientasi sosial dan kapasitas individualnya bukan hal yang mudah. Apalagi dengan rentang pengetahuan dan pengalaman yang cukup jauh. Gambaran itulah yang saya alami ketika harus menentukan pilihan di atas.
***

Pada tulisan sebelumnya, Kecil itu Indah – (Coba) Memahami Realita, telah dijelaskan secara ringkas tentang posisi menjadi guru di sekolah yang pernah mewarnai kehidupan pribadi saya semasa remaja yang secara aktual tengah mengalami masa-masa sulit. Sepanjang hidup, saya tak pernah punya gambaran akan menjadi guru formal. Berdiri di depan kelas, menyampaikan materi, berinteraksi dengan peserta didik (siswa) dan guru lain serta semua orang maupun beragam aspek yang ada dalam proses belajar mengajar di sekolah tersebut. Tidak pernah tahu perbedaan antara guru kurikulum dan inspiratif. Yang saya tahu, guru adalah manusia yang dimuliakan kedudukannya di atas manusia lain di hadapan Tuhan Yang Maha Pencipta karena kemampuannya menyebarkan pengetahuan (ilmu).

Pemahaman di atas tak terlepas dari pengalaman hidup sebagai anak seorang guru SD yang pernah ikut serta dalam perjuangan menegakkan kemerdekaan bangsa Indonesia lewat Tentara Pelajar. Melihat, merasakan dan bersikap dalam keseharian bersama almarhumah ibu kandung yang senantiasa mengedepankan sikap merdeka (mandiri), jujur, berani dan tegas.  Sifat dan sikap yang tak disukai banyak orang di lingkungan formalnya. Karena sikap ini pula beliau sering mengalami diskriminasi : ditunda kenaikan pangkat, dinyatakan tidak lulus uji dan lain-lain perlakuan yang sekarang popular dengan sebutan KKN ( korupsi, kolusi dan nepotisme). Sampai  akhir hayat beliau (2010), sikap itu tetap dipelihara dengan segenap daya. Di antara banyak murid beliau yang menjadi guru di berbagai tingkatan pendidikan, sering muncul sebutan mahaguru  atau bethara guru buat almarhumah. Sebutan yang mungkin merupakan penghargaan atau sejenisnya, tapi tetap tak mengubah sikap saya yang mendampingi beliau di hampir sepanjang usia.

Pemimpin, orang tua dan guru adalah tiga komponen penting dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pemimpin pada dasarnya melekat pada setiap manusia sebagai mahluk yang dimuliakan oleh Sang Khalik. Dalam praktik, di kehidupan nyata, tidak semua manusia mampu memelihara kemuliaan itu. Satu faktor utama yang banyak mempengaruhi adalah kehilangan daya dalam memelihara sikap merdeka dan jujur. Mengapa begitu?

Manusia yang kehilangan daya mempertahankan kemerdekaannya tidak berbeda kedudukan dirinya sebagai budak. Budak nafsu misalnya, adalah orang yang dikuasi oleh nafsunya sehingga kehilangan sikap-sikap positif manusia yang membedakannya dari binatang atau mahluk lain ciptaanNya. Terutama nurani yang menjadi ciri khas manusia. Budak adalah manusia terjajah. Dengan kata lain, manusia yang menjadikan atau menyediakan dirinya sebagai budak adalah  manusia yang tidak mandiri. Menyerupai benalu yang hidupnya bergantung pohon induk.

Saat ini, ketika banyak muncul kecenderungan mengagungkan diri atau kelompoknya, tidak sedikit warga masyarakat Indonesia merasa kehilangan daya untuk menghadirkan pemimpin yang mampu mengarahkan jalan untuk menggapai cita-cita kemerdekaan bangsa. Yakni suatu tata kehidupan yang mampu menyelenggarakan keadilan sosial. Karena sosok yang muncul adalah para penguasa. Bukan pemimpin yang melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia. Baik dalam skala kecil semacam desa, kampung atau sejenisnya, maupun seluruh ruang lingkup wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pendidikan adalah faktor utama dalam memelihara daya merdeka, mencerdaskan kehidupan bangsa. Proses penyelenggaraan pendidikan tetap merupakan porsi terbesar pemerintah selaku penyelenggara negara sesuai amanat Undang Undang Dasar 1945. Kegagalan dalam proses ini akan berdampak sangat besar dalam upaya menggapai cita-cita kemerdekaan sebagai negara yang berkeadilan sosial. Dan manajemen (penyelenggaraan) pendidikan tidak sebatas penyediaan kurikulum. Karena di dalamnya terdapat aspek pelaksanaan dan pengendalian yang berujung pada output atau hasil yang tetap berpijak pada pemaknaan atas kemerdekaan bangsa Indonesia.


