RAPOR MERAH DI HARI PENDIDIKAN NASIONAL

Kurikulum 2013 tak mampu dibendung lagi. Protes keras AGTIKKNAS sampai ke DPR dan Gedung Kemendiknas tak menyurutkan niat merevisi keputusan yang menghapus mapel TIK dan KKPI.

KOTA VOKASI : ANUGERAH ATAU BENCANA - BAGIAN II

Kebijakan kota vokasi adalah untuk peningkatan akses dan mutu SMK yang lebih besar, serta memadukan antara pendidikan kejuruan dengan pengembangan tata kota dengan mengutamakan pengembangan sektor ekonomi wilayah kabupaten/kota (Economic Development).

KOTA VOKASI: ANUGERAH ATAU BENCANA - BAGIAN I

Kebijakan Kota Vokasi yang satu dampaknya adalah penurunan animo peserta didik (siswa/i) di sekolah menengah umum (SMA/MA) karena kecenderungan warga masyarakat umum khususnya di pedesaan lebih menginginkan putra/i-nya ikut proses belajar mengajar di SMK meningkat pesat. Juga oleh gencarnya promosi yang dilakukan para pejabat...

KARYA BAKTI UNTUK NEGERI 2014 DI KABUPATEN KEBUMEN

Komunitas SukaRelawan Palang Merah Indonesia (PMI)di media sosial ini menyelenggarakan kegiatan KARYA BAKTI untuk NEGERI (KBN) 2014 di Kabupaten Kebumen dalam rangka mewujudkan satu misi Kewirausahaan Sosial dan tujuan menguatkan upaya untuk kebaikan dan perbaikan organisasi PMI.

CELOTEH SOPIR MINIBUS GOMBONG - KEBUMEN

Perkataan sopir angkutan umum acapkali hanya dipandang sebelah mata. Kali ini sungguh luar biasa. Pengetahuan luas dan gaya bahasanya lugas. Contoh yang dikemukakan sangat masuk akal dan mengejutkan. Tiga pejabat Bupati Kebumen tak mampu selesaikan RSUD secara maksimal.

Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Maret 2014

Ujian Berat Pemimpin Indonesia Pasca Pemilu 2014 - Bagian Dua

Foto: googling.

Ancaman integritas kebangsaan kita sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya adalah akibat praktik politik sektarian yang merajalela di semua lembaga negara. Sistem politik yang dibangun dan dilaksanakan pasca 1998 semakin menjauhkan dari semangat kemerdekaan Indonesia yang bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Selain korupsi yang telah merebak ke segala sisi kehidupan dan berdampak negatif yang lebih luas serta strategis, banyak upaya sistematis lain yang nampaknya baru disadari setelah tingkat kerusakannya sangat tinggi. Wajar jika seorang Djuyoto Suntani meramalkan Indonesia akan pecah menjadi 17 bagian wilayah pada tahun 2015, apapun sebutannya. Gejalanya memang sudah nampak dan cenderung menguat.

Sebenarnya potensi disintegritas nasional telah berlangsung sejak awal kemerdekaan. Di masa revolusi, usaha kudeta pernah coba dilakukan oleh Batalyon 10 di ibukota RI saat itu, Yogyakarta. Beberapa saat kemudian muncul pemberontakan PKI di Madiun 1948, Angkatan Perang Ratu Adil di Sulawesi serta DI/TII di Jawa Barat dan sebagainya. Semua percobaan kudeta tadi gagal karena masih bisa diatasi dengan semangat revolusi kemerdekaan yang menyala. Sayangnya, ketika Indonesia mendapat kesempatan memperbaiki dirinya karena "ketiban rejeki" minyak bumi, para pemimpin saat itu (Orde Baru) justru tengah asyik dengan dirinya. Ketahanan nasional kita yang dibangun dengan fondasi kebinekaan justru dieliminasi dengan pendekatan militeristik yang melemahkan sendi-sendi dasar berkehidupan kebangsaan yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di ujung Barat Indonesia padam karena dihantam tsunami 2004. Sementara itu, Organisasi Papua Merdeka di Ujung Timur justru masih menyala sampai sekarang. 
    
Masalah ketahanan nasional di masa reformasi justru kian dilemahkan oleh para penerima amanat. Yakni partai-partai politik yang lahir dari banyak peristiwa berdarah: Sabtu Kelabu (27 Juli 1995) di sekitar kantor pusat DPP PDI, Tragedi Trisakti serta Semanggi I dan II. Disebut hanya sebagai pegantian baju karena sebenarnya dilakukan para pemain lama yang berganti baju warna-warni. Tak ubahnya bunglon yang hidup dari benalu. 

Akibat terbesar dari praktik politik sektarian yang menghebat pada dasawarsa terakhir, semua unsur utama ketahanan nasional Indonesia kian melemah. Ketahanan ideologi negara yang berdasar Pancasila berusaha sekuat tenaga ingin diganti dengan ideologi yang mengatasnamakan agama oleh PKS dengan menyebar isu pemberlakuan kembali Piagam Jakarta, misalnya. Ketika isu ini tak mendapat respon positif dari umat muslim pada umumnya, mereka berubah haluan jadi nasionalis dengan menggandeng paduan suara kampanye PKS dari gereja Ende ??? Yang lebih hebat tentunya sikap koepig ( ndableg /tambeng - Jawa) seorang Ansory Siregar yang masih bersikukuh menjegal #RUUKepalangmerahan dengan terus berupaya memasukkan hal-hal yang bertentangan dengan tatanan (konstruksi) hukum nasional dan etika pergaulan internasional. Begitu mudahnya berganti haluan dalam sekejap. Mungkin khawatir dengan tekanan publik atas kasus impor daging sapi yang menyeret Ketua Umum-nya, Lutfi Hasan Ishak sehingga banyak yang menyebut akronis partai itu jadi Partai Kepala Sapi ? Atau, boleh jadi ada rasa was-was dengan kuatnya perlawanan para sukaRelawan PMI ? Inikah gambar telanjang para pemburu rente??? Wallahu a'lam bissawab.

Yang jelas, ketahanan nasional suatu bangsa merdeka tanpa fondasi ketahanan ideologi sama artinya manusia tanpa hati. Pancasila yang terdapat dalam Pembukaan UUD 1945 adalah ideologi visioner yang lentur. Dan ini diakui oleh banyak pemimpin negara lain yang kini lebih maju pembangunan sumber daya manusianya dari pada Indonesia seperti India. Kita yang memiliki justru sering galau akibat salah persepsi dan aktualisasi.  Tanpa perlu mengulang kesalahan P4 yang bagus di tataran ide dasar, tapi rusak karena faktor manajerial yang diliputi praktik KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme).

Transformasi budaya berpikir kritikal yang telah mengikuti alur perjalanan gerakan masyarakat madani selama ini perlu direkonstruksi agar arahnya lebih jelas dan dengan rambu-rambu yang tegas. Tak perlu sungkan atau malu mengakui kekeliruan dalam memilih pendekatan yang memberi mandat berlebih kepada partai-partai politik yang justru jadi bumerang. 

Inilah ujian berat pertama pemimpin Indonesia pasca pemilu 2014. Masalah ketahanan nasional wajib dikuatkan bukan karena ramalan perpecahan bangsa seperti digambarkan Djuyoto Suntani atau pemberlakuan AFTA. Yang diperlukan adalah ispirator yang mampu merekonstruksi gerakan masyarakat madani Indonesia agar arahnya menuju visi bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.    
  

Senin, 03 Maret 2014

Memperbaiki Citra Pendidikan di Indonesia - Bagian 3



Kota Vokasi merupakan trend baru dalam dunia pendidikan di Indonesia, khususnya pendidikan kejuruan. Setelah ditetapkan tahun 2007, trend kepesertaannya terus meningkat. Ini sebagai program by pass yang bertujuan menjembatani berbagai unsur dalam pasar tenaga kerja. Inti program ada tiga, sebagai pusat pendidikan kejuruan, penyedia tenaga kerja yang mumpuni dan pusat pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal. Dari berbagai sumber yang berhasil dikumpulkan, dampak penerapan program kota vokasi menyebabkan proporsi jumlah sekolah menengah kejuruan meningkat pesat menjadi 60 – 80% dibanding sekolah menengah umum yang berada di kisaran 20 – 40%.

Dampak yang paling nyata dari penerapan program ini adalah penyusutan secara drastis jumlah peserta didik di sekolah-sekolah umum baik negeri, khususnya di SMA swasta. Memang belum ada data pembanding yang memadai untuk memaparkan hal ini.  Tapi dari bincang informal dengan beberapa guru di sejumlah SMA Negeri di wilayah luar pusat pemerintahan di Kabupaten Kebumen Provinisi Jawa Tengah misalnya, setelah deklarasi kota vokasi ada penurunan minat bersekolah di SMA yang cukup terasa dampaknya bagi sekolah-sekolah umum tersebut. Di sisi lain, di sebuah SMK swasta, rerata setiap angkatan ada yang mencapai lebih dari 15 kelas dengan jumlah peserta didik sekitar 30 – 35.

Jika program kota vokasi ini memang diarahkan untuk mengoptimalkan semua tujuannya, terutama sebagai pusat pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal, hal ini akan menjadi satu nilai plus yakni menumbuhkan minat berwirausaha. Apalagi jika pemerintah kabupaten/ kota tersebut juga menerapkan kebijakan pembangunan yang bertumpu pada pengembangan kegiatan-kegiatan industri kreatif atau OVOP (One Village One Product). Selain memenuhi kadar optimal efisiensi dan efektivitas alokasi anggaran pembangunan dalam APBD yang berada pada kisaran 30% untuk wilayah miskin seperti Kabupaten Kebumen, maka obsesi meningkatkan kapasitas lokal dalam upaya meminimalisasi pengangguran dan kemiskinan adalah realistik. Demikian juga sebaliknya.

Karena program kota vokasi juga dilakukan oleh kabupaten/ kota yang selama ini menjadi tujuan utama pencari kerja setingkat SMK, maka prioritas perhatian dalam mengembangkan program ini sebagai pusat pendidikan kejuruan dan penyedia jasa tenaga kerja mumpuni akan mengalami masalah besar. Kabupaten/ kota tujuan utama pencari kerja sektor kejuruan semisal Jabodetabek, Karawang, Serang, Cilegon, Sukabumi dan lainnya di wilayah Barat Pulau Jawa cenderung akan lebih mengutamakan lulusan program kota vokasi yang berasal dari wilayahnya.  Ditambah dengan kondisi aktual industri manufaktur yang cenderung terus merosot dalam beberapa tahun terakhir tidak akan mudah menerima pasokan tenaga kerja dari wilayah lain.

Satu hal lain yang sangat menarik dalam menelusuri efektivitas program kota vokasi adalah dampak sosial yang nampaknya kurang diperhitungkan dengan cermat oleh pencetus gagasan. Kesenjangan sosial antar wilayah antar elemen masyarakat akan semakin lebar. Cepat atau lambat, wilayah-wilayah yang selama ini sebagai tujuan utama para pencari kerja tenaga kejuruan akan semakin menutup diri karena memprioritaskan potensi lokal.   Di sisi internal kabupaten/ kota yang telah mendeklarasikan diri sebagai kota vokasi tetapi tidak memiliki cukup kapasitas untuk menyediakan lapangan kerja bagi para lulusan program kota vokasi yang tidak diserap oleh pasar tenaga kerja di wilayah-wilayah tujuan utama pencari kerja kejuruan akan mengalami tekanan sosial yang semakin lama kian membesar. Isu sosial anak emas – anak tiri yang telah berada di bawah permukaan, tiba-tiba akan berubah jadi sebuah ledakan yang berdampak sangat luas dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat lokal.


Lain halnya jika penerapan program kota vokasi sejak awal memang ditujukan sebagai pusat pengembangan ekonomi yang berbasis potensi lokal.  Selain akan mengeliminasi isu sosial tadi, banyak potensi ekonomi lokal yang mampu menjembatani sejumlah masalah mendasar sekaligus. Imbasnya akan dirasakan oleh banyak orang dari berbagai sisi. Pengangguran, kemiskinan dan citra daerah. Seperti ungkapan almarhum Gus Dur, ”orang tak akan memandang agama atau suku apapun sepanjang membawa manfaat bagi orang lain”. Semoga.     

Sabtu, 01 Maret 2014

Memperbaiki Citra Pendidikan di Indonesia - Bagian 2

Ilustrasu: Latihan Drama di SMA Masehi Kebumen.