Dari pemahaman di atas, saya merasa menemukan lahan pengabdian yang sesuai dengan amanat almarhumah ibu dan cita-cita kemerdekaan bangsa Indonesia di almamater saat ini.  Amanat itu ada di catatan harian beliau semasa akan mengabdi di lahan kering, dunia pendidikan yang berkarakter keindonesiaan.  Isinya “ pelan tapi pasti, bukan yang banyak itu baik, tapi yang baik pastilah yang banyak. Berbekal niat mengamalkan ilmu, benih-benih keindonesiaan akan terus saya coba tebarkan di setiap langkah kehidupan. Di dalam keluarga, sekolah, Kampoeng Relawan dan masyarakat umum. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa menguatkan langkah ini. Amien. 
Tulisan ini dimuat juga di sini.

Selasa, 20 Agustus 2013

Diaspora Indonesia - Sukses di Negeri Seberang

Mendagri Suriname-Soewarto Mustadja asal Kebumen

Dalam bagian sambutan pembukaan Kongres Diaspora Indonesia (CID) II di Jakarta Convention Center, Presiden RI, Susilo Bambang Yudoyono menyebut satu nama yang menginspirasi dirinya yaitu Sri Mulyani Indrawati. Sosok yang mengorbit namanya sebagai pengamat ekonomi dan Menteri Keuangan RI pada Kabinet Indonesia Bersatu jilid 1, kini merupakan orang nomor dua di Bank Dunia yang berkantor pusat di Amerika Serikat. Beliau adalah satu-satunya Indonesia yang popularitasnya pernah masuk dalam jajaran 100 perempuan paling berpengaruh di dunia.

Sosok Sri Mulyani yang begitu kokoh dapat dimaklumi karena memiliki garis keturunan dengan pelajar pejuang kemerdekaan bangsa Indonesia pasca Prokalamsi 17 Agustus 1945, yaitu Retno Sriningsih. Secara kebetulan, ibu kandung Sri Mulyani itu adalah pelajar Sekolah Guru Putri Yogyakarta yang bersama almarhum ibu kami mendapat kepercayaan dari sekolah tersebut untuk menjalani pelatihan dasar kemiliteran dan kepalangmerahan diMilitaire Academie (MA) Kotabaru Yogyakarta sekitar Juli 1946 selama dua minggu. Selain itu, ternyata saudara sekandung Retno Sriningsih yakani Retno Triningsih adalah juga peserta pelatihan yang dikhususkan bagi para pelajar setingkat SMP dan SMA yang kemudian dikenal dengan namaTentara Pelajar Brigade 17 TNI tinggal di Australia sebagai diaspora Indonesia.



Cerita sukses Diaspora Indonesia terjadi di berbagai bidang kehidupan dan penjuru dunia internasional. Dalam pelajaran sejarah dunia dijelaskan tentang pengiriman sejumlah besar warga masyarakat etnik Jawa, khususnya dari wilayah yang kita kenal sebagai Provinsi Jawa tengah saat ini ke Suriname. Sebuah daerah atau wilayah yang ketika itu, sekitar tahun 1860 - 1880 belum banyak dikenal dalam pentas dunia. Letaknya ada di Amerika Selatan. Mereka dibawa oleh pemerintah penjajahan Hindia Belanda sebagai budak atau koeli. Siapa sangka bila lebih dari dua abad setelah itu, anak keturunan para budak itu telah menjadi orang yang berkedudukan sangat penting di sana. Yang perlu kita apresiasi adalah semangat hidup dan upaya atau perjuangan mereka sampai mendapat tempat terhormat itu.