Kurikulum 2013 yang belum genap setahun ditetapkan sebagai ganti KTSP dan menelan dana trilunan rupiah uang rakyat Indonesia kini kian menuai kritikan dari banyak pihak. Kali ini datang dari guru besar UIN Jakarta, Prof. Azyumardi Azra. Dalam tulisan citra pendidikan indonesia di sini, disebutkan bahwa kondisi umum dunia pendidikan dasar dan menengah yang tak pernah beranjak dari rutinitas formal kegiatan belajar mengajar menyebabkan mutu atau kualitas peserta didik tak pernah beranjak meningkat, mengejar ketertinggalan dari negara-negara lain. Dalam hal ini, program sertifikasi yang dimaksudkan sebagai tolok ukur kemampuan kualitatif guru dinilai tidak atau belum berhasil.

Dari penjelasan panjang di atas, setidaknya ada 3 hal utama. Pertama, proses belajar-mengajar di lembaga penyelenggara tenaga kependidikan (LPTK) dilakukan sekadar untuk memenuhi asas formal dan bersifat rutin tanpa isian yang mendorong tumbuhnya imajinasi dan kreativitas. Kedua, Dinas Pendidikan sebagai lini terdepan penentu kebijakan tak memberi sisa ruang gerak otonomi untuk para guru dalam mengoptimalkan potensi yang ada. Ketiga, masalah budaya rikuh  yang tidak pada tempatnya.

Pada tulisan sebelumnya telah disinggung beberapa hal berkait dengan rendahnya mutu SDM Indonesia. Menurut kajian UNDP, faktor kelembagaan adalah titik lemah utama kesulitan meningkatkan derajat mutu dan daya saing manusia Indonesia di fora internasional. Kelembagaan atau organisasi adalah representasi modernitas manusia. Semakin modern manusia, kebutuhan untuk mengorganisasikan diri cenderung meningkat dan terus berjalan maju tidak hanya mengejar ketertinggalan dari manusia atau bangsa lain. Tetapi bersungguh-sungguh melakukan perbaikan mendasar untuk menghasilkan karya-karya inovatif.

Reformasi birokrasi yang dilakukan untuk melakukan perbaikan kinerja kelembagaan dalam pemerintahan memang terus dilakukan. Selama empat tahun terakhir, sebagaimana dilaporkan oleh lembaga dunia tadi, tidak ada perkembangan berarti. Masih berkutat pada tingkat ke 4 dalam skala 7. Artinya, budaya berorganisasi di lingkungan birokrasi masih sangat lemah di tengah kecenderungan kian meningkatnya sektarianisme lokal dan kelompok kepentingan. Artinya, semangat reformasi di lembaga-lembaga pemerintah baru sebatas tekstual, belum mengena pada hal-hal aktual dan terutama yang krusial. Dalam praktik, pola budaya organisasi yang berlaku masih cenderung tradisional. Jika dirunut jauh ke belakang, sumbernya adalah kelemahan pada aspek pembangunan pendidikan yang menghilangkan akar budaya di dalamnya. Tidak berkarakter dan kehilangan roh keindonesiaannya.

Menyangkut sertifikasi yang oleh Prof. Azyumardi Azra dikatakan tidak atau belum berhasil, ada kenyataan menarik terjadi di Kota Pekalongan.  Saat ini guru PNS terasa sangat dimanjakan dengan kebijakan-kebijakan pemerintah dan karenanya  kinerja guru PNS mestinya meningkat. Dengan adanya sertifikasi maka penghasilan mereka hampir dua kali lipat PNS biasa. Karenanya para guru PNS diminta bekerja lebih giat dan memberikan  pengabdiannya yang terbaik.  Adanya berbagai kebijakan yang mendukung kesejahteraan guru PNS  berimbas dengan majunya dunia pendidikan. “Namun  hasilnya sampai saat ini belum ada kemajuan yang signifikan dalam dunia pendidikan kita. Dari 50 formasi yang dibutuhkan hanya ada 44 orang memenuhi syarat,” tegas Walikota.

Selama ini kita tahu bahwa Kota Pekalongan termasuk satu dari pusat bisnis di Provinsi Jawa Tengah. Iklim wirausahaanya berkembang cukup baik dan minat menjadi PNS relatif rendah. Hal ini bertolak belakang dengan Kabupaten Kebumen yang di awal tahun 2010 masih menempati peringkat ke 3 daerah termiskin di provinsi yang banyak menyumbang pimpinan nasional ini. Adanya sertifikasi guru PNS menyebabkan pola budaya kosmopolitan berkembang pesat secara artifisial. Ditambah dengan telah dideklarasikannya sebagai kota vokasi, perkembangan dunia pendidikan umum di daerah ini semakin tak berarah. Sejumlah SMK baru didirikan dan yang lama terus dikembangkan jumlah/volume fisiknya tanpa dukungan sistem yang memadai untuk melakukan proses belajar mengajar yang mampu memenuhi kriteria utama sebuah kota vokasi. Akibatnya, banyak SMA negeri di luar pusat kota dan khususnya swasta yang mengalami kesulitan menarik peserta didik baru. Pengulangan kekeliruan atas kasus RSBI/RSI nampaknya akan segera terjadi seiring perubahan situasi politik nasional pasca pemilu 2014. 

Kamis, 27 Februari 2014

Memperbaiki Citra Pendidikan di Indonesia - Bagian 1

Suasana kelas gabungan xi dan xii di SMA Masehi Kebumen 2014

Jelang perhelatan akbar dunia pendidikan menengah dengan datangnya musim ujian baik sekolah maupun nasional, banyak orang tua atau wali murid yang harus pontang panting mencari tambahan dana untuk mencukupinya. Seolah jadi ritual, sejumlah pemburu rente memanfaatkan situasi ini untuk mengeruk keuntungan ekonomi. Ada yang membawa serta manfaat sosial dengan cara berbagi kepada sekolah, madrasah atau pondok pesantren dalam beragam bentuk. Tapi kecenderungan seperti ini relatif langka.

Dunia pendidikan adalah satu indikator penting dalam indeks pembangunan manusia. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) / Human Development Index (HDI) adalah ukuran perbandingan dari harapan hidup, melek huruf, pendidikan dan standar hidup untuk semua negara seluruh dunia. IPM digunakan untuk mengklasifikasikan apakah sebuah negara adalah negara maju, negara berkembang atau negara terbelakang dan juga untuk mengukur pengaruh dari kebijaksanaan ekonomi terhadap kualitas hidup. Menurut Program Pembangunan Perserikatan Bangsa Bangsa (UNDP), selama 2010-2014  ada kecenderungan Indeks Pembangunan Manusia di Indonesia membaik di berbagai daerah. 

Di bidang pendidikan, Angka Partisipasi Murni (APM) untuk program wajib belajar 9 tahun dinilai cukup berhasil. Sementara itu, pada tingkat pendidikan menengah setara SMA masih cukup memprihatinkan. Seiring dengan tumbuhnya kekuatan ekonomi baru di luar Pulau Jawa, Sumatera dan Bali yang selama ini menjadi pusatnya yaitu Kalimantan dan Sulawesi, APM di kedua pulau itu juga cenderung membaik. Secara keseluruhan, tantangan terbesar Bangsa Indonesia adalah masih lemahnya faktor kelembagaan yang tak berubah selama empat tahun terakhir. Hal inilah yang menjadi satu dari beberapa sebab daya saing sumber daya manusia (SDM) di Indonesia senantiasa tertinggal dari negara-negara lain di Asia maupun Asean. Yakni masih berada di angka 3 - 4 dalam skala 7.
  
Kualitas institusi sangat mempengaruhi daya saing dan pertumbuhan. Kualitas institusi mempengaruhi keputusan-keputusan investasi dan pengorganisasian produksi, serta memainkan peran kunci terhadap cara-cara masyarakat mendistribusikan keuntungan dan memikul biaya-biaya dari strategi dan kebijakan pembangunan. Lebih jauh lagi, peranan institusi melampaui kerangka legal. Oleh karena itu sikap pemerintah terhadap pasar dan kebebasan serta efisiensi penyelenggaraan pemerintahan juga sangat penting.

Lemahnya faktor kelembagaan tentu saja sangat berpengaruh dalam menentapkan kebijakan pembangunan, khususnya di bidang pendidikan. Selain itu, dalam hal penentuan kebijakan strategi pendidikan yang selama ini memakai pendekatan input, pakar ekonomi dan dosen senior Universitas Indonesia - Faisal Basri- mengungkapkan bahwa strategi atau pendekatan tadi adalah sebagai pertanda adanya sesat pikir pendidikan di tanah air selama ini. Dijelaskan bahwa meningkatnya anggaran pendidikan yang di tahun 2014 mencapai angka Rp 300 triliun hendaknya disertai dengan capaian atau target yang jelas. Karena, pendekatan input yang bertumpu pada faktor sekolah menjadi penyebab utama lemahnya daya saing sumber daya manusia Indonesia. Ke depan, untuk menguatkan rencana menjadikan Indonesia sebagai negara modern dan berdaya saing global, perlu perubahan dalam pembangunan bidang pendidikan dari pendekatan input ke output. 

Disarankan agar pemerintah segera menetapkan variabel dan tolok ukur output pendidikan. Lazimnya, output pendidikan dinilai dari tingkat kemampuan baca (reading literacy rate), pemahaman atas ilmu pengetahuan atau scientific  literacy rate, penguasaan materi matematik ( mathematics  literacy rate ) serta kemampuan memecahkan masalah (problem solving rate). Pendekatan output menempatkan keluarga sebagai faktor yang sangat penting dalam proses pendidikan. Selain itu adalah innate ability dan peers. Yang terakhir adalah school inputs. 

Citra pendidikan di Indonesia memang menjadi cermin carut marutnya kondisi umum manusianya. Banyak hal yang harus direkonstruksi. Tidak hanya bongkar pasang kurikulum yang seolah menjadi satu bahan ejekan "ganti menteri, ganti kebijakan" tapi tak mengubah perilaku. Sementara itu, ada tiga sebab utama runtuhnya pendidikan di Indonesia yang sedikit banyak merupakan masalah krusial ketertinggalan Indonesia dari negara-negara  lain di kawasan Asean dan Asia Oceania.   

Rabu, 29 Januari 2014

Lima Hal Penting Bagi Kehidupan


Bisa kita bayangkan seandainya jari jemari kita berkurang 1 saja, apakah perempuan secantik  ratu sejagad akan tetap memiliki kepercayaan diri yang tinggi seperti di saat ia memenangi kontes itu? Apalagi ia kehilangan lebih dari satu jarinya, tentu akan merasa rendah diri. Begitu juga dengan indera manusia yang biasanya ada 5. Indera perasa, peraba, penciuman, pendengaran dan penglihatan.  Saya tak berani membayangkan kalau kehilangan indera perasa misalnya. Bagaimana dengan anda?


Mungkin tak pernah kita sadari bahwa selalu ada lima hal penting dalam kehidupan. Dalam sehari kita dapat membaginya menjadi 5 waktu. Yakni pagi, siang, sore, malam dan dini hari. Pagi, siang dan sore adalah waktu yang biasa digunakan manusia untuk menjalankan aktivitas umum. Sementara itu, malam dan dini hari adalah waktu pribadi yang biasanya dipakai untuk beristirahat. Dalam hal tertentu, kebiasaan manusia beraktivitas dapat mengikuti putaran waktu. Ada keistimewaan lain dari angka lima, semisal peringkat hotel berbintang, turnamen olahraga professional dan lain-lain.  

Dari semua keistimewaan yang bernilai lima, ternyata jika kita berfikir, merenung dan mensyukuri karunia Ilahi adalah sesuatu yang sebaiknya dilakukan dalam setiap perputaran siang dan malam. Sudah terlalu banyak nikmat Tuhan yang diberikan pada kita hingga tak satupun manusia dapat menghitungnya, tetapi kaum bijak yang alim berpendapat bahwa kenikmatan tertinggi dari manusia adalah:

1. Fitrah (kita difitrahkan sebagai manusia adalah nikmat dari tuhan)
2. Alqliyah ( sebagai manusia dibekali akal)
3. Ihtiariyah ( kemampuan berihtiar)
4. Alamiyah ( alam semesta seisinya)
5. Addin (agama juga merupakan rahmat/ nikmat dari Tuhan)

Bagi masyarakat Indonesia, hal penting yang mengandung lima adalah pandangan hidup atau nilai-nilai dasar kehidupan yang disebut Pancasila. Panca berarti lima dan sila berarti dasar atau filosofi.
  1.    Pertama adalah Ketuhanan yang Mahaesa. Bangsa Indonesia mengakui keesaan Tuhan yang menciptakan alam semesta serta segala isinya.
  2.     Kedua adalah Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Sebagai wujud nyata atas sila pertama, manusia itu harus bersikap adil dan mengutamakan peradaban.
  3.    Ketiga adalah sila Persatuan Indonesia. Karena Indonesia terdiri dari beragam suku, agama, adat istiadat dan pulau, maka asas ini merupakan hal yang sangat mendasar.
  4.  Keempat, Kerakyatan  yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan atau diringkas sebagai demokrasi dalam arti luas.
  5.     Keadilan sosial bagi seluruh masyarakat Indonesia. 