Pelajaran besar yang dapat kita petik dari dua tokoh besar dunia itu adalah kegigihan atau semangat juang, kerja keras dan tentu berbekal pendidikan memadai. Mereka berdua telah membuktikan dirinya sebagai pejuang tangguh. Meski didera kasus Century yang selain mengandung aspek hukum yakni tindak pidana korupsi, tapi nuansa politiknya juga sangat kentara. Bank Dunia selaku institusi keuangan internasional tentu saja tidak akan gegagah menarik Sri Mulyani Indrawati ke dalam jajaran pimpinan. Terlalu riskan dan bodoh jika para anggota Dewan Direktur Bank Duni yang sangat mengandalkan kepercayaan masyarakat dunia internasional memaksakan diri merekrut mantan Menteri Keuangan RI itu jika tidak sangat yakin jika seorang Sri Mulyani Indrawati yang negeri asalnya tengah dilanda masalah akut KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme).
Salah satu pendapatnya tentang ketertinggalan pembangunan di Indonesia yang menyebabkan urbanisasi ke pusat (Jakarta) sulit diurai sampai sekarang adalah beban berat gaji PNS (Pegawai Negeri Sipil) di daerah yang porsinya mendominasi sektor pengeluaran dalam APBD. Pernyataan ini tentu bukan tanpa alasan yang sangat kuat. Selama ini, kita tahu bahwa banyak Kabupaten/ Kota yang seolah berjalan di tempat proses pembangunan wilayahnya karena porsi pengeluaran untuk membayar gaji PNS lebih dari 70% seperti di Kabupaten Kebumen dan Klaten Jawa tengah. Kedua daerah itu punya tipe yang relatif sama yaitu tradisional - feodalistik.


Kabupaten Kebumen yang pernah dipimpin Rustriningsih yang disebut-sebut sebagai Srikandi dalam periode kepemimpinannya tak banyak berkembang maju selain para pejabat dan keluarganya. Satu bukti nyata adalah proyek pemindahan RSUD yang terbengkelai sampai sekarang. Sementara itu, untuk membuat satu keputusan yang boleh jadi akan menjadi kebanggaan rakyat Kebumen semisal mengangkat potensi kerajinan anyaman pandan di tiga wilayah kecamatan: Karanganyar, Karanggayam dan Sruweng menjadi produk unggulan daerah sesuai konsep OVOP tak pernah tersentuh. Dan dua pimpinan puncak di Provinsi Jawa Tengah yaitu Gubernur Bibit Waluyo berasal dari Klaten, sementara itu Rustriningsih dari Kebumen. Jargon bali ndeso, mbangun deso (pulang kampung, membangun tanah kelahiran) hanya slogan kosong.
Tulisan ini juga ada di: pakitong.blogdetik.com 

Minggu, 18 Agustus 2013

Merdeka Untuk Siapa ? Bagian II

Foto: copas Musytarif Muhammad - Rekawan PMI Tulungagung


Hari ini..
semua berharap
Akan ada yang lebih baik dari
Satu baris kecewa
yang terombang ambing
putus asa..
Karena manusia tlah
berpisah dari sikap adil

Beberapa twips yang masuk twitter saya jelang peringatan Proklamasi Kemerdekaan  ke 68 tahun 2013 ini berisi pandangan pribadi-pribadi tentang keadaan aktual bangsa Indonesia. Satu diantaranya dari Pro.Moh. Mahfud MD yang isinya : Untuk apa merdeka ?Agar perikemanusiaan dan perikeadilan bisa kita nikmati. Kalau masih banyak pelanggaran HAM dan ketidakadilan, berarti belum merdeka.  Ada pula yang berekpresi : Anak bangsa semestinya berbakti kpd Ibu Pertiwi, bukan mendurhakainya. Dirgahayu negeriku! (Bang Tom). INDONESIA MERDEKA!!! RAKYATX BEBAS MERDEKA MENJAJAH BANGSA SENDIRI!!!HOREEE (Laila Febriantie). Merdeka juga dari pemilik media yang jadi politisi dan paksa rakyat nonton iklan tak bemutu. 68 tahun, cukuplah kita berada dalam bayang bayang dan ilusi kemerdekaan. Rakyat Indonesia sudah lelah berhayal sejahtera. Adil, makmur, dan sentosa itu cuma syair lagu yang tak pernah bisa menjadi nyata. (Rommy Rsy).
*****