Selasa, 20 Agustus 2013

Diaspora Indonesia - Sukses di Negeri Seberang

Mendagri Suriname-Soewarto Mustadja asal Kebumen

Dalam bagian sambutan pembukaan Kongres Diaspora Indonesia (CID) II di Jakarta Convention Center, Presiden RI, Susilo Bambang Yudoyono menyebut satu nama yang menginspirasi dirinya yaitu Sri Mulyani Indrawati. Sosok yang mengorbit namanya sebagai pengamat ekonomi dan Menteri Keuangan RI pada Kabinet Indonesia Bersatu jilid 1, kini merupakan orang nomor dua di Bank Dunia yang berkantor pusat di Amerika Serikat. Beliau adalah satu-satunya Indonesia yang popularitasnya pernah masuk dalam jajaran 100 perempuan paling berpengaruh di dunia.

Sosok Sri Mulyani yang begitu kokoh dapat dimaklumi karena memiliki garis keturunan dengan pelajar pejuang kemerdekaan bangsa Indonesia pasca Prokalamsi 17 Agustus 1945, yaitu Retno Sriningsih. Secara kebetulan, ibu kandung Sri Mulyani itu adalah pelajar Sekolah Guru Putri Yogyakarta yang bersama almarhum ibu kami mendapat kepercayaan dari sekolah tersebut untuk menjalani pelatihan dasar kemiliteran dan kepalangmerahan diMilitaire Academie (MA) Kotabaru Yogyakarta sekitar Juli 1946 selama dua minggu. Selain itu, ternyata saudara sekandung Retno Sriningsih yakani Retno Triningsih adalah juga peserta pelatihan yang dikhususkan bagi para pelajar setingkat SMP dan SMA yang kemudian dikenal dengan namaTentara Pelajar Brigade 17 TNI tinggal di Australia sebagai diaspora Indonesia.



Cerita sukses Diaspora Indonesia terjadi di berbagai bidang kehidupan dan penjuru dunia internasional. Dalam pelajaran sejarah dunia dijelaskan tentang pengiriman sejumlah besar warga masyarakat etnik Jawa, khususnya dari wilayah yang kita kenal sebagai Provinsi Jawa tengah saat ini ke Suriname. Sebuah daerah atau wilayah yang ketika itu, sekitar tahun 1860 - 1880 belum banyak dikenal dalam pentas dunia. Letaknya ada di Amerika Selatan. Mereka dibawa oleh pemerintah penjajahan Hindia Belanda sebagai budak atau koeli. Siapa sangka bila lebih dari dua abad setelah itu, anak keturunan para budak itu telah menjadi orang yang berkedudukan sangat penting di sana. Yang perlu kita apresiasi adalah semangat hidup dan upaya atau perjuangan mereka sampai mendapat tempat terhormat itu.

Pelajaran besar yang dapat kita petik dari dua tokoh besar dunia itu adalah kegigihan atau semangat juang, kerja keras dan tentu berbekal pendidikan memadai. Mereka berdua telah membuktikan dirinya sebagai pejuang tangguh. Meski didera kasus Century yang selain mengandung aspek hukum yakni tindak pidana korupsi, tapi nuansa politiknya juga sangat kentara. Bank Dunia selaku institusi keuangan internasional tentu saja tidak akan gegagah menarik Sri Mulyani Indrawati ke dalam jajaran pimpinan. Terlalu riskan dan bodoh jika para anggota Dewan Direktur Bank Duni yang sangat mengandalkan kepercayaan masyarakat dunia internasional memaksakan diri merekrut mantan Menteri Keuangan RI itu jika tidak sangat yakin jika seorang Sri Mulyani Indrawati yang negeri asalnya tengah dilanda masalah akut KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme).
Salah satu pendapatnya tentang ketertinggalan pembangunan di Indonesia yang menyebabkan urbanisasi ke pusat (Jakarta) sulit diurai sampai sekarang adalah beban berat gaji PNS (Pegawai Negeri Sipil) di daerah yang porsinya mendominasi sektor pengeluaran dalam APBD. Pernyataan ini tentu bukan tanpa alasan yang sangat kuat. Selama ini, kita tahu bahwa banyak Kabupaten/ Kota yang seolah berjalan di tempat proses pembangunan wilayahnya karena porsi pengeluaran untuk membayar gaji PNS lebih dari 70% seperti di Kabupaten Kebumen dan Klaten Jawa tengah. Kedua daerah itu punya tipe yang relatif sama yaitu tradisional - feodalistik.


Kabupaten Kebumen yang pernah dipimpin Rustriningsih yang disebut-sebut sebagai Srikandi dalam periode kepemimpinannya tak banyak berkembang maju selain para pejabat dan keluarganya. Satu bukti nyata adalah proyek pemindahan RSUD yang terbengkelai sampai sekarang. Sementara itu, untuk membuat satu keputusan yang boleh jadi akan menjadi kebanggaan rakyat Kebumen semisal mengangkat potensi kerajinan anyaman pandan di tiga wilayah kecamatan: Karanganyar, Karanggayam dan Sruweng menjadi produk unggulan daerah sesuai konsep OVOP tak pernah tersentuh. Dan dua pimpinan puncak di Provinsi Jawa Tengah yaitu Gubernur Bibit Waluyo berasal dari Klaten, sementara itu Rustriningsih dari Kebumen. Jargon bali ndeso, mbangun deso (pulang kampung, membangun tanah kelahiran) hanya slogan kosong.
Tulisan ini juga ada di: pakitong.blogdetik.com 

Senin, 12 Agustus 2013

Perjalanan Kebangsaan Indonesia Merdeka (II) - Nasionalisme Relawan PMI

copas status FB Nova Wijaya

Jika kita bertanya kepada kebanyakan remaja Indonesia saat ini tentang mimpinya, mungkin akan diperoleh jawaban ingin menjadi orang kaya, terkenal dan berlimpah pujian seperti gambaran kehidupan para selebriti idolanya. Satu hal yang masih bisa dinilai wajar atau sebaliknya. Wajar karena mereka adalah pewarna utama kehidupan masa depan. Tanpa mimpi atau cita-cita, ibarat berjalan tanpa bekal peta dan rambu-rambu jalan. Melayang tak tentu arah, tabrak kiri-kanan, sruduk depan-belakang dan membahayakan diri serta orang lain. Dengan mimpi, bangsa Amerika Serikat ingin selalu jadi pesohor di segala bidang kehidupan.