Tentara Pelajar adalah satu kesatuan (laskar) perjuangan kemerdekaan yang dibentuk dan diselenggarkan oleh para pelajar/ mahasiswa secara sadar dan sukarela atas nasib bangsa yang tengah dijajah kembali oleh bangsa asing (Belanda dan sekutu) setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 dikumandangkan oleh Soekarno dan Hatta atas nama bangsa Indonesia. Pertama kali memakai nama Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Bagian Pertahanan sebagai tindak lanjut Kongres Pelajar II Juli 1946 di Sitihinggil, Kompleks Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Anggotanya  adalah para pelajar sekolah menengah setingkat SMP dan SMA. Sebagian diantaranya mendapat pelatihan kemiliteran dari para senior yang ada di Peta, Heiho dan laskar perjuangan lain. Tapi ada kuga yang dikirim sebagai wakil sekolah untuk mendapat pelatihan dasar kemiliteran dan kepalangmerahan di Militaire Academie (MA) Kotabaru Yogyakarta. Beberapa cerita ada di sini

Pak Ign. Somadi, mantan TP dan pensiunan guru
Pak Sidik Demak, mantan TP yang terlantar


Sidik yang merupakan mantan pejuang kemerdekaan yang tergabung dalam Tentara Pelajar, memasuki sembilan puluh tahun lebih. Warga Desa Brumbung, Kecamatan Mranggen, ini telah pikun dan sering keluar rumah sendirian, tak jarang ia juga membawa senjata tajam sehingga membahayakan dirinya sendiri dan orang lain. Kakek belasan cucu dan lima anak ini juga sulit diajak berkomunikasi, selain fungsi pendengarannya telah berkurang, kenangan masa perjuangan begitu lekat di ingatannya. Hampir semua jenis pertanyaan selalu dijawab dengan cerita kegigihan para pejuang untuk memperebutkan kemerdekaan.

Pertempuran lima hari di Semarang merupakan peristiwa yang paling diingat, karena banyak rekan-rekan seperjuangannya yang gugur, beruntung saat itu ia bersama sejumlah pejuang lainnya berhasil selamat setelah mundur sementara dari medan perang. Baca juga mengenang perjalanan Sie Rusmin masuk kota Semarang(pen).Meski telah mempertaruhkan nyawanya untuk mengusir penjajah, tak serta merta ia mendapatkan penghidupan yang layak setelah kemerdekaan, tak mudah baginya untuk mendapatkan gaji pensiun veteran.

Surat keputusan Departemen Pertahanan tentang gelar kehormatan pejuang yang diperoleh pada tahun 1951 juga tidak lantas membuatnya langsung mendapatkan gaji pensiun veteran, baru sekitar 17 tahun terakhir ia mendapatkan tunjangan hari tua untuk para pejuang, itupun melalui proses berbelit yang sangat lama dan menelan biaya besar. Bahkan rumah dan sawah telah dijual untuk mengurus dana pensiun tersebut. Kisah pilu mantan pejuang kemerdekaandi Demak. 
Contoh Form Pendaftaran Veteran berdasar Skep Menhan 1951

Banyak cerita serupa yang dialami oleh para pejuang kemerdekaan Bangsa Indonesia. Meski Bung Karno menyatakan jargon jas merah, jangan (pernah) melupakan sejarah. Tapi cerita pilu Pak Sidik dan yang lain seolah tiada pernah ada upaya serius dari pemerintah baik melalui dinas sosial dan khususnya Kantor Administrasi Veteran (Kaminvet) yang ada di Kabupaten/Kota. Kasus penelantaran dan penghilangan administrasi di Kaminvet sudah sering terjadi entah disengaja atau tidak. Bahkan kejadiannya menimpa orang yang mendirikan dan aktif dalam Batalyon Veteran dan Demobilisan (Yonved) sebagai cikal bakal LVRI (Legiun Veteran RI).

Kisah-kisah: Mantan pejuang hidup tak layak di hutan ; Catatan pilu kemerdekaan di mata mantan para veteran atau Kami Sekarang Hidup Susah adalah bagian kecil dari ketidakmampuan pemerintah mengelola administrasi negara. Banyak yang asli pejuang ditelantarkan, tapi yang aspal (asli sertifikat, palsu perbuatan) atau benar-benar palsu (karena punya sertifikat asli, tapi tak pernah dikenal di lingkungan komunitas yang jadi bahan cerita untuk kesaksian dalam kisah perjuangannya) justru mendapat tempat terhormat.

Membedakan pejuang asli, aspal atau palsu sebenarnya cukup mudah. Yang asli senantiasan menjaga sikap mandiri (merdeka) secara ekonomi, sosial maupun politik. Dan tak pernah mau dibelas-kasihani. Sementara itu, yang aspal dan palsu mudah dikenali dari kebiasaannya mengumbar cerita dari suatu peristiwa yang tak pernah dialami serta menyukai formalitas yang atributif.