Saat menorehkan catatan ini, ada satu hal yang sangat menarik pada status teman relawan muda PMI yang dikenal luas pergaulannya. Foto bertuliskan ekspresi nasionalisme ala gadis 18 tahun. Ketika ia bisa bermimpi, belajar, beraksi, percaya, buktikan dan cinta untuk Indonesia, Nova Dewi Lintang Kusuma Wijaya seolah ingin meyakinkan diri dan banyak orang untuk memahami keindonesiaannya. Meski dibayangi ketidakyakinan atas originalitas ekspresi itu, keberanian mengungkapkan di depan publik layak diapresiasi. Apalagi ada di tengah kegamangan bahwa nasionalisme alias paham kebangsaan Indonesia  kini (seolah)  berada di simpang jalan antara mondialisme dan sektarianisme.

Bermimpi seperti apa atau bagaimanakah Indonesia itu? Tanpa harus berbuat seperti ahli nujum, peramal atau mentalist; saya berusaha membuat gambaran kasar tentang Indonesia yang diimpikannya. Yakni satu bangsa yang warganya saling mengenal, menyapa hangat, bergotong royong dan bekerja keras dalam mewujudkan suasana aman, tentram, damai, bermartabat, maju, adil dan makmur. Selalu hadir saat-saat yang penuh dinamika dan kesetaraan. Indonesia yang memberi ruang luas untuk mengekspresikan beragam sisi kemanusiaan para warganya. Terus bergerak maju dalam menggapai puncak-puncak prestasi lokal, nasional maupun global tanpa perbedaan gender, status sosial dan sebagainya. Memanusiakan manusia sesuai fitrahnya sebagai mahluk dan pemimpin dunia.

Kesadaran bahwa manusia adalah mahluk yang paling mulia, berbekal akal untuk belajar mengenal diri dan lingkungan sekitar. Satu proses pembelajaran sepanjang hayat di kandung badan dan berlandaskan nurani agar saling mengasihi, tolong menolong dalam kebaikan serta membawa manfaat seluas samudera, sedalam lautan dan buat seluruh isi alam semesta. Sejarah untuk bercermin dan ilmu pengetahuan serta teknologi untuk bergerak maju. Indonesia yang terus belajar dari pengalaman agar kehidupan dapat terus berjalan dan kesaksian ditegakkan. Indonesia yang berwarna warni tapi tetap merah putih di setiap ujungnya. Manusia Indonesia yang saling menerangi kehidupan dan penghidupan. Bukan hanya belajar dari dan tentang kegelapan nurani yang banyak menghias keseharian akhir-akhir ini.

Belajar memaknai kebangsaan Indonesia yang sesungguhnya, dalam beragam warna dan rupa kehidupan. Mungkin juga untuk memuaskan rasa ingin tahu, mengapa Indonesia yang begitu kaya bak jamrud di katulistiwa masih banyak penduduknya yang fakir dan miskin harta benda, pengetahuan dan terutama mentalitasnya. Apa yang salah dan bagaimana cara memperbaiki? Dan belajar dari kehidupan adalah aksi, bukan sekadar teori atau omong kosong. Apalagi provokasi. Dengan belajar terus menerus untuk beragam pengetahuan dan pengalaman, aksi itu akan mendorong munculnya kreativitas dan inovasi. Proses pembaruan terus menerus tak kenal lelah serta batas ruang dan waktu dengan tetap berarah pada tujuan, cita-cita atau mimpi itu. Mimpi Indonesia (Indonesian Dream) sebagai manusia (bangsa) yang beradab dan bermartabat. Inilah ekspresi diri dan berharap juga menjadi ekspresi masyarakat luas.

Ekspresi diri seorang Relawan PMI yang senantiasa berlatih (pada kehidupan) dan memperbarui pengetahuan dan pengalaman agar memiliki kesempatan cukup untuk mewujudkan mimpi Indonesia itu. Luasnya lapangan pengabdian diri pada kemanusiaan universal sejatinya tidak menjadi faktor penghalang dan mengeliminasi nilai-nilai kebangsaannya. Justru sebaliknya, merupakan kekuatan pendorong dalam menjalankan aksi-aksinya bagi keluarga besar Indonesia. Karena berbekal kepekaan nurani yang terasah dalam menjalankan tugas dan kewajiban kemanusiaannya. Inilah hal mendasar bagi upaya memelihara martabat dan peradaban manusia yang sangat mungkin tidak dimiliki para relawan politisi yang banyak bermunculan di musim kampanye politik. Karena hakikat relawan itu bukan profesi, tapi ladang amal yang harus dipelihara dengan ilmu dan aksi (karya nyata) bagi masyarakat.


Dengan pemahaman tadi, sikap terbaik untuk menyatakan kecintaan kepada tanah air dan bangsa Indonesia dilandasi kepercayaan bahwa di sinilah kita hidup dan wajib menjunjung tinggi peradaban serta martabat manusianya. Dengan menjadi relawan kemanusiaan pada perhimpunan nasional kepalangmerahan Indonesia (PMI) kepercayaan itu hadir secara utuh. Berbakti pada ibu pertiwi dibuktikan dengan karya nyata di ladang amal kemanusiaan dalam beragam situasi. Ketika situasi aman, kita belajar dan berkarya nyata. Apalagi dalam suasana darurat kebencanaan, baik karena faktor alam maupun perilaku manusia yang tidak menghargai peradaban dan martabat manusia pada umumnya.

Semoga pemaparan pada catatan saya ini tidak keliru tafsir dalam memaknai kecintaan kita kepada tanah air dan bangsa Indonesia seperti dinyatakan Nova dalam status facebook-nya di atas. Ekpresi yang sarat pesan moral dan bahan pembelajaran. Jika ini adalah hasil perenungan sepanjang Ramadhan kemarin, berbahagialah dirinya mampu menggapai makna fitri . Dirgahayu Kemerdekaan Bangsa Indonesia  dan Palang Merah Indonesia ke 68.  

Selasa, 06 Agustus 2013

Gambaran Besar Sejarah Indonesia (IAF2013 teaser)


Sebuah upaya yang sangat layak diapresiasi. Banyak yang telah melupakan karena inferioritas di dalam negeri. Sementara itu, karya ini justru muncul dari suatu eksplorasi jiwa kebangsaan orang-orang Indonesia yang ada di manca negara untuk memberi gambaran kepada seluruh masyarakat dunia tentang Indonesia dan keindonesiaannya. Meski ada kekurangan, karya edukatif ini sangat layak disebarluaskan untuk generasi masa depan Indonesia yang tengah gamang dengan diri dan tanah airnya. Salut.


Beberapa hal penting lainnya bisa disimak di sini. 

Kamis, 01 Agustus 2013

CID II: Peristiwa Akbar Yang Minim Publikasi (II)


Apakah sepinya publikasi tentang Kongres II Diaspora Indonesia (CID II) di Kampung Halaman adalah ekspresi sinisme publik seperti yang ditengara oleh penggagas, Dr. Dino Pati Jalal? Tidak mudah untuk mendapat jawaban pasti. Hal yang sama juga berlaku untuk menelusur ke sumber di lingkungan IDN (Jejaring Diaspora Indonesia). Dari sejumlah berita yang dapat dikumpulkan dari internet,  di saat banyak orang menyatakan ketidakyakinan diri (pesimis) dan masa bodoh atas kenyataan hidup yang tengah berjalan di dalam negeri, Diaspora Indonesia justru menggagas dan menyusun rencana aksi untuk berbuat terbaik bagi negeri leluhur, kampung halaman dan tanah airnya, Indonesia.

Munculnya sinisme publik atas beragam faktor aktual di dalam negeri boleh jadi merupakan satu dari sekian banyak alasan para diaspora Indonesia menyelenggarakan Kongres I di Los Angeles, Amerika Serikat. Dari video yang ditayangkan di Youtube, CID I dibuka dengan lagu Bagimu Negeri oleh anak perempuan Broery Pesolima. Kesan yang dapat ditangkap dari peristiwa ini adalah adanya kerinduan mendalam dari para diaspora Indonesia kepada tanah air, tanah leluhur, tanah tumpah darah dan bumi pertiwi, Indonesia Raya. Beberapa peserta nampak tak mampu menahan rasa dan meneteskan air mata haru.

Peristiwa yang nampak sekilas tadi jelas bukan satu kebetulan atau kepura-puraan yang sering kali kita lihat di berbagai arena formal, terutama yang diselenggarakan oleh lembaga-lembaga pemerintahan di dalam negeri. Jika di sini nasionalisme nyaris kehilangan roh-nya, di belahan dunia lain justru sebaliknya. Hal ini sangat jelas dari pernyataan Duta Besar Afrika Selatan di Amerika Serikat yang tanpa ragu menyebut dirinya anak keturunan Bugis, Ebrahim Rasool. Dengan gaya khas elegan, dengan sangat lancar, beliau bercerita penuh rasa bangga sebagai orang yang punya kaitan batin dengan Indonesia. “We are diaspora...but Indonesia !!!”. Satu hal yang acapkali tak bermakna ketika diucapkan oleh orang-orang yang punya jabatan setara atau lebih rendah dengan beliau di dalam negeri.

Keunggulan para diaspora Indonesia bukan hanya karena potensi kepemilikan aset yang sangat luar biasa. Mereka, terutama yang masih berkewarga-negaraan Indonesia maupun yang telah menjadi WNA karena faktor perkawinan atau jadi korban politik sektarian dalam negeri, menyatakan diri ingin pulang kampung. Dari penggunaan istilah saja kita tahu betapa keterikatan emosional yang mereka pendam lama seolah ingin ditumpahkan ketika tiba di kampung halaman, tanah leluhur, tanah air dan tanah tumpah darahnya, Indonesia. Melepas rindu pasti, tapi menyambung tali silaturahmi  adalah alasan dasar kemanusiaan yang lazim terhadi dan dialami kebanyakan orang yang telah lama terpisah.

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa kepemilikan aset meraka yang luar biasa itu bersumber dari kekuatan otak (brain power) yang dimiliki. Boleh jadi, di balik kapasitas intelektual dan profesional mereka yang luar biasa dan mampu mengungguli prestasi banyak orang yang dipuja puji di dalam negeri, khususnya orang Amerika Serikat yang banyak didaulat sebagai idola atau pahlawan, dengan cara dan keunggulan pribadi masing-masing, mereka masih memiliki perhatian dan kepedulian besar pada tanah leluhur, tanah air dan kampung halamannya yang kini tengah dilanda banyak masalah besar yang membelit. Para diaspora Indonesia yang secara mental telah lolos uji mampu berkompetisi di tingkat global itu sangat perlu kita serap ilmu dan pengalamannya untuk memperbaiki mentalitas Bangsa Indonesia saat ini yang tengah berada di simpang jalan menuju keterpurukan.

Kembali ke masalah sinisme publik yang menggejala adalah buah praktik politik yang tak berkeadabaan. Saling mengejek tanpa rasa malu dan ragu di depan publik. Seolah tiada lagi orang memperhatikan tabiat buruk itu muncul di panggung yang semestinya mencerminkan sikap negarawan atau negarawati yang senantiasa memberi teladan kebaikan dan kebajikan. Ketika mereka terjerat kasus hukum, yang mengemuka adalah tindak antara korupsi dan asusila. Dua di antara banyak kasus yang berkait erat dengan lemahnya mentalitas. Seperti kata pepatah “ buruk muka, cermin si belah” atau “lempar batu, sembunyi tangan”. Pengecut, sebutan yang paling pas untuk itu.

Sebagai perantau, mental diaspora akan diuji tidak hanya sebagai pribadi. Mereka juga membawa suasana sosial dan budaya yang mengemuka. Jika di negeri asalnya tengah dilanda kemerosotan mental, mereka harus memiliki kemampuan yang jauh lebih besar untuk memberi keyakinan kepada orang-orang di sekitarnya bahwa ia tak terpengaruh oleh suasana itu. Ketika lolos uji artinya ia membawa beban yang sama berat dan mampu diatasi. Kejadian semacam ini bisa terjadi di manapun dan kapanpun.

Keunggulan para diaspora di sisi kualitas sumber daya manusia adalah perpaduan mantap antara kemampuan otak dan mental juara. Seorang juara sejati akan selalu memelihara kapasitas pribadinya di segala arena. Dan kemampuan itu dibuktikan di luar kandang dengan hasil gemilang. Karena itu, ketika mereka ingin membuktikannya di kampung halaman, selayak-nya diapresiasi secara obyektif. Tidak selalu jadi idola atau pahlawan, tapi bukan pengecut atau pecundang yang selalu berkelit dari tanggung jawab pribadi.

Dengan banyaknya keunggulan yang telah mereka buktikan di luar kampung, tidak sepantasnya kita tidak memberi aprasiasi tinggi dan menyambut kedatangan mereka dengan suka cita. Apapun yang akan mereka lakukan pada Kongres Diaspora Indonesia II di kampung halaman Indonesia, telah banyak karya nyata yang telah mereka sumbangkan kepada bangsa, negara dan tanah air Indonesia. Meski tanpa publikasi yang memadai, potensi besar mereka jauh lebih berharga dari pada iklan para politisi yang menghabiskan banyak dana dan kurang bermanfaat di saat banyak warga bangsa ini terbelit kesulitan hidup layak bagi kemanusiaannya.

Selamat Datang di Kampung Halaman Indonesia. Semoga niat baik anda tak berkurang karena sedikitnya penghargaan di sini, di saat banyak orang tak lagi peduli kepada orang lain. Ketika banyak orang terlalu asyik dengan diri dan kepentingan sendiri. Autisme sosial yang menggejala dan menutup ruang-ruang kegotong-royongan yang telah membuat negeri Indonesia merdeka dari penjajahan asing. Selamat ber-kongres, kami menantikan karya terbaik anda semua untuk Indonesia Raya. Selamat dan sukses, amien.    

Senin, 29 Juli 2013

CID II: Peristiwa Akbar Yang Minim Publikasi (I)


Pulang kampung atau mudik adalah satu dari beragam tradisi orang Indonesia di saat merayakan hari raya, terutama hari-hari besar keagamaan. Karena secara statistik kebanyakan orang Indonesia adalah muslim, ada dua hari raya yang biasa menjadi agenda penting masyarakat yaitu Idul Fitri atau Lebaran dan Idul Adha yang popular disebut Besar atau hari raya qurban. Dari keduanya, kecenderungan umum melakukan perjalanan pulang kampung adalah di kala Idul Fitri.

Tradisi Lebaran selalu menarik perhatian karena melibatkan banyak sekali pihak dan perputaran uang yang dapat mencapai nilai triliunan rupiah. Dari soal sarana dan prasarana transportasi, keamanan lingkungan, para pengusaha yang menyiapkan Tunjangan Hari Raya, pedagang asongan, keluarga di kampung sampai pemerintah daerah yang menjadi tujuan para pemudik dan banyak pihak lainnya punya peran masing-masing. Pada umumnya, semua pihak tersebut menyambut peristiwa ini dengan suka cita.

Tahun 2013 ini, peristiwa mudik nasional ada yang cukup istimewa. Yakni kedatangan atau mungkin juga kepulangan sejumlah orang perantau Indonesia dari berbagai negara di seluruh penjuru dunia ke kampung halaman, Indonesia Raya. Mereka adalah para diaspora. Orang-orang yang memiliki keterikatan batin dengan budaya dan kehidupan di kampung halaman. Sekitar 2.000 orang dari 8 – 10 juta orang diaspora Indonesia akan mengikuti satu acara yang diberi nama “Pulang Kampung” untuk menamai Kongres II Diaspora Indonesia (2nd  Congress of Indonesia Diaspora atau CID) di Jakarta Convention Center, 18 – 20 Agustus 2013.  Penamaan yang sangat tepat dengan suasana keindonesiaan saat itu. Yakni musim mudik massal Idul Fitri 1434H dan di tengah perayaan umum Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ke 68.

Menurut penuturan President of Diaspora Indonesia, Mohammad Al-Arif, Diaspora Indonesia memiliki tiga kategori. Mereka adalah Warga Negara Indonesia (WNI) yang bertempat tinggal di negara lain, WNI yang telah menjadi Warga Negara Asing (WNA), dan warga negara asing tetapi memiliki afinitas untuk Indonesia. Selanjutnya ditambahkan pula bahwa ada lima pilar dalam organisasi yang dipimpinnya, Indonesia Diaspora Network (Jejaring Diaspora Indonesia) atau IDN yang disepakati peserta CID I di Los Angeles, Amerika Serikat Juli 2012. Yaitu sektor bisnis dan investasi, kegiatan sosial, pertukaran pelajar, advokasi kebijakan dan  jejaring profesi (profesional networking). Entah sebagai satu kesadaran atau suatu kebetulan, lima pilar tersebut menyerupai dasar negara Republik Indonesia, Pancasila.

Besarnya potensi, perhatian dan kesadaran yang dimiliki para diaspora Indonesia itu tidak serta merta mendapat sambutan positif di tanah air. Hal ini dapat dicermati dari sedikitnya publikasi acara yang seolah tertelan kemeriahan tradisi mudik lokal yang setiap tahun selalu dilirik dan menjadi perhatian penting media massa. Sampai saat tulisan ini dibuat, belum nampak adanya iklan dan bentuk-bentuk publikasi akbar yang menunjukkan betapa besar dan pentingnya CID II itu. Hanya publikasi internal di situs :  diaspora indonesia dan Kementrian Luar Negeri RI di sini yang telah memasangnya. Jika ada media massa nasional yang mengangkat berita seputar acara Pulang Kampung ini, sifatnya publikasi biasa dan berkesan dikemas seadanya.


Minimnya sambutan publik atas peristiwa yang sangat bersejarah di tengah kemerosotan derajat kepercayaan masyarakat terhadap organisasi-organisasi formal, IDN dengan CID II-nya adalah satu peluang besar, kalau tidak dapat disebut raksasa di awal abad 21. Sebagai gambaran kecil, ketika sebagian besar diaspora Indonesia di Amerika Serikat (AS) rata-rata memiliki pendapatan/kapita/tahun sebesar US$ 59,000 ; Income/Capita penduduk AS tercatat pada tingkat US$ 45,000. Sementara itu, Menko Ekuin, Hatta Radjasa menyebut angka US$ 4,000 untuk pendapatan per kapita Indonesia di tahun 2013